My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 76



"Kenapa kau senang sekali memotong pembicaraan orang? Tidak bisakah untuk diam sampai aku menyelesaikannya?" Gerutu Sharon yang mendengus kesal karena sikap Charles yang tidak kunjung berubah.


"Ha Ha Ha. Maafkan aku, aku hanya tidak sabar menantinya."


"Kak Nick menyukai Alice, itu yang ia katakan padaku sesaat sebelum pergi?"


"APA?" Charles sungguh terkejut mendengar peryataan tersebut. Bukan hanya Charles, Sharon pun sama terkejutnya saat pertama mendengarnya. "Tapi kenapa kau terlihat tertawa ketika dia mengucapkan hal tersebut? Bukankah kabar ini tidak lucu sama sekali?" Lanjutnya yang masih penasaran.


"Sebenarnya kak Nick sudah menyukai Alice sejak lama. Namun, dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Melihat keluarga Sworth sudah berubah, aku yakin tidak lama lagi, dia akan mengutarakan perasaannya pada Alice. Kita tunggu saja kabar baik ini." Kent sedikit terkekeh, dan di lanjut oleh tawa kecil dari Sharon.


"Yang dikatakannya memang masuk akal. Kita lihat, kapan Nick Sworth akan mengungkapkannya pada Alice."


 •••


Hari sudah semakin sore, dan Charles meminta Sharon untuk bersiap. Entah kemana pria itu akan membawanya pergi, Sharon hanya mengikuti apa yang di katakan olehnya. Mereka menaiki mobil yang sudah di sewa oleh Charles sebelumnya, dan ia membawa mobil tersebut ke arah sebuah pantai.


Semilir angin terasa menerpa kulit Sharon yang saat itu tengah membuka kaca jendelanya. Ia terlihat bahagia mendatangi tempat tersebut, dan Charles juga merasakan hal yang sama. Setibanya mereka disana, keduanya turun, dan berjalan menuju pinggiran pantai.


Meski ombak terlihat begitu tenang, keduanya tidak berani untuk bermain hingga jauh. Mereka hanya berada di pinggiran, dan menanti ombak itu menyisiri pantai seraya menerjang kedua kaki mereka. Langit sudah mulai memerah, menandakan jika hari sudah mulai senja. Lelah bermain, keduanya memilih duduk untuk menyaksikan matahari terbenam disana.


Sharon menyandarkan kepalanya pada lengan Charles, dan Charles menyandarkan kepalanya pada kepala Sharon dengan kedua tangan mereka yang saling terpaut. Semilir angin semakin lama semakin terasa kencang, dan hal itu membuat Sharon memejamkan kedua matanya.


"Boleh aku bertanya satu hal padamu?" Gumam Charles yang memandang ke depan.


"Kenapa harus meminta izin? Kau bisa langsung menanyakannya padaku, dan tidak hanya satu, kau boleh menanyakan banyak hal padaku." Balasnya yang masih memejamkan matanya.


"Kali ini, aku hanya memiliki satu saja." Tuturnya, dan Sharon segera berdeham menyetujui untuk mendengar apa yang ingin di katakan olehnya. "Apa kau akan tetap bersamaku apapun yang terjadi? Apa kau benar-benar tidak akan pernah meninggalkanku?" Sambungnya lagi, dan pertanyaan itu sontak membuat Sharon langsung membuka kedua matanya.


"Bukankah kau bilang hanya satu pertanyaan? Kenapa jadi dua?"


"Ha Ha Ha. Mungkin yang satunya terlintas begitu saja, dan bibirku ini sangat ingin mengatakannya. Bukankah tadi kau juga mengizinkanku untuk memberikan lebih dari satu pertanyaan? Cepat berikan jawabannya untukku!"


"Benarkah? Kenapa aku begitu terharu mendengarnya, ya? Tapi aku sedikit lega." Ucap Charles yang langsung membaringkan tubuhnya di dalam pangkuan gadis tersebut.


"Lalu, bagaimana denganmu?"


"Aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu. Ketika kau memintaku untuk pergi, saat itu juga aku akan pergi." Pandangan keduanya bertemu. Bersamaan dengan terbenamnya matahari, Charles menarik tengkuk leher Sharon untuk menunduk mensejajarkan wajah keduanya. Saat itu juga Charles menciumnya dengan begitu lembut, dan tanpa menuntut sedikit pun.


Wajah Sharon memerah mendapat perlakuan seperti itu, dan itu sungguh membuatnya terkejut. Bagaimana pun, itu adalah pertama kali untuknya, ketika bersama dengan Kent dulu, pria itu hanya menciumnya di dahi atau pun di kedua pipinya. Namun, kini Charles mengambil first kissnya, dan Sharon sama sekali tidak menyesali hal tersebut.


Matahari yang sudah meninggalkan wujudnya itu pun membuat bulan menggantikannya untuk menjadi hiasan yang indah di langit bersamaan dengan bintang-bintang di atas sana. Satu demi satu, para pengunjung juga pergi meninggalkan tempat itu, dan Charles maupun Sharon juga melakukan hal yang sama.


Dalam perjalanan, keduanya tampak diam, wajah Sharon pun masih terlihat memerah bagaikan tomat yang sudah sangat matang ketika mengingat apa yang terjadi. Sesekali ia tersenyum kecil seraya memegangi kedua pipi, dan menyentuh bibirnya. Sedangkan Charles yang menyadari hal itu pun ikut tersenyum melihat tingkah gadis di sisinya.


"Ada apa? Apa kau menginginkannya lagi?" Charles menyeletuk, dan hal itu sontak membuat Sharon begitu terkejut. Ia sungguh malu ketika sadar jika pria masih berada di sisinya.


"Apa maksudmu?"


"Tida ada maksud apa-apa. Namun, aku bisa memberikannya lagi jika kau memang masih menginginkannya." Godanya yang sedikit melirik ke arahnya.


"Tidak ku sangka jika Charles Austin adalah seorang pria mesum. Aku bahkan sudah tertipu dengan kepolosannya." Gerutunya.


"Tapi, kau menyukainya bukan?" Ejeknya lagi.


"Sangat, aku sangat menyukaimu." Saat itu juga Sharon langsung merangkul lengan Charles.


"Gadis bodoh, aku sedang menyetir sekarang. Lepaskan aku jika tidak ingin menabrak, dan aku akan memberikannya lagi setelah kita turun." Mendengar kata 'menabrak' tentu saja langsung membuat Sharon melepaskannya dengan sebuah senyuman yang tak bisa tergambarkan.


Bersambung ...