My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 120



Kemudian, dokter Marvin membuka lembaran pada papan clipboard miliknya. Menunggu jawabannya sungguh membuat Charles merasa tidak tenang, dan sangat gusar. Dengan begitu erat Charles menggenggam tangan Sharon, namun Sharon hanya mampu menggelengkan kepalanya karena sikap suaminya tersebut.


“Kau tenang saja, Charles. Tidak terjadi hal serius padanya. Dia hanya kelelahan, aku sarankan agar dia tidak begitu lelah sampai ia benar-benar pulih dari operasi yang telah di lakukannya beberapa waktu lalu.”


“Jadi, dia baik-baik saja? Benar begitu?” Kini, nada suaranya terdengar begitu sumringah, dan dokter Marvin segera menganggukkan kepalanya. Di saat waktu yang bersamaan, Charles langsung memeluk erat tubuh Sharon, dan mencium keningnya sesekali.


Melihat kejadian itu membuat seorang perawat disana tertawa kecil, sedangkan dokter Marvin hanya menggelengkan kepalanya. Entah berapa usia Charles, sampai-sampai bersikap kekanakkan seperti itu.


Tidak lama kemudian, Bill memasuki ruangan rawat. Ia begitu cemas saat mendengar kabar dari putranya bahwa Sharon tidak sadarkan diri secara tiba-tiba. Namun, setelah mendengar penjelasan dari dokter Marvin, itu benar-benar membuatnya lega.


“Jika begitu, ayah tidak akan mengganggu waktu istirahatmu.” Seru Bill seraya mengusap puncak kepala Sharon. “Ayah akan langsung berangkat untuk mengontrol restaurant kita. Jaga istrimu dengan baik, Charles!” Timpalnya lagi


Setelah mengatakan hal itu, baik Bill maupun dokter Marvin pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, dan Charles langsung memeluk erat tubuh Sharon. Merasakan sesak akibat pelukan itu, membuat Sharon berteriak tepat di telinga suaminya, yang kemudian membuat Charles melepaskannya, dan mengusap-ngusap telinganya.


“Apa kau ingin merusak gendang telingaku?” Rintihnya seraya mempoutkan bibirnya.


“Tentu saja tidak. Maafkan aku, itu karena pelukanmu membuatku sesak.” Sahutnya.


“Itu karena aku hanya terlalu senang.” Dan lagi-lagi Charles memeluknya, kemudian Sharon hanya mengusap lembut rambut suaminya. “Jika merasakan apapun yang membuatmu tidak nyaman, langsung katakan padaku! Aku tidak ingin hal ini terjadi lagi, kau mengerti?” Sambungnya lagi, dan Sharon segera menganggukkan kepalanya.


•••


Sinar matahari pagi telah kembali, dan hari itu, Sharon sudah di perbolehkan untuk pulang. Kemudian, Charles membantunya untuk berkemas, karena memang ketika kembali dari Bern, mereka langsung menuju rumah sakit.


Terkadang kekhawatiran yang di tunjukkan olehnya selalu ingin membuat Sharon tertawa, namun hal itu juga sangat ternilai berlebihan untuknya. Meski begitu, sesekali ia sendiri pun berfikir, mungkin dirinya akan melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan Charles kali ini.


Dengan itu, ia juga sadar bahwa artinya Charles benar-benar tulus menyayanginya. Hingga setibanya di rumah, Raeya sudah menunggu di depan pintu rumahnya untuk menyambut kedatangan mereka. Terlihat juga Erina disana, namun tatapannya itu hanya terfokus pada Charles saja.


Menyadari hal tersebut, tentu saja langsung membuat Sharon merangkul lengan Charles pada saat itu, dan tatapan itu semakin terlihat jelas oleh Sharon, jika Erina memang menyimpan perasaan pada suaminya.


“Peganganmu itu sungguh terlihat jelas jika kau...”


“Selamat datang kembali tuan, nona. Siang nanti, apa yang ingin kalian makan?” Raeya menyeru setelah membungkukkan tubuhnya.


“Apapun itu. Sekarang bisakah tolong buatkan coklat hangat?” Sahut Charles.


“Bisa tuan, aku akan membuatkannya.” Dengan cepat Erina menyahutnya, dan Charles tersenyum menanggapi hal tersebut.


Setelah Erina meninggalkan mereka, Charles, dan Sharon langsung masuk ke kamarnya. Sedangkan barang bawaan, penjaga villa lah yang membantu mereka membawanya masuk. Belum tiba di kamar, Charles langsung menggendongnya secara tiba-tba, dan hal itu tentunya membuat Sharon begitu terkejut.


Sharon lekas meronta karena perbuatan suaminya, namun Charles mengabaikannya, dan hanya tersenyum usil ke arahnya. Senyuman yang terlihat begitu mencurigakan untuk Sharon, ketika Charles membaringkan tubuh istrinya di ranjang, tiba-tiba seseorang masuk.


"Tuan, aku sudah..." Ucapannya terhenti ketika melihat apa yang ada di hadapannya. "... selesai membuatkan coklat hangatnya." Sambungnya lagi.


"Aah Erina, terima kasih banyak." Charles tersenyum ketika mengambil cangkir tersebut, kemudian ia kembali menghampiri Sharon. "Untukmu, segera habiskan!" Imbuhnya lagi seraya mengusap puncak kepala wanita di hadapannya.


"C-coklat i-itu bukan untukmu?"


"Tentu saja bukan. Sharon baru kembali dari rumah sakit, dan tentu saja dialah yang membutuhkannya. Jika untukku, aku bisa membuatnya sendiri. Karena tidak ada yang ku butuhkan lagi, bisakah memberi ruang untuk kami?" Tutur Charles.


Mendengar usiran halus dari Charles membuat Erina begitu tersentak. Tidak biasanya tuannya itu bersikap seperti itu padanya, dan apa yang di katakan oleh kakaknya memanglah benar.


Sedangkan Charles, ia hanya tertawa kecil saat Erina telah menjauh dari kamarnya. Melihat tawanya membuat Sharon sedikit kebingungan, dengan menyeruput coklat hangat yang berada dalam genggamannya, tatapan Sharon masih tersimpan banyak pertanyaan.


"Bagaimana? Rencanaku berhasil bukan?" Charles tertawa puas saat mengutarakannya.


"Rencana? Rencana apa yang kau maksud?" Sambung Sharon, dan saat itu juga Charles menepuk dahinya sendiri seraya menggelengkan kepalanya.


Bersambung ...