My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
[Special Episode] Bagian 01



- 7 tahun kemudian -


"Eriaaaann~ panggil adikmu untuk segera sarapan!" Teriak seseorang dari balik dapur dengan apron yang masih melekat pada tubuhnya.


"Masih pagi kenapa sudah sangat berisik?" Balas seorang pria yang tiba-tiba datang, dan langsung memeluknya dari belakang.


"Charles, lepaskan aku! Jika anak-anak lihat bagaimana?" Sharon menyeletuk, dan ucapannya itu sungguh tak di gubris sedikit pun oleh Charles. Ia justru semakin mempererat pelukannya, bahkan sesekali ia menciumi tengkuk istrinya.


Terdengar sebuah langkah kaki kecil yang berlari menuju ruang makan. Panik akan ketahuan oleh buah hatinya, tanpa ragu Sharon memukul pelan dahi suaminya menggunakan spatula yang baru saja di cuci olehnya.


"Aaargh kau menyakitiku." Rengut Charles seraya mengusap dahinya.


"Itu salahmu! Aku sudah memintamu untuk menyingkir." Sahut Sharon yang langsung membawakan makanan ke meja.


Kemudian, Sharon menyiapkan makanan tersebut ke masing-masing piring buah hatinya, dan Charles segera duduk di sana seraya membenarkan letas dasinya yang masih menggelantung bebas di lehernya. Namun, melihatnya kesulitan, tentu saja membuat Sharon tak tinggal diam.


Menyadari Sharon menghampirinya, Charles mengedipkan kedua matanya berulang kali dengan senyuman yang penuh dengan tanda tanya. Tak lama kemudian, pria itu mengusap-ngusap dahinya, dan Sharon hanya menghela napasnya pelan.


Mengerti dengan hal tersebut, Sharon mencium dahi suaminya dengan begitu lembut, dan itu membuat Charles merasa menang. Tidak sampai situ, Charles langsung menarik pinggang Sharon, dan menempelkan bibirnya pada bibir wanita itu.


Melihat kelakuan ayahnya membuat salah satu tangan Erian menutupi kedua mata adiknya yang tengah menikmati makanannya, dan sadar akan hal itu membuat Sharon mendorong pelan tubuh suaminya.


"Apa yang kau lakukan?" Sharon menggerutu pelan dengan nada kesalnya, dan ia langsung duduk untuk menyantap sarapannya.


"Erian, Eliane ada yang ingin ayah tanyakan pada kalian." Gumam Charles, dan Eliane melepaskan tangan Erian yang masih menutupi kedua matanya. "Apa kalian menginginkan seorang adik?" Tanyanya lagi sehingga membuat Sharon tersedak saat mendengar penuturannya.


"Elia ingin adik perempuan, ayah." Dengan wajah polosnya Eliane menyahut, dan ucapannya di sambut dengan senyuman oleh Charles.


"Lalu bagaimana denganmu, Erian?"


"Aku tidak ingin menjawab pertanyaan ayah yang satu itu. Ayah pasti ingin menjahili ibu 'kan?" Balas Erian dengan nada dinginnya seraya menikmati makanannya.


"Kau sudah gila, Charles." Sahut Sharon yang bangun dari duduknya untuk mengambil segelas air, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan menahan pergelangan tangannya.


"Aku memang sudah gila, dan itu terjadi ketika aku mengenalmu. Aku rasa, aku tidak butuh jawabanmu, dan aku putuskan untuk tidak bekerja. Aku akan habiskan hari ini bersama denganmu!" Charles menyeringai seraya kembali mengendurkan simpulan dasinya.


Tanpa izinnya, ia langsung menggendong tubuh Sharon seraya mencium bibirnya. Berontakkannya tak di pedulikan oleh Charles, ia justru semakin memperdalam ciuman itu, dan kini tangan Erian menutupi kedua telinga adiknya agar tak mendengar kelakuan kedua orang tuanya. Merasa bingung, Eliane menatap kakaknya dengan penuh tanya.


"Jangan menatapku dengan mata besarmu! Tidak perlu pedulikanku, sebaiknya cepat habiskan makananmu, dan aku akan menemanimu bermain, Elia." Tutur Erian, dan Eliane segera menganggukkan kepalanya.


Erian, meski dia putra sulung dari Charles. Sikapnya sangatlah berkebalikan dengan ayahnya. Anak ini justru terlihat mewarisi sikap pamannya, yah Charlie. Dia terlihat sedikit dingin meski ia masih begitu kecil, namun ia sangatlah menyayangi saudarinya. Ia bahkan selalu rela meluangkan waktunya setiap kali adiknya meminta dirinya untuk bermain bersama.


Eliane merupakan prioritas utama bagi Erian. Sedangkan saudarinya menuruni sifat keduanya, terkadang ia terlihat sangat polos seperti Sharon, dan terkadang ia juga bertingkah tak masuk akal seperti ayahnya.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, dan Erian yang mendengar itu pun segera berjalan untuk membukakan pintu tersebut. Meski masih begitu kecil, Erian memiliki pemikiran yang kritis, ia juga pandai, yah setidaknya kecerdasan ayahnya mengalir pada dirinya.


"Kak Elia selalu saja seperti itu jika kakek di dekatnya. Seolah tidak membiarkan orang lain untuk mendekatinya." Celetuk pria kecil yang berada dalam gendongan Charlie.


"Biar saja. Kakek itu lebih menyayangiku dari pada kau, dan ka Erian." Eliane menjulurkan lidahnya seraya bergelayut manja pada gendongan Bill. Mereka yang mendengar itu pun terkekeh, dan berjalan masuk ke dalam.


"Dimana ayah, dan ibu kalian?" Tutur Bill mengusap puncak kepala Erian, dan masih menggendong Eliane.


"Ayah ..."


"... sedang membantu ibu merapikan kamar." Erian menyela ucapan adiknya. Setidaknya Erian bisa melindungi sikap kekanak-kanakkan ayahnya itu. "Aku akan memanggilnya, dan memberitahu kedatangan kakek." Sambungnya lagi seraya berjalan ragu menuju kamar orang tuanya.


Ketika berada di depan pintu kamar orang tuanya, Erian menelan air liurnya, dan menghela napasnya dalam-dalam. Tangannya mulai melayang untuk menciptakan ketukan di pintu tersebut.


"Ayah, aku tidak berniat untuk mengganggumu. Tetapi, kakek, paman Charlie, bibi Gwen, dan juga Eldrich datang. Segeralah temui mereka, aku akan kembali kesana!" Ucap Erian.


Mendengar ucapan putranya membuat Charles menatap Sharon dengan begitu lekat. Namun, ia juga tampak menghela napasnya. Dengan cepat Sharon merapikan letak rambutnya, dan Charles membenarkan setiap kancing kemejanya.


Setelah mengatur napasnya, Charles berjalan keluar lebih dulu dari Sharon. Saat berada di ruang tamu, Charles memeluk ayahnya, dan Eldrich langsung menghampirinya, sama halnya seperti Eliane, Charles menggendongnya ketika anak laki-laki itu menghampirinya.


"Aku rasa beratmu bertambah, EL." Sahut Charles menatap Eldrich seraya tertawa kecil.


Eldrich Austin, setelah pernikahannya dengan Gwen 7 tahun yang lalu, keduanya memiliki seorang putra yang usianya selisih 2 tahun dari kedua anak Charles. Eldrich pun tampak dekat dengan pamannya, dapat di katakan jika anak itu lebih dekat dengan Charles di banding dengan ayahnya sendiri.


Selang beberapa menit, Sharon tiba disana, dan Charlie menatapnya intens, sehingga sebuah senyuman pun terlukis di bibirnya. Ketika melihat Charles yang berjalan menuju jendela ruangan itu, Charlie lekas menghampirinya.


"Jadi, seperti itu ya cara kalian merapikan ranjang." Bisik Charlie dengan nada yang menggoda.


"A-apa maksudmu?" Charles tampak gelagapan mendengar penuturan adiknya.


"Aku melihat sesuatu di tengkuk kanannya, dan itu pasti ulahmu bukan?" Charlie tampak menahan tawanya, dan seketika wajah Charles memerah akan hal tersebut.


Masih ingin lanjutannya?😂


Selain itu, yuk mampir ke novel di bawahku ini:


• Time With You!


• Don't Give Me Hope!


• Storm


dengan poster seperti di👇🏻jangan sampai salah ya🙆🏻‍♀️