My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 73



"Aku turun sekarang." Seru Sharon yang langsung turun dari mobil.


Charles mengajaknya untuk menaiki kapal yang ada di sana untuk mengelilingi sungai tersebut. Ditemani dengan semilir angin yang begitu menyejukkan beserta pemandangan kota-kota tua yang berada di pinggiran membuat tempat tersebut menjadi semakin indah.


Dengan menaiki kapal seperti itu, lantas membuat Sharon mengingat akan seseorang, sebelumnya ia juga pernah melakukan hal yang sama, namun bukan dengan Charles, melainkan dengan Kent.


Sesuai janjinya, semenjak kembali ke Bern, pria itu memang sudah benar-benar tidak menghubunginya lagi. Namun, dirinya terfikirkan olehnya, bagaimana dengan perasaan pria itu kali ini? Akankah dia bahagia jika menikah dengannya nanti?


"Ketika bersamaku, apa yang sedang kau lamunkan? Lihat angsa disana, bukankah membuat taman ini semakin indah?" Bisik Charles yang menunjuk ke arah kawanan angsa yang tengah berenang.


"Sangat tidak mungkin aku mengatakan padanya jika aku tengah memikirkan Kent. Itu pasti akan membuatnya marah."


"Hey, apa yang kau fikirkan?" Charles mulai menggenggam erat tangannya.


"Aku sedang memikirkan, jika kita menikah nanti akan seperti apa ke depannya."


"Astaga jadi sejak tadi kau memikirkan hal itu?" Ejeknya yang memasang wajah yang mengesalkan.


Tidak meladeni ejekkan darinya, Sharon segera merangkul lengan pria itu seraya menyandar manja di bahunya, dan Charles menyandarkan kepalanya pada kepala Sharon.


Hari sudah semakin sore, mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Janji mereka untuk pergi jalan-jalan telah di selesaikan, dan itu sungguh menjadi hari yang sangat menyenangkan untuk keduanya.


•••


Enam bulan berlalu, dan hari itu menjadi hari pernikahan untuk Kent juga Grace. Orang-orang besar di undang dalam pernikahan tersebut. Saat itu Kent berada di ambang pintu masuk bersama dengan ayahnya untuk menyambut para tamu.


Senyuman terukir di bibir Kent. Namun, senyuman itu tidaklah berasal dari hatinya. Menurutnya, pernikahan ini sungguh konyol, bagaimana mungkin ia bisa melangsungkan kehidupan baru dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai? Akan seperti apa ke depannya sungguh tidak tahu.


Acara hampir berlangsung, Grace sudah berdiri di pinggiran altar bersama dengan ibunya Kent. Keduanya memandang salah seseorang yang sangat di kenal, seorang wanita tengah berdiri kebingungan di sana, dan hal tersebut membuat nyonya Edbert serta Grace berjalan menghampirinya.


"Hey, apa yang kau lakukan di tempat ini? Seingatku, aku tidak pernah mengundangmu datang kesini, dan aku juga sudah memastikan jika Kent tidak menuliskan namamu di undangan kami." Grace menyeru dengan ketus.


"Benar. Bahkan kami hanya mengundang orang-orang ternama saja, gadis miskin sepertimu mana mungkin aku undang ke acara semewah ini?" Kini nyonya Edbert menyahut, dan keduanya tertawa bersama.


"Ibu, mungkin dia hanya sedang kelaparan, dan ingin menikmati makanan mewah saja disini." Keduanya kembali tertawa, sedangkan gadis itu hanya diam tak membalas.


"Sampai kapan pun, aku juga tidak akan pernah membiarkannya kelaparan." Pria satu lagi datang, dan berdiri tepat di sisinya dengan memberikan tatapan tajam pada kedua wanita di hadapannya.


"Dan satu lagi, gadis ini datang bersama dengan kami. Jadi, kalian tidak berhak untuk mengusiknya." Seseorang kembali datang, dan berdiri menghadang dua wanita licik itu.


"Tuan Sworth, dan tuan Austin? Bagaimana bisa kalian bersama dengan gadis miskin seperti Sharon Hwang?" Grace menyeru dengan kesal.


"Gadis miskin katamu? Nona Olsen, ah tidak, nyonya Raeya ada hal yang ingin aku tanyakan pada anda. Apa anda mengenal seorang pria bernama Ozan Sworth?" Nick menghadang keduanya seraya menyilangkan tangannya. "Dia adalah pamanku, dan ayah dari Sharon. Menurutmu, apa dia gadis miskin seperti apa yang sudah di katakan oleh calon menantumu itu?"


"O-Ozan Sworth? Mana mungkin?"


"Kenapa tidak mungkin? Satu hal lagi yang harus kalian tahu, dia adalah wanitaku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun berani menyakitinya."


"Charles sangat mencintainya, ayahku pun begitu menyukainya, itu artinya Sharon merupakan bagian dari keluarga Austin juga. Sebagai salah satu keluarga yang terpandang, menurut nyonya, apa yang sebaiknya di lakukan jika ada seseorang yang telah berani melukai salah satu anggota keluargamu?" Charlie melirik ke arah Grace.


"Tentu saja aku akan memberikan hukuman pada orang itu."


Sepertinya Raeya Edbert tidak ada hubungannya dengan penculikkan yang terjadi pada Sharon beberapa bulan lalu.


Itulah yang tengah berada di fikiran Charles, Charlie, dan juga Nick. Sedangkan Kent yang melihat ada keributan disana segera berjalan menghampiri tempat tersebut. Ia melihat Sharon berada, dan ia sungguh tidak tahu kapan gadis itu datang.


Dengan cepat ia melangkahkan kakinya, apa gadis tersebut tengah di rendahkan lagi oleh ibunya? Fikiran Kent menjadi kacau saat itu, dan ingin segera membantunya.


"Lalu, apa yang akan anda lakukan jika calon menantumu itu sudah berani mengusik keluarga kami? Grace Olsen, dia sudah berani menculik orang yang berharga untuk kakakku, bahkan berani menyiksanya." Charlie menyeru dengan kesal, mereka yang disana sungguh terkejut dengan apa yang di lontarkan olehnya.


"Charles? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak mengungkapkannya? Kenapa kalian justru membongkarnya?" Sharon menggenggam tangan Charles seraya menatapnya.


"Karena menantumu itu, Charles harus kembali dengan cepat dari tender yang tengah di urusnya, hingga penya..."


"Charlie hentikan!" Sahut Charles menghentikan ucapan saudaranya yang hampir saja salah bicara.


"Menculik? Di siksa? Ada apa ini?" Kent datang disana dengan penuh kebingungan.


Bersambung ...