My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 23



"Tuan Charles. Apa yang terjadi?" Key tampak khawatir ketika melihat wajah Charles yang begitu pucat. Kemudian, tanpa berfikir panjang, ia segera membawa Charles masuk ke dalam mobil.


"Hu..hubungi Char..lie, dan min..ta dia un..tuk meng..hubungi dokter Marvin." Ungkap Charles dengan nada sesaknya, dan Key langsung mengikuti perintah yang diberikan.


•••


Kali ini, Kent tampak tengah merapihkan barang bawaannya. Ketika sudah mendapat izin untuk memegang kendali di E.KChamp, tentu saja dia akan tinggal di Zurich, dan ia pun akan menempati villanya selama ia berada disana.


Tak hanya dirinya, Louis pun datang bersama dengannya. Sebagai asisten sekaligus sahabat Kent, pria ini akan terus membantunya untuk mencapai sesuatu yang di inginkan olehnya.


"Malam ini, aku ingin menemui Sharon."


"Sebaiknya jangan sekarang. Kau baru tiba, gunakan malam ini untuk istirahat. Kau bisa bertemu dengannya besok."


"Baiklah."


Diwaktu yang bersamaan, Charles yang sudah tiba di rumahnya pun langsung mendapat pemeriksaan oleh dokter Marvin yang kebetulan sudah berada di sana. Ketika mendengar kondisi saudaranya melalui telfon tadi, membuat Charlie begitu khawatir, bukan hanya Charlie, begitu pun dengan Bill Austin.


Berbeda dari sebelumnya, kini Charles tidak kehilangan kesadarannya, dan ia masih mampu mengirimi pesan pada Sharon, meski hanya sekedar ucapan selamat malam.


Dokter Marvin kembali mengambil sample darah milik Charles, dan hal yang di rasakannya kali ini membuatnya begitu khawatir.


"Key. Mungkin aku tidak bisa datang ke kantor besok. Sementara, aku percayakan semuanya padamu, dan bantu aku untuk menjaganya."


"Key mengerti tuan. Jika begitu, Key pamit pulang."


Pagi harinya. Sharon kembali bekerja seperti biasanya. Namun, ia merasakan ada perbedaan. Hari itu, ia belum menjumpai Charles sedikit pun, dan tidak ada orang yang mengganggunya ketika sedang bekerja.


Meski di tengah kesibukkannya, biasanya Charles selalu mengikutinya kemana pun, walau tak banyak yang ia lakukan, dan lebih sering memandanginya bekerja, ia sungguh tak keberatan akan hal tersebut.


Sesekali memang pernah ada rasa ganjal pada dirinya. Disaat dia begitu senggang, apa ia tidak pernah mendapatkan sebuah surat peringatan atau sejenisnya? Justru ia malah di nilai memiliki kinerja yang baik. Apa tuan Austin tidak salah menilai seseorang? Begitu lah yang terkadang ia fikirkan.


Jam makan siang tiba, dan masih tak ada tanda-tanda kehadirannya. Hingga ponselnya pun berdering singkat, menandakan sebuah pesan masuk. Pesan bergambar di terima olehnya, dan setelah membuka isinya, dengan cepat Sharon meluaskan pandangannya ke segala sisi.


"Melihatmu makan membuatku merasa lapar. Bukan menginginkan makanan yang ada di hadapanmu, namun aku ingin memakanmu." Tulis Charles pada pesan bergambarnya, yang dimana gambar tersebut di ambil dari sisi kanan Sharon.


Ketika tidak menemukannya, Sharon menghubungi ponsel Charles dengan harapan jika pria itu mau menerima panggilannya.


"Ada apa gadis bodohku? Apa kau sudah merindukanku?" Seru orang yang berada di seberang sana.


"Dimana kau? Kau melihatku, tapi kenapa tidak menghampiriku? Apa kau ingin menjauhiku?"


"Mana mungkin? Tuan Austin tengah memberikan pekerjaan penting hari ini. Jadi, aku tidak bisa bersamamu sekarang. Kau tidak perlu khawatir, meski tak bersamamu, aku akan selalu mengawasimu."


"Charles. Aku... mencintaimu." Gumam Sharon, dan Charles yang mendengar hal itu pun merasa sangat bahagia. Hingga kemudian rasa sakitnya kembali berdenyut.


Rasa sakit pada perut bagian atasnya kembali ia rasakan. Dokter Marvin yang baru saja tiba pun langsung memeriksa kondisi Charles. Melihat dokter tersebut membawa hasil pemeriksaan, membuat Charlie ingin membukanya saat itu juga.


"Charles mengalami penyempitan saluran empedu, maka dari itu ia selalu merasakan sakit pada perut bagian atasnya. Hari ini sudah berapa kali ia muntah?"


"Hingga siang ini sudah 4x." Sambar Charlie.


"Sakitnya belum terlalu parah. Aku akan memberikannya antibiotik untuk menekannya. Namun, kita harus segera mencari pendonornya jika sewaktu-waktu kondisinya mulai parah."


"Jika terjadi sesuatu padanya, maka lakukan transplantasi hati milikku padanya." Tutur Charlie.


"A..ku ti..dak mengi..zin..kanmu me..laku..kannya Char..lie." Sahut Charles dengan keringat yang mengucur di dahinya.


•••


Kent mengunjungi rumah Sharon siang itu, dan tidak ada orang disana. Orang di dekat sana memberitahunya, jika Sharon akan kembali ketika malam tiba. Mendengar kabar itu membuat Kent harus kembali ke kantornya.


Meski sudah berada di Zurich, ia tidak bisa menyalahgunakan kepercayaan ayahnya. Kent sangat menyayangi ayahnya, bahkan hanya ayahnya lah yang mengerti bagaimana perasaan yang ia miliki pada Sharon. Mungkin karena alasan itu juga ayahnya mau menyetujui keinginan putranya.


Tak terasa sudah jam pulang. Wajah Sharon tampak berbinar-binar setelah mendapat sebuah slip yang diberikan dari Key beberapa saat yg lalu. Kemudian, tak ingin merasakan kebahagiaan itu sendiri, ia langsung menghubungi Charles saat itu juga, karena tidak mendapat jawaban, ia pun mengiriminya pesan.


"Jika sudah selesai, keluarlah. Aku menunggumu di lobby. Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu, dan aku ingin mentraktirmu makan malam ini." Begitulah isi pesan yang ia sampaikan pada Charles.


Masih tidak ada balasan darinya, dan sudah hampir 2 jam, ia masih tetap berdiri disana menunggunya. Kemudian, ia menghubunginya berulang kali, dan masih tidak mendapat jawaban sekali pun.


Sudah menunggu terlalu lama, dan jam pun sudah menunjukkan pukul 8 malam, setengah jam lagi, matahari akan terbenam. Akhirnya, Sharon memutuskan untuk pulang ke rumah.


Sebelum benar-benar kembali, Sharon mampir ke salah satu minimarket yang jaraknya tak jauh dari letak rumahnya. Setelah memberi beberapa barang yang diperlukan, ia segera keluar, dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Perlahan Charles membuka matanya, dan mendengar ponselnya berdering, dengan cepat ia meraihnya. Ketika melihat notifikasi dari gadisnya, ia langsung berlonjak dari ranjangnya, dan kembali mencoba menahan rasa sakitnya.


Ketika berada di luar, Bill menahan langkah putranya, dan memintanya untuk tetap beristirahat hari ini. Namun, bukan Charles namanya jika ia tidak keras kepala.


"Kau masih belum pulih, nak. Beritahu saja padanya jika kau akan menemuinya besok."


"Tidak ayah. Aku berjanji padanya untuk tidak membuatnya kecewa lagi. Selain aku, dan satu temannya, tidak ada lagi orang yang ia percayai."


"Tapi kau terlalu egois jika kau selalu memikirkan tentangnya. Tidak bisakah kau memberitahunya jika kau sedang tak sehat?" Charlie menyambar.


"Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir, dan terbebani." Tutur Charles, dan kemudian pamit untuk meninggalkan rumahnya.


Bersambung ...