My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 100



Hari itu datang. Hari dimana pernikahan berlangsung, dan Charles terlihat tampan ketika menggunakan tuxedo yang dibalut dengan sebuah jas hitam. Pernikahan di lakukan di ruangan dimana Sharon di rawat, di sana pun terlihat Kent, Natasha, Nick, Alice beserta keluarga Sworth, dan juga beberapa dokter serta perawat.


Para perawat disana saling berbisik, dan sebagian dari mereka sungguh merasa iri pada Sharon. Gadis itu begitu beruntung karena memiliki pria yang benar-benar mencintainya, begitulah fikir mereka. Keluarga Sworth sangatlah terkejut ketika mendengar kabar Sharon dari Nick, namun mereka sedikit lega karena Sharon memiliki orang seperti Charles di sisinya.


Charles menggenggam erat tangan gadis yang tengah terbaring lemah di atas ranjang, kemudian ia mengangkat satu tangannya seraya mengucapkan janjinya dengan memandangi wajah gadis tersebut. Melihat hal itu membuat Alice menitikkan air matanya, lalu Nick segera mendekapnya.


Setelah janji terucap, Charles memasangkan cincin di jemari Sharon, kemudian ia mencium keningnya dengan begitu lembut. Mengingat kondisi Sharon yang masih belum stabil, acara pun selesai dengan cepat, dan mereka yang menghadiri upacara itu pun kembali pada kegiatannya masing-masing.


"Dia sudah menjadi milikmu seutuhnya, Charles. Satu pesanku untukmu, jaga dia dengan nyawamu, sama seperti apa yang dia lakukan untukmu kali ini!" Sahut Kent yang menepuk bahu Charles.


"Ketika dia sadar nanti, dan kau berani membuatnya menangis. Saat itu juga aku akan membawanya pergi sejauh mungkin darimu." Sambar Nick dengan tatapan tajamnya.


"Nak, kau sudah mendapatkannya! Cepatlah sadar, dan berbahagialah dengannya." Gumam Bella Sworth selaku neneknya.


"Aku telah memenuhi permintaanmu untuk berada di sini hingga acara berlangsung. Maka, dengan berat hati, malam ini aku harus kembali ke Bern untuk...


"... aku mengerti. Terima kasih karena telah menjaganya beberapa waktu lalu. Aku harap, aku bisa menghadiri acara bahagiamu itu, tentunya bersama dengan dirinya." Ungkap Charles dengan senyum tipisnya.


"Tentu saja kalian harus datang. Sharon, dengar! Jika kau tidak datang ke pernikahanku nanti, aku akan marah padamu, dan aku akan berhenti untuk mengenalmu." Sahut Kent dengan nada kesalnya, meski sebenarnya ia tahu jika lawan bicaranya tidak akan merespon ucapannya.


"Kau dengar itu? Maka, cepatlah sadar, dan kembali padaku!"


Lalu, mereka pun pamit untuk kembali. Kent serta Natasha pergi untuk bersiap, sedangkan Nick dengan Alice kembali untuk bekerja, begitu pun dengan Charlie. Baik keluarga Sworth yang lainnya, dan Bill Austin pun meninggalkan mereka untuk memberi ruang pada keduanya.


Masih tersisa satu orang disana, dan ia masih tetap diam memandangi Charles dengan Sharon. Orang itu selalu kagum pada pria di hadapannya, itulah alasan mengapa dia masih bersama dengannya apapun yang terjadi.


"Key! Apa kau masih memiliki perlu padaku? Apa kantor baik-baik saja selama aku tidak ada?" Gumam Charles yang masih memandangi wajah istrinya.


"Sebenarnya ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani. Tapi, hal itu bisa di tunda. Mengenai kantor, anda tidak perlu khawatir, tuan Charlie menghandlenya dengan baik. Apa yang ingin tuan dengar lagi dariku?"


"Ah, jika begitu, bisakah kau katakan sesuatu padaku? Katakan sesuatu tentangnya." Ucapnya dengan nada yang terdengar sedikit lirih.


"Maksudku, apa saja yang dia lakukan ketika aku tidak ada di sampingnya. Apa dia pernah merasa membenciku ketika Charlie bersandiwara di depannya? Bagaimana reaksinya mengenai hal itu?"


"Nona Hwang terus mencari tahu kebenarannya. Dia selalu percaya jika kau hanya bergurau tentang hal itu. Namun, ketika dia melihat tuan Charlie bersandiwara sebagai dirimu, dan melamar seorang gadis di hadapannya, dia sungguh terpukul akan hal tersebut."


"Lalu, apa lagi yang terjadi? Dia pasti berfikir jika semua orang yang memiliki kekuasan itu sama." Tuturnya seraya terkekeh. "Tapi, apa dia membenciku setelah itu?" Sambungnya lagi.


"Setelah itu, dia memutuskan untuk keluar dari Austin Grup agar mampu melupakan anda. Menurutnya, tidak baik jika ia harus menyimpan perasaan pada seseorang yang akan menikah. Tidak ada sorotan kebencian meski anda sudah membuatnya terluka, ketika menyerahkan surat resign, aku rasa dia bukan hanya menyerahkan surat keterangan itu. Dia memberikan sejumlah uang bersamaan dengan secarik kertas yang tersimpan dalam amplop."


"Mengenai uang itu, Charlie sudah memberikannya padaku. Namun, mengenai soal amplop lainnya, aku belum menerima itu dari Charlie. Aku yakin sekali, jika isinya pasti adalah cacian untukku karena telah mempermainkannya." Imbuhnya lagi seraya terkekeh.


Di balik tawanya, Charles menahan air matanya agar tidak menangis. Meski berat, dan pilu yang ia rasakan, dirinya berfikir jika dirinya adalah seorang pria. Bukan karena pria tidak boleh menangis, namun dirinya hanya tidak ingin menunjukkan itu di hadapan istrinya kali ini.


"Tuan Charles, aku akan kembali ke kantor sekarang. Seperti biasa, jika tuan membutuhkan sesuatu, tuan bisa menghubungiku." Tutur Key.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?" Posisinya masih tidak berubah seperti sebelumnya.


"Maaf?" Sahut Key dengan penuh kebingungan.


"Ketika aku menghubungimu, apa kau akan menerima langsung panggilanku? Yakin jika tidak akan mengabaikannya, dan tidak meminta uang tambahan untuk pekerjaan yang ku berikan di luar kantor?" Kini, Charles menatap asistennya dengan tawa kecilnya.


"Jika di luar kantor, tentu saja tuan Charles harus memberikan dana tambahan untukku. Karena itu terhitung job yang berbeda, dan tentu pembayarannya pun berbeda." Imbuh Key dengan rasa percaya dirinya, dan Charles terkekeh mendengar penuturan asistennya itu.


"Baiklah. Segera kembali bekerja! Hubungi aku ketika kau tiba di kantor! Jika dalam waktu 15 menit kau belum tiba, dan tidak menghubungiku. Maka, aku akan..."


"... aku tidak akan membiarkan tuan Charles memangkas gajiku kali ini. Aku pergi sekarang, permisi." Sambar Key yang langsung berlari meninggalkan ruangan tersebut, dan Charles hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah asistennya.


Bersambung ...