My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 116



Mereka tiba di salah satu taman, dan taman itu tidak terlihat begitu ramai. Namun, ada kejanggalan pada diri Sharon ketika melihat penampilan dari tempat tersebut, menurutnya ada yang berbeda. Kenapa taman itu bertaburan dengan banyak bunga di sepanjang jalannya, bahkan tiang-tiang itu terlihat di lilit dengan sebuah hiasan yang indah.


Sharon menoleh ke arah Charles, dan Charles hanya tersenyum menanggapi tatapan itu. Kemudian, mereka pun berjalan di sepanjang taman, hingga terlihat ada sebuah gapura kecil disana, dan terhias dengan bunga-bunga yang indah, serta tertancap bunga dandelion di bagian sisinya.


Ketika kembali menolehkan pandangannya, Sharon terkejut saat melihat Charles berlutut di hadapannya, dan Charles segera menggenggam tangan wanita di hadapannya. Matanya menatap lekat wajah wanita itu, dan wanita itu masih kebingungan dengan apa yang di lakukan oleh pria di hadapannya.


“Sharon Hwang. Tempat ini mungkin memang bukan tempat pertama kali kita bertemu. Tapi, di tempat inilah, dimana aku melihatmu dari kejauhan untuk pertama kalinya. Melihatmu bekerja keras, berjuang untuk orang yang kau sayangi. Meski begitu, di tempat inilah kita sering bertemu, di tempat inilah aku menyatakan perasaanku, di tempat ini juga aku membuatmu terluka. Zurichhorn, tempat ini sudah banyak menyaksikan suka-duka kita selama ini, dan kali ini, di tempat yang sama, aku ingin taman ini menjadi saksi untuk kesekian kalinya.”


“Saksi? Untuk apa?” Sharon menyahut, dan Charles kembali tersenyum menanggapinya.


“Sharon Hwang, kau memang sudah sah menjadi istriku. Mungkin tidak terlihat kesan apapun dalam pernikahan kita, karena itu terjadi begitu cepat, dan itu terjadi tanpa izin darimu. Saat ini, di tempat ini, dengan kesadaran yang kau miliki, aku ingin mendengar jawaban darimu. Maukah kau menikah denganku? Maukah kau menjadi ibu untuk anak-anakku kelak? Maukah kau...”


“... aku mau, aku mau.” Sahut Sharon yang sudah meneteskan air matanya, dan Charles justru terkekeh melihat hal tersebut. Akhirnya ia pun berdiri, dan Sharon langsung memeluknya erat.


“Hey, aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku, dan kau sudah menjawabnya tanpa tahu apa kelanjutan dari perkataanku.” Charles mengusap punggung wanita yang berada dalam dekapannya.


“Aku tidak peduli dengan kelanjutannya. Asalkan bersamamu, aku mau melakukan semua yang kau ucapkan. Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Charles!”


“Jika begitu, ayo kita persiapkan segalanya untuk pesta pernikahan kita yang akan di laksanakan pada akhir tahun ini.”


“Charles, apa kita akan datang ke pernikahan Kent nanti?”


“Tentu saja. Pernikahannya hanya tinggal menghitung hari, sebaiknya kita berangkat besok lusa.”


Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Sebenarnya banyak yang ingin di tanyakan oleh Sharon kala itu. Namun, Charles tampak terlihat sibuk hari itu. Bahkan sejak tadi, ponselnya terus berdering tiada henti, meski begitu, ia tetap tidak menerimanya, entahlah siapa yang sudah menghubunginya itu.


Sesekali ia melirik ke arahnya, ada hal yang benar-benar ingin ia tanyakan, dan itu sungguh membuatnya ganjal sejak tadi, lebih tepatnya sejak mereka meninggalkan bandara. Menyadari tatapan dari wanitanya, Charles menoleh ke arahnya, dan memergokinya tengah menatapnya dengan begitu lekat.


“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?”


“Soal tadi di bandara. Bukankah kau berjanji untuk memberitahuku soal percakapanmu dengan Charlie? Tapi, aku rasa kau melupakan hal itu.” Gerutunya yang langsung mempoutkan bibirnya.


“Astaga, maafkan aku, aku sungguh lupa akan hal tersebut. Baiklah, jadi ...”


Charles semakin mendesak saudaranya meski Charlie terus menyangkalnya. Dengan nafas beratnya, Charlie menghela nafas, dan menatap lekat wajah saudaranya. Sesekali ia melihat ke arah sekelilingnya, dan juga menatap ayahnya dari kejauhan.


“Aku pergi untuk menemui seseorang. Ada sesuatu yang ingin aku dengar darinya tentang kejadian beberapa waktu ini.”


“Seseorang? Apa kau sudah menemukan orang yang spesial dalam hidupmu? Astaga, akhirnya saudaraku bisa menemukan pujaan hatinya sendiri. Aku fikir kau ...”


“Ha Ha Ha maafkan aku, aku hanya terlalu senang. Dari mana kau mengenalnya? Kenapa dia jauh sekali? Apa dia wanita yang baik? Aku harap dia bukan hanya ingin memanfaatkanmu saja, Charlie.”


“Dia bukan wanita seperti itu. Melihat kondisi keluarganya, aku rasa dia tidak mungkin memanfaatkanku. Aku juga yakin jika kau mengenalnya.”


“Aku? Mengenalnya? Sungguh?”


“Ya, aku akan membawanya kemari jika aku sudah menyelesaikan masalah ini. Seperti yang sudah ku ucapkan, jangan katakan apapun pada ayah, biarkan aku yang memberitahunya nanti. Mengingat kejadian akhir-akhir ini, aku hanya takut jika ayah tidak merestui hubungan kami.”


“Aku mengerti, apapun pilihanmu, selama dia baik, aku akan selalu mendukungmu, Charlie.”


Setelah mendengar cerita itu, lagi-lagi Sharon menatap Charles dengan begitu lekat. Hal tersebut sungguh mengganggunya, hingga membuatnya meminggirkan mobilnya untuk mencari tahu apa maksud dari tatapannya itu.


“Aku hanya bertanya-tanya, ketika aku tengah terbaring koma, apa kau yakin jika kau tidak pergi dengan seorang wanita?”


“Kenapa kau bicara seperti itu? Apa kau tidak mempercayaiku?” Protes Charles, dan langsung menatapnya tajam.


“Bukan seperti itu, hanya saja Charlie mengatakan jika kau mengenalnya. Bukankah itu artinya kau pernah menemuinya?”


“Tapi aku berani bersumpah padamu jika aku sungguh tidak menemui wanita lain selama kau tidak sadar. Kau bisa menanyakan hal ini pada Key jika kau memang tidak mempercayaiku, atau kau juga bisa tanyakan pada ayah. Ayah tidak mungkin berbohong padamu.”


“Tidak perlu. Aku mempercayaimu, Charles.” Sharon tersenyum, dan hal itu sungguh membuat Charles merasa tenang. Kemudian, ia kembali melajukan mobilnya.


•••


Tidak terasa hari itu telah datang, hari dimana hari bahagia Kent dengan Natasha. Nick, dan Alice datang mewakili keluarga Sworth, sedangkan Charles datang mewakili keluarganya. Tentu saja ia tidak pergi seorang diri, dia pergi bersama dengan Sharon. Namun, dimana dia saat ini?


Merasa risau, Charles bergegas mencarinya. Mengingat apa yang pernah dilakukan ibunya Kent pada Sharon dulu, itu sungguh membuatnya cemas. Namun, seorang memberitahunya jika Sharon berada dalam ruangan rias pengantin, dan Charles langsung melangkah cepat kesana.


Ketika membuka pintu itu secara perlahan, terlihat jelas jika wanita itu tengah memasangkan sebuah kalung pada pengantin wanita, dan hal tersebut membuatnya tersenyum.


“Kalung ini adalah milik keluarga Edbert, Kent memberikanya padaku saat dia melamarku dulu. Namun, siapa sangka jika kami tidak bisa bersatu? Aku sengaja menyimpannya, dan berjanji akan memberikannya pada pilihannya kelak. Kini, aku tidak pantas untuk menyimpannya, kau yang berhak menggunakannya. Kent adalah pria yang baik, aku yakin jika kau akan bahagia bersama dengannya.”


“Terima kasih Sharon. Aku harap kebahagiaan selalu menyertaimu, dan juga Charles.”


“Tentu saja kami akan bahagia. Selama aku bersama dengannya, aku akan selalu merasa bahagia, karena Sharon adalah sumber kebahagiaaku.” Sambar Charles, dan Sharon menoleh ketika melihat kedatangannya. “Sekarang ayo keluar, istriku! Acara sudah hampir di mulai, sebaiknya kita menunggu mereka di sana.” Charles merangkul Sharon, dan langsung membawanya keluar.


Bersambung ...