
Ketika operasi sedang berlangsung, seorang datang dengan tersengal. Raut wajahnya terlihat begitu marah, dan tak lama kemudian seseorang menyusul dari belakang orang tersebut. Orang itu juga tampak kecewa ketika membaca pesan yang di baca beberapa menit yang lalu.
"Dimana Sharon? Katakan padaku sekarang juga!"
"Kak Nick, dia sudah berada di dalam, dan operasi tengah di lakukan."
"Jadi, kau sudah mengetahui ini? Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau mengizinkannya untuk melakukan itu, Kent?" Sahut seseorang dengan air mata yang menetes keluar. "Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Lanjutnya lagi.
"Maafkan aku, Alice. Kami disini sudah mencoba untuk menahannya, namun kau pasti tahu bagaimana keras kepalanya dia? Kau mengenalnya lebih dari aku."
"Sebaiknya kita berdo'a agar operasi berjalan lancar, dan mereka bisa kembali pada kita semua." Ucap Bill yang mencoba menenangkan keadaan.
Dengan gelisah mereka menunggu hasil operasi yang di dalam. Nick pun terlihat berjalan kesana kemari, dan wajah Kent terlihat begitu semakin risau. Ingin rasanya mereka mendobrak pintu operasi untuk mengetahui sampai kapan operasi itu berjalan.
Di waktu yang bersamaan, operasi masih berjalan dengan tenang. Tidak terlihat efek samping pada tubuh keduanya, denyut jantung keduanya pun masih berdetak normal, dan kondisi mereka masih terbilang stabil.
Kemudian, pencakokkan dilakukan, dan mulai di pindahkan kedalam tubuh Charles. Terdapat dua dokter utama yang menangani operasi tersebut, yaitu dokter Marvin, dan dokter Aron. Saat pencakokkan sudah hampir selesai, tiba-tiba saja sesuatu terjadi.
"Dokter Marvin! Nona Hwang mengalami kejang, detak jantungnya pun menurun drastis!" Sahut dokter anestesi yang mencoba mengontrol monitor.
Melihat reaksi yang di takutkan terjadi, dokter Marvin segera mengambil tindakan agar kejang yang di alami oleh Sharon bisa segera berlalu. Meski kejangnya berhenti, denyut jantungnya terus menurun, dan petugas di dalam segera mengambilkan defibrilator.
"20 joule, siap!" Dokter Marvin langsung melakukannya hingga denyutnya kembali normal.
Operasi berlangsung 2 jam. Saat lampu yang berada di luar ruang operasi padam, itu menandakan jika operasi telah selesai. Mereka yang menyadari hal tersebut pun langsung bangun dari duduknya. Tidak, tidak semuanya menyadari saat operasi telah selesai, Kent, dan Nick, mereka lah yang menyadarinya lebih dulu.
Keduanya sudah tampak berdiri tepat di depan pintu ruang operasi untuk menghadang dokter yang bertanggung jawab atas operasi itu. Asisten dokter, dan beberapa perawat keluar dari sana, sedangkan yang lainnya masih berada di dalam untuk membantu sisanya.
Tidak melihat dokter Marvin, dan dokter Aron keluar dari sana, membuat mereka yang menunggu semakin cemas, dan juga gusar. Nick sudah tidak sabaran untuk mengetahui hasilnya, hingga dokter Marvin keluar, dan Nick langsung menahan langkahnya saat itu juga.
"Pencakokkan berhasil di lakukan. Tidak terlihat penolakkan dalam tubuh Charles. Kemungkinan dia akan segera pulih, dan akan kembali mendapatkan kesadarannya."
"Dalam operasi itu, bukan hanya ada Charles 'kan? Dalam operasi itu terdapat dua tubuh, dan dua nyawa. Dokter hanya mengatakan keadaan satu orang saja, lalu bagaimana dengan satu yang lainnya?" Nick menatap dokter Marvin dengan begitu tajam.
"Benar. Bagaimana Sharon? Aku hanya ingin mendengar kabar baik darimu, sama seperti apa yang dokter ucapkan ketika membahas soal kondisi Charles." Sambar Kent yang tak kalah tajamnya.
Mendengar kecemasan pada kedua orang itu, membuat Charlie pun kembali merasakan kekhawatiran, dan dokter Marvin menghela nafasnya seraya melepaskan masker yang masih menggantung pada telinganya.
"Mengenai Sharon, gadis itu sudah berusaha melawan alerginya dengan begitu baik, dia..."
"... alergi? Alergi apa yang dokter maksudkan?" Sambar Charlie.
"Apa dia tidak mengatakannya pada kalian? Ketika memberitahu hasil pemeriksaan padanya, aku mengatakan jika dia memiliki alergi pada obat anestesi."
"Apa yang dokter katakan? Bukankah anestesi sangat di butuhkan saat operasi? Bukankah gejalanya akan membuatnya dalam kondisi berbahaya?"
"Berbahaya? Charlie, kau tahu mengenai tentang medis?" Sahut Kent yang langsung menatap pria di sisinya.
"Aku pernah membacanya sesekali mengenai medis."
"Jadi, apa gejala yang akan di timbulkan saat seseorang menderita alergi obat anestesi?" Kini, Alice membuka suara, dan suaranya sudah terdengar begitu parau.
"Salah satunya adalah kejang. Ketika dia sampai mengalami kejang saat operasi berlangsung, dan membuat detak jantungnya menurun, maka..." Charlie menggantungkan ucapannya, dan langsung beralih menatap dokter Marvin yang masih berada di sana.
Melihat Charlie yang menatap tajam dokter Marvin membuat mereka disana merasa ada sesuatu yang tidak beres. Alice mengerti tatapan itu, dan Nick tetap mencoba menenangkannya meski dirinya merasa terpukul. Namun, dia berharap jika tidak terjadi sesuatu yang buruk pada sepupunya itu.
"... apa yang terjadi padanya, dokter? Katakan padaku sekarang juga!" Charlie melanjutkan ucapannya dengan nada kesalnya.
Bersambung ...