
Charles telah kembali dengan sebuah kotak di genggamannya. Kemudian, ia duduk, dan mensterilkan jari Sharon dari darah yang sempat menetes. Tidak ada yang mereka ucapkan sepatah kata pun.
Setelah selesai di bersihkan, Charles segera mengambil piringan buah itu, dan menyimpannya kembali di atas nakas. Lalu, ia melingkarkan perekat pada jari telunjuk Sharon yang terluka.
"Kent, dan Grace akan menikah beberapa bulan lagi. Dia seperti itu karena ambisinya untuk mendapatkan orang yang ia cintai. Jika, kau memberinya pelajaran, dan Kent tahu akan hal ini, sudah di pastikan jika dia akan menolak pernikahan tersebut." Gumam Sharon menundukkan kepalanya.
"Bukankah bagus jika dia tahu dari awal bagaimana sikap calon istrinya?"
"Memang bagus, tapi jika mereka gagal menikah. Siapa yang akan di salahkan untuk hal tersebut? Dia pasti akan mencecarku lagi, dan mungkin akan membunuhku, Charles." Kini air mata Sharon menetes ketika mengingat dirinya berada di dalam gudang yang menyeramkan itu. "Aku yakin, seiring berjalannya waktu, dia akan berubah, dan Kent pun akan mampu menerimanya." Sambungnya seraya mengusap pipinya.
Tidak berkata apa-apa lagi, Charles langsung keluar untuk mengantarkan kotak yang sudah ia pinjam tadi dari salah seorang perawat. Sharon sama sekali tidak menyalahkan sikap pria itu padanya, bagaimana pun, dia hanya mengkhawatirkan dirinya.
Sudah 30 menit pria itu keluar, dan belum juga kembali ke ruangannya. Kemudian, Sharon memutuskan untuk berbaring, ia memiringkan tubuhnya, dan meletakkan sebelah punggung tangannya untuk menumpu sisi wajahnya.
Kemudian, ia memejamkan matanya, dan tidak di sangka jika ia air matanya kembali menetes. Ingatan di gudang itu kembali menghantuinya, itu sungguh menakutkan untuknya.
Bulan telah menampakkan dirinya, dan Sharon masih memejamkan matanya pada saat itu. Sedangkan Charles yang sudah kembali sejak tadi pun ikut mengistirahatkan tubuh serta fikirannya.
Masih belum merubah posisinya, Sharon mencengkram erat sarung bantal yang ia gunakan, keringatnya bercucuran keluar, keningnya mengeryit, dan wajahnya terlihat begitu takut.
Dengan cepat ia membuka kedua matanya. Nafasnya begitu tersengal saat itu, dan ingatan itu membuatnya mendapatkan mimpi buruk, bahkan keringatnya pun masih membanjiri wajahnya.
"Ayah, ibu." Sharon mulai terisak, Charles yang mendengar suara isakkan langsung membuka kedua matanya. Lalu, ia menyentuh tubuh bahu gadis itu untuk membuatnya terlentang, akibat sedikit melamun, Sharon sangat terkejut ketika mendapat sentuhan tersebut.
"Tenanglah, ini aku." Sahutnya yang segera menyeka keringat pada wajah Sharon. "Minumlah dulu." Lanjutnya, dan menyerahkan segelas air pada gadis itu.
"C-Charles." Sang punya nama hanya berdeham ketika namanya di sebut. "Maafkan aku, kau pasti sangat marah padaku, kan? Ini memang salahku." Sharon menundukkan pandangannya sembari menautkan kedua tangannya dengan begitu erat.
"Bukankah aku sudah katakan tadi? Aku sungguh tidak bisa marah padamu. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Yang kau katakan itu memang benar."
"Apa?"
Hari berlalu, dan hari tersebut mereka akan kembali ke Zurich. Sebelum itu, Charles meminta Sharon untuk diam di tempatnya selagi dirinya membereskan adminitrasinya.
Beberapa menit kemudian, pria itu kembali, dan tanpa permisi, ia langsung menggendong tubuh Sharon untuk ia pindahkan di kursi roda. Keadaan masih sedikit terasa canggung untuk keduanya, karena bagaimana pun pertengkaraannya saat itu adalah pertama kali untuk mereka.
Di samping itu, Kent tengah sibuk mempersiapkan segala kebutuhan pernikahannya. Bukan Kent, namun sang ibu, dan calon pengantin wanitanya lah yang sibuk akan hal tersebut. Sedangkan Kent berusaha untuk mengalihkan fikirannya dari bayang-bayang Sharon yang selalu muncul di dalam benaknya.
Grace berlari kecil ke arah Kent yang tengah duduk menunggu seraya membawakan satu contoh design kepadanya. Sebuah design gaun, dan cincin yang akan mereka kenakan nanti.
"Jika kau menginginkannya, maka ambillah." Sahut Kent yang tidak memandangnya sedikit pun.
"Kent, apa kau sungguh tidak ingin menikah denganku ya?"
"Menurutmu bagaimana?" Kini ucapannya terdengar begitu ketus, dan tatapannya begitu dingin.
"Kent! Apa yang kau ucapkan itu? Begini kah caramu memperlakukan calon istrimu? Apa seperti ini cara seseorang yang sebentar lagi akan menikah?" Nyonya Edbert menyela keduanya.
"Bukankah sejak awal aku tidak pernah menyetujui pernikahan ini? Sudahlah, kalian lanjutkan saja. Berada disini sungguh membuang-buang waktuku." Kent menghela nafasnya, dan langsung meninggalkan tempat itu sesegra mungkin.
Bersambung ..
Note:
Maaf jika episode ini terasa begitu pendek. Karena, jariku mulai terasa keram, dan terus berkeringat🙈
Akibatnya ga bisa maksimal untuk menuangkan ceritanya😵
Tentunya jangan lupa juga untuk memberikan👍🏻, dan ❤️ dari kalian semua😘
Sampai bertemu di episode selanjutnya #tebarkissdariCharlie