
Alice mencoba mengatur nafasnya, ia juga mencoba memberanikan diri untuk menatap pria di hadapannya. Kemudian ia mengangguk pelan seraya tersenyum. Melihat jawaban yang diberikan dari gadis di hadapannya, sungguh membuat Nick bahagia, dan langsung membuatnya menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
•••
Empat hari berlalu, dan Sharon tak berjumpa dengan Charles selama itu. Pria itu bahkan tidak menepati janjinya, janji yang dia buat bahwa dia akan menjemputnya untuk bekerja. Jemputan memang ada, namun bukan Charles yang datang, melainkan asistennya, Key.
Ketika di hubungi, pria itu selalu menjawab jika dirinya tengah berada di luar kota untuk tugas bersama dengan client, dan Key pun menjelaskan hal yang sama. Itu sungguh membosankan untuknya. Namun, ia tetap menjaga tanggung jawab posisinya saat ini.
Ketika ada meeting di dalam kantor, Key meminta Sharon untuk ikut serta menghadirinya, agar bisa membantu mengambil keputusan, dan juga sebagai telinga Charles.
Di saat tengah sibuk mengerjakan berkas-berkas yang harus di tanda tangani, ponselnya berbunyi, menyadari hal itu membuat Sharon mengembangkan senyumannya, dan segera menerima panggilan tersebut.
"Apa kau sudah kembali?" Ungkapnya dengan nada yang sumringah.
"Aku rasa kau begitu merindukanku, ya?"
"Tentu saja. Apa kau tidak merasakan hal yang sama, Charles?" Kini Sharon terdengar begitu kecewa ketika mendengar yang di ucapkan oleh orang di seberang sana.
"Jika bisa di bandingkan, mungkin rasa rinduku akan jauh lebih besar dari rasa rindu yang kau rasakan saat ini. Tapi, maafkan aku karena aku masih belum bisa kembali. Meski begitu aku berjanji jika akan kembali dalam minggu ini."
"Kabari aku jika kau akan kembali." Pintanya.
"Baiklah. Tolong jaga kantorku dengan baik! Jangan sampai kau menghancurkannya, ya!" Charles terkekeh ketika mengucapkannya. "Baiklah aku tutup dulu, sampai jumpa." Lalu, ia pun mengakhiri panggilannya.
Ketika menutup panggilan tersebut, Charles sedikit mendesah, dan segera menyimpan kembali ponselnya di atas nakas meja kamarnya. Yah, dengan terpaksa ia harus kembali membohongi Sharon, ia melakukan hal itu demi menyembunyikkan penyakitnya.
Terkadang, ingin rasanya ia memberitahu semuanya pada Sharon. Namun, egonya melarang dirinya untuk melakukan hal tersebut. Ketika hendak menceritakannya, rasa takut dari segala kemungkinan selalu muncul dalam benaknya, dan ia sungguh tidak berani untuk mengambil semua resiko itu.
Di tinggalkan, di benci. Itu lah yang selalu ia takutkan jika Sharon tahu tentang penyakitnya. Namun, akan semakin tidak baik lagi jika gadis itu harus mendengarnya dari orang lain.
"Jadi, apa keputusanmu?" Charlie menyeletuk seraya menyilangkan kedua tangannya. "Mau sampai kapan kau menyembunyikan semua ini darinya? Sampai kau benar-benar tidak memiliki kesempatan? Haruskah aku memberikan surat itu padanya sekarang saja?" Lanjutnya dengan kesal.
"Termasuk ketika dia menjauhi diri darimu? Kau yakin dapat menerima hal itu?" Sahut Charlie, dan Charles terdengar mendengus kesal dengan ucapan saudaranya.
"Jika itu yang terbaik, dan ia mendapatkan yang terbaik, aku akan merelakannya."
"Kenapa nasib gadis itu malang sekali. Pertama Kent, dan sekarang kau."
"Bukan dia yang malang. Namun, aku, dan Kent lah yang malang. Dapat di katakan jika aku lah yang lebih malang."
"Meski begitu aku sangat yakin jika kau akan baik-baik saja, kak. Entah apa yang akan terjadi padaku, dan ayah jika tidak ada dirimu."
"Aku mengharapkan hal yang sama. Dengan begitu, aku tetap bisa bersama dengan kalian semua."
"Aku senang mendengar ucapanmu sekarang. Tetap bertahan, dan jangan berputus asa." Gumam Charlie seraya tersenyum.
Hari kembali berganti, dan seperti biasa, Key sudah datang untuk menjemput Sharon di villa milik keluarga Sworth. Melihat hal yang di lakukan oleh Key membuat Sharon sedikit tidak nyaman.
Dia hanya tidak terbiasa dengan hal tersebut. Key tidak seharusnya menjemputnya terus menerus, dia tidak ingin merepotkan orang lain. Sudah berulang kali ia mengatakannya, namun Key hanya menurut dengan perintah Charles, dan Key tidak ingin mengambil resiko.
Setibanya di kantor, Sharon segera menuju ruangannya. Kemudian, langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya, dan memberikan selembaran kertas kepadanya.
"Siapa yang mengirim ini?" Sahut Sharon kepada orang di hadapannya.
"Maaf nona, aku hanya di minta untuk memberikan ini saja padamu. Dia melarangku untuk memberitahumu mengenai identitasnya."
"Jadi begitu. Baiklah, terima kasih." Gumam Sharon seraya tersenyum ke arahnya.
"Itulah gadis yang ku kenal. Selalu ramah terhadap siapa pun, dan aku sangat tak sabar bertemu denganmu, Sharon Hwang." Orang itu menggerutu dengan sebuah senyuman seraya menatap Sharon dari kejauhan.
Bersambung ...