
Charles yang sudah tiba di London begitu gusar saat berada di hotel. Charlie yang tengah di kamar saudaranya itu pun kebingungan ketika melihat Charles gelisah.
Kemudian, ia menghampirinya, dan merangkulnya secara tiba-tiba. Hal tersebut langsung membuat Charles terkejut, hampir saja ponselnya terlempar akibat kejutan saudaranya itu.
"Sejak tadi aku menghubunginya, tapi tidak tersambung." Charles meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Mungkin dia sudah bosan denganmu." Bisikkan Charlie itu membuat Charles begitu geram, dan sebuah jitakkan mendarat di atas kepalanya.
"Keluar kau dari kamarku." Ujarnya seraya menyeret adiknya keluar.
Di waktu yang bersamaan, Sharon membanting tubuhnya di atas ranjang. Tak lama dari itu, ia menyambar tasnya, dan mengambil ponselnya dari dalam sana.
"Astaga, habis baterai ternyata." Gerutunya yang langsung menchargernya. Ketika itu, Sharon menyalakannya, kemudian meninggalkannya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu.
Tidak menyerah, Charles kembali menghubunginya. Kali ini nomornya dapat di hubungi, namun tidak ada jawaban sama sekali darinya, dan hal itu membuatnya lebih resah lagi dari sebelumnya.
Selang 30 menit ia mencobanya lagi, dan berharap kali ini akan mendapat jawaban darinya. Karena jika tidak, entah apa yang akan ia fikirkan.
"Charles? Kau sudah tiba ya?" Suara gadis di seberang sana mampu menyadarkan lamunannya, dan itu membuat Charles begitu terkejut ketika mendengarnya.
"Hey, apa yang kau lakukan? Kenapa sulit sekali di hubungi? Apa posisiku sudah mulai tergeser?"
"Mana mungkin? Ponselku mati, maafkan aku."
"Kau sungguh membuatku khawatir. Jika saja kau tidak menerima panggilanku ini, mungkin aku akan kembali saat ini juga, dan memastikan jika kau masih tetap milikku."
"Ha Ha Ha. Kau tidak perlu khawatir, aku akan tetap menjadi milikmu."
"Aku mempercayaimu. Yasudah, kau harus istirahat, kau pasti lelah bukan?" Ucapan Charles terdengar begitu lembut.
"Baiklah. Kau baik-baik disana. Aku akan sangat merindukanmu."
•••
Hari telah berganti, dan pagi itu Kent sudah berada di rumah Sharon menyiapkan sebuah sarapan disana. Mencium aroma makanan, membuat Sharon membuka matanya, dan langsung keluar dari kamarnya.
Kehadiran Kent sungguh membuatnya begitu terkejut. Bagaimana mungkin pria itu dapat masuk ke dalam rumahnya? Seingatnya, ia sudah mengunci pintu rumahnya sesaat sebelum ia tidur.
"Pusingnya nanti saja. Sebaiknya cepat sarapan." Kent menyeru ketika sadar bahwa gadis itu tengah berdiri kebingungan.
Beberapa menit kemudian, Sharon kembali, dan memakan sarapan yang sudah di buatkan oleh Kent. Selama sarapan, ia terus memutar otaknya, dan memikirkan bagaimana cara pria itu masuk kedalam. Jika Charles tahu hal ini, ia pasti akan sangat marah, dan melempar Kent keluar.
"Aku tahu kau tengah memikirkannya. Tapi tidak penting bagaimana caraku masuk, hal itu sangat mudah ku lakukan. Sebaiknya cepat habiskan, dan aku akan mengajakmu menuju tempat yang indah hari ini."
Benar, ia sudah berjanji jika akan menghabiskan waktu bersama dengannya sampai pria itu kembali ke Bern. Besok adalah hari terakhirnya, dan ia berharap jika Kent bisa merasa lega.
Wajah pria itu tampak tenang, meski sebenarnya semua itu tak sama dengan apa yang tengah di rasakan oleh hatinya saat ini. Bagaimana pun, keduanya sudah kenal begitu lama, dan keduanya pun sudah saling mengerti akan perasaannya satu sama lain.
Sudah menyelesaikan sarapannya, mereka segera bergegas. Kent membawa mobilnya menuju sebuah stasiun, mereka akan melajutkan perjalanan menggunakan kereta kali ini.
"Kau baik-baik saja?" Gumam Sharon menatap pria di hadapannya.
"Bersamamu, aku selalu merasa baik." Kent membenarkan letak syal yang digunakan oleh Sharon seraya tersenyum. "Tidak perlu khawatirkan hal lain. Anggap tidak terjadi apapun, dan tetaplah fokus bersenang-senang. Izinkan aku untuk melupakannya meski sejenak." Sambungnya lagi.
Dalam perjalanan, Kent terus menatap keluar jendela kereta. Sharon yang duduk di hadapannya itu pun hanya menghela nafasnya. Entah kenapa ia merasa begitu tidak tega melihatnya kali ini.
Pria yang selalu tersenyum bahagia, yang selalu memanjakannya, dan selalu bertingkah konyol di hadapannya dulu seakan sirna saat melihat raut wajahnya kali ini.
"Saat ini anda telah tiba di staisun Lucerne. Sebelum turun silahkan periksa kembali barang bawaan anda, terima kasih." Pemberitahuan tersebut menyadarkan Kent dari lamunannya, dan langsung membangkitkan senyumannya.
Tangannya menarik tangan Sharon untuk segera keluar dari kereta. Mereka langsung menuju danau Lucerne, dan segera menaiki kapal untuk menjelajahi danau indah tersebut.
"Ini sangat indah, Kent." Sharon terlihat begitu senang ketika melihat pemandangan yang begitu indah disana.
Melihat senyuman di wajah gadis itu, membuat hati Kent terasa begitu tenang. Senyuman itu selalu membuatnya terhanyut ke dalam kenangan-kenangan indah bersamanya.
Lalu, ia menarik tangan Sharon untuk mendekat ke sisinya. Kent melingkarkan satu tangannya di pinggang gadis itu, dan mengambil satu foto bersama dengannya.
"Setelah ini kita akan menaiki boat untuk menuju Alpnachstad."
"Mau apa disana?" Sharon menatap Kent penuh tanya.
"Aku pastikan jika kau pasti akan menyukainya." Balasnya seraya mengacak-ngacak letak rambut Sharon
Bersambung ...