My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 83



"Temui aku di pantry office sekarang!" Tulisnya, dan Sharon semakin penasaran siapa yang mengirimkan surat itu kepadanya. Tidak ada nama yang tertulis dalam surat tersebut.


"Siapa pun dia, dia tidak akan berani macam-macam padaku di tempat seramai ini. Pasti begitu." Gerutunya yang langsung memberanikan diri untuk mendatangi tempat yang di maksud dalam isi surat tadi.


Langkahnya semakin lamban ketika ia hampir saja tiba di pantry, ia juga tampak menjadi sedikit ragu saat hendak memasukinya. Namun, ia melihat punggung seseorang tengah bersandar pada meja di dalam sana.


Tiba-tiba sebuah senyuman terukir, dan ia langsung berlari ke arah orang tersebut. Dengan cepat ia memeluknya dari belakang, dan membuat orang itu begitu terkejut ketika mendapat perlakuan dari seseorang di belakangnya.


"Kenapa kau sembarang memeluk orang?" Gerutunya kesal yang langsung melepaskan diri, dan memutar tubuhnya agar dapat melihat gadis itu.


"Aku tidak memeluk sembarang orang. Bukankah kau bukan orang lain untukku? Aku sangat merindukanmu, Charles! Karena itulah aku langsung memelukmu." Balasnya yang kembali mendekapnya.


"Tapi, bagaimana jika kau salah memeluk orang? Bagaimana jika itu bukan aku? Bagaimana jika itu seseorang yang mirip denganku? Contohnya Charlie mungkin."


"Dalam sekejap, terkadang aku memang bingung ketika melihat kalian berdua saat tengah bersamaan. Meski kalian kembar, tentu saja kalian memiliki sifat yang begitu berbeda." Ia kembali melepaskan pelukannya, dan menatap wajah pria di hadapannya.


"Tentu saja. Apa perbedaan yang kau lihat dari kami?


"Sebenarnya Charlie memang pria yang baik, namun terkadang ucapan dia sedikit menyakitkan, meski dia tidak berniat hal demikian. Jika Charles, berbeda dari saudaranya, dia pria yang begitu penyayang, memiliki hati yang lembut, dan aku sangat mencintainya. Kaulah yang terbaik."


Sharon tersenyum ke arahnya, dan langsung melompat ke dalam pelukannya. Mendapati hal tersebut sungguh membuat Charles begitu senang. Namun, entah kapan ia memiliki kesempatan bicara padanya, ia tidak ingin merusak momen saat ini.


"Kenapa kau mengirim pesan padaku melalui surat? Kau tahu? Karena sebelumnya kau mengatakan tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini, aku begitu takut ketika mendapati pesan tersebut, aku takut jika ada seseorang yang ingin melakukan hal yang tidak-tidak kepadaku, dan aku takut jika kau tidak bisa menolongku."


"Tidak akan ada yang berani macam-macam padamu di tempatku ini. Aku melakukan itu karena ingin membuat kejutan padamu, dan karena aku tidak bisa menunggu, aku memutuskan untuk segera kembali." Gumamnya seraya mengusap lembut kedua pipi Sharon.


"Karena kau sudah kembali, giliran kau yang menghadiri meeting dengan client siang ini di restaurant saphire, dan aku ingin menikmati waktu makan siangku."


"Kita akan menikmati makan siang setelah menghadiri rapat. Kau sekretarisku, tentu saja kau harus ikut bersamaku."


Kemudian, secara tiba-tiba pria itu menarik gadis di hadapannya itu ke dalam pelukannya. Ia memeluknya begitu erat, dan perlakuannya itu sungguh membuat gadis tersebut tersentak.


Charles melepaskan pelukannya, menatap pilu gadis di hadapannya. Lalu, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sharon. Ketika hampir tidak ada jarak antar keduanya, dengan cepat Sharon mendorong tubu Charles, dan memalingkan wajahnya dari sana.


"A-aku harus siapkan materi untuk meeting nanti. Aku duluan." Gumamnya dengan wajah yang tampak merona akibat perlakuan yang dilakukan oleh pria di hadapannya.


Tanpa berfikir lagi, Sharon segera meninggalkan pantry, dan juga Charles disana. Jantungnya berdetak begitu cepat, dan ia masih tampak tersipu ketika mengingatnya. Jika dirinya tidak mendorong pria itu, mungkin itu akan menjadi yang kedua kali untuknya.


"Pada akhirnya, aku tetap tidak bisa mengatakan kebenarannya. Harus berapa banyak lagi keberanian yang harus ku kumpulkan?" Batin Charles menyeru dengan begitu gusar, dan ia segera menyusul langkah Sharon yang meninggalkannya tadi.


Setibanya di ruangan kerjanya, Sharon terlihat tampak serius mengerjakan satu demi satu dokumen yang ada di mejanya. Karena sudah ada Charles disana, ia segera menghampirinya untuk meminta tanda tangan darinya.


Menatap berkas, dan Sharon secara bergantian. Kemudian, ia tampak tersenyum jahat di hadapan gadis itu, dan hal itu tentu saja membuat Sharon kebingungan. Apa yang sebenarnya di lakukan pria itu? Kenapa tiba-tiba saja dia tersenyum seperti itu?


"Perasaanku tidak enak. Pasti ada suatu hal yang sedang di fikirkan olehnya." Sharon menggerutu dalam batinnya. Kesal karena Charles tak kunjung menandatangani berkasnya, Sharon segera berlalu dari sana.


"Hey! Apa kau sudah tidak membutuhkan tanda tanganku lagi?" Gumamnya yang masih memamerkan senyumnya itu.


"Berkasnya ada di hadapanmu, tentu saja aku masih membutuhkannya, dan berkas itu akan di bawa untuk meeting nanti. Jadi, cepat kau di tanda tangani!"


"Aku tidak ingin menandatanganinya sebelum kau memenuhi satu permintaanku."


"Dugaanku memang tidak salah." Lagi-lagi batinnya kembali menyeru. "Apa permintaanmu? Aku harap bukan hal yang aneh." Ucapnya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, dan menatap serius wajah Charles dengan seksama.


Bersambung ...