
Dengan terpaksa Sharon masuk, dan duduk disana. Seorang pelayan menghampiri keduanya, dan membawakan menu untuk mereka. Melihat menu yang begitu banyak, membuat Sharon kebingungan melihatnya.
Charles memesan 2 porsi beef steak, 2 dessert, dan 2 minuman yang sama. Kemudian, ia pun menarik buku menu yang tengah di genggam Sharon, dan memberikannya pada pelayan seraya tersenyum.
Keringat di wajah Charles kembali bercucuran, dan Sharon yang menyadari hal tersebut pun langsung menyekanya. Bukan hanya keringat, ia juga terlihat pucat, dan itu sungguh membuatnya khawatir.
"Aku baik-baik saja. Kau tenang saja, aku akan ke toilet sebentar." Pungkas Charles yang segera meninggalkan Sharon disana.
Tidak menuju toilet, melainkan pergi menuju dapur. Charles menemui salah satu orang disana, dan mereka yang berada di dapur sangat terkejut melihat kedatangannya.
"Tuan Charles? Kenapa harus sampai datang kesini? Anda bisa memanggil kami, dan kami akan datang."
"Jeff, berikan satu cheese fondue lagi untuk pesanan kami, dan sebaiknya bersikaplah seperti pelayan, dan pelanggan. Aku tidak ingin gadis yang datang bersamaku tahu mengenai identitasku."
"Baik tuan. Maaf, apa anda sedang kurang sehat? Wajah anda begitu pucat."
"Aku baik-baik saja. Jika begitu aku segera keluar."
Charles telah kembali ke mejanya, dan pesanan mereka pun tiba. Sharon yang tidak mengerti bagaimana cara menggunakan semua peralatan itu pun hanya terdiam seraya memandanginya.
Menyadari hal tersebut, Charles menukar piring steaknya yang sudah ia potong terlebih dulu. Sharon meminta maaf padanya, dan Charles memintanya untuk segera menghabiskan makanan tersebut.
Seusainya mereka makan, dessert pun tiba. Melihat cheese fondue disana membuat Sharon tersenyum. Yah, gadis ini memang begitu menyukainya, dan ia pun segera memakannya, bahkan menghabiskannya secara kilat.
"Ini billnya tuan." Salah satu pelayan memberikan sebuah nota padanya.
"Kau tenang saja. Biar aku yang membayarnya." Tutur Charles yang mengeluarkan sejumlah uang cash. Tidak mungkin ia membayarnya dengan kartu miliknya. Jika itu dilakukannya, hal tersebut pasti akan mengundang kecurigaan bagi Sharon.
Mereka pergi setelah selesai. Selama perjalanan pulang, Sharon banyak bicara, dan Charles menjadi pendengar yang baik untuknya. Keduanya berjalan menuju halte, dan tiba disana, mereka menunggu bus tiba.
"Sharon, apa kau mempercayaiku?" Gumam Charles yang menatap lurus ke depan, dan pertanyaan itu membuat Sharon menoleh. "Jika aku memberitahu semua masa laluku beserta luka ku dulu, apa kau juga akan melakukan yang sebaliknya?"
"Sejak tadi, kau memang ingin ingin tahu mengenai masa laluku bukan? Tidak, lebih tepatnya, kau memang ingin membuka lukaku." Balas Sharon yang langsung menundukkan pandangannya.
"Bukan seperti itu maksudku. Jika kau..."
"... karena aku sangat mempercayaimu, aku akan mengatakannya padamu. Mungkin ini akan terdengar sangat memalukan." Sambar Sharon.
*Di malam yang dingin, seorang gadis kecil berlari menuju salah satu alamat yang diberikan oleh ayahnya. Dengan deraian air mata, gadis tersebut terus berlari, dengan harapan jika orang yang berada di alamat tersebut mampu menolongnya.
Setibanya disana, ia mengetuk pintu rumah tersebut. Kedatangannya membuat seisi rumah tersebut terkejut, salah satu orang disana yang perduli padanya pun datang menghampirinya. Namun, sisanya tak menggubris kedatangannya.
Seorang pria-wanita tua yang berdiri di ujung anak tangga itu menatap gadis tersebut dengan tatapan tajamnya. Sedangkan gadis disana hanya menundukkan wajahnya dengan sisa-sisa isakkannya.
"... maaf nona, siapa yang anda maksud? Ayahmu? Memang apa hubungan ayahmu dengan keluarga ini?"
"Kakek. Aku mohon jangan lakukan ini pada ayah. Ozan Sworth, dia adalah anak sulung dari keluarga ini. Aku mohon bantu ayahku."
"Ozan sworth memang anak sulung dari keluarga ini. Tapi, semenjak dia memutuskan untuk keluar dari rumah ini, sejak saat itu, Ozan bukanlah salah satu anggota dari keluarga ini." Sahut wanita tua disana.
"Ayah membutuhkan kalian. Aku datang tidak meminta uang pada kalian, aku hanya ingin meminta sedikit darah kalian untuk menolong ayahku." Tangisan gadis itu semakin pecah.
"Aku akan pergi bersamamu, Sharon. Golongan darahku sama dengan paman Ozan. Kita akan pergi sekarang."
"Kak Nick? Terima kasih banyak."
"Nick Sworth. Jika kau angkat kaki dari rumah ini, dan ikut bersamanya. Maka, nasibmu akan sama dengan ayahnya." Seru Duke Sworth selaku kepala keluarga disana.
"Kakek. Sharon juga merupakan salah satu anggota keluarga kita. Dia juga menyandang nama keluarga kita. Paman Ozan adalah anakmu. Apa salahnya jika kita membantunya?"
"Nick. Masuk ke kamar sekarang." Seru seorang wanita disana.
"Ibu? Kenapa? Bukankah paman adalah kakakmu? Jika ayah masih hidup, mungkin ayah akan mendukung keputusanku."
"Bawa Nick masuk ke dalam kamarnya, dan suruh gadis itu angkat kaki dari rumahku." Seru Duke yang meminta beberapa bodyguardnya membawa cucu laki-lakinya masuk.
Ketika mereka hendak menyeret Sharon keluar, Sharon berlari ke arahnya, dan berlutut di kedua kaki kakek-neneknya.
"Aku mohon, untuk sekali ini saja bantu kami. Aku tidak ingin kehilangan ayah, aku..."
"... Sharon. Jawaban kami tidak akan berubah. Kami tidak peduli apa yang terjadi pada ayahmu. Dia yang memutuskannya, dan dia juga akan bertanggung jawab pada keputusan yang dia ambil."
"Ayahku adalah anak kalian. Mendengar kabar kritisnya anak kalian, apa hati kalian masih saja tidak tergerak untuk membantunya? Ayahku juga seorang manusia, apa salah ayahku hingga kalian mengucilkannya?"
"Dengar ini baik-baik, dan aku tidak akan mengulanginya. Saat dia pergi, aku sudah mengatakan padanya, jika keluarga ini tidak akan membantunya lagi sedikit pun. Jika kami datang, maka aku akan menjilat ludahku sendiri. Salah ayahmu itu karena sudah berani mencintai, hingga menikahi ibumu yang yatim piatu. Bahkan sampai melahirkan anak darinya."
"Jika kalian tidak bisa membantu, baiklah. Tapi, jangan sekali-kali kalian menghina ibuku." Setelah mengucapkan hal tersebut, Sharon pergi meninggalkan rumah besar tersebut, dan kembali menuju rumah sakit.
Setibanya ia dirumah sakit, ia langsung masuk ke dalam ruangan ayahnya, dan meminta maaf padanya. Dirinya sudah tak memiliki cara lain, ia juga menangis seraya memeluk ayahnya.
"Bukankah sejak awal sudah ku katakan? Kedatanganmu akan sia-sia. Ayahku orang yang keras, dan tidak akan mengubah keputusannya dengan mudah. Tidak apa-apa, mungkin memang ini sudah waktunya. Kau harus tahu, aku sangat bangga memiliki putri sepertimu, aku menyayangimu Sharon." Mata Ozan tertutup setelah mengatakan semua itu, dan tangisan Sharon semakin pecah saat itu juga.
"Mulai saat ini, namaku bukan lagi Sharon Sworth. Melainkan, Sharon Hwang. Sampai kapan pun aku tidak akan berhubungan lagi dengan keluarga Sworth. Apa pun yang terjadi." Gumam gadis tersebut, dan ibunya hanya memeluk erat putrinya.
Bersambung...