
Tengah asyik menyantap sarapan, tiba-tiba saja ponsel Charles berdering, dan ia sungguh tak menggubrisnya sama sekali. Ia hanya ingin menikmatinya. Makanan favoritnya tersedia di hadapannya. Mana mungkin ia akan menyia-nyiakannya?
Alplermagronen adalah makanan favoritnya, meski begitu, ia menyantapnya bersama dengan Sharon. Setelah menghabiskannya, masih ada rosti tersisa disana, satu potong terakhir tergeletak begitu saja.
Ketika hendak menyambarnya, seseorang sudah mengambilnya lebih dulu, dan Charles langsung merebutnya begitu saja. Tak ingin kalah, rosti itu kembali di rebut, dan keduanya pun bertengkar merebutkannya.
"Aku masih lapar, dan rosti ini terlihat begitu lezat." Charles menjelaskan seraya merebutnya kembali, dan hendak memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kau menghabiskan sebagian besar alplermagronennya, dan kau masih ingin menyantap rosti ini? Tidak akan ku biarkan." Balas Sharon yang merebutnya.
Wanita paruh baya yang berada disana tersenyum kecil ketika melihat tingkah putrinya kali ini. Kejadian seperti itu sangat jarang di lihat olehnya. Semenjak suaminya meninggal, Sharon sangat jarang untuk mempeributkan hal kecil, karena ia harus sibuk bekerja kesana kemari. Namun, hari ini, ia dapat melihat putrinya kembali seperti dulu.
Mata Charles terlihat berkaca-kaca ketika Sharon hendak menyantap rosti tersebut, menyadari reaksi Charles yang begitu menyedihkan, membuat Sharon tak tega, dan pada akhirnya ia pun menyerahkan sepotong rosti itu pada pria di hadapannya.
Merasa menang atas pertempuran itu, Charles pun tertawa bahagia seraya menatapi rosti tersebut. Tatapan matanya seolah mengatakan 'kau milikku', hal tersebut sungguh mengundang tawa ibu dari Sharon.
"Ini untukmu." Charles membagi rosti itu, dan memberikannya pada gadis yang tengah menenggak air mineral.
"Aku sudah tidak berselera."
"Bibi, lihatlah putrimu! Dia mengabaikan kebaikan dariku." Rengeknya yang menuju bed seraya menggenggam erat tangan wanita paruh baya tersebut.
"Nak, tidak baik menolak kebaikkan dari orang lain."
"Baiklah aku terima." Umpatnya kesal, dan merebut rosti itu dengan kasar. "Ponselmu terus berdering, mungkin saja penting." Sambungnya lagi.
"Jika begitu aku keluar sebentar untuk menelfon."
Ketika mendapat telfon tersebut, Charles langsung pamit untuk pergi sejenak. Sharon mengantarnya hingga lobby rumah sakit, dan rasanya sangat enggan untuk meninggalkannya sendiri.
•••
Terlihat seorang pria tengah duduk di salah satu bar dengan keadaan setengah mabuk, dan tidak sedikit wanita disana datang menghampirinya. Meski begitu, ia sama sekali mengabaikannya, dan memilih untuk minum seorang diri.
Sudah botol kelima yang ia minum, hingga seseorang datang menghampirinya, dan mengambil botol yang hampir saja hendak dituang kembali. Namun, pria itu tampak mencoba untuk merebutnya kembali.
"Sudah cukup Kent! Kau sudah cukup mabuk."
"Hey Louis. Apa kau berani menantangku?"
"Aku bicara bukan lagi sebagai asistenmu. Tapi, aku bicara sebagai teman baikmu. Apa dengan menyakiti diri sendiri, Sharon bisa kembali begitu saja?"
"Antar aku pulang. Jangan ke rumah, bawa aku ke villa milikku yang ada di Zurich."
"Ini sudah sangat malam, dan butuh waktu 3 jam kesana." Setelah mengatakan hal tersebut, Kent memberikan tatapan yang mematikan, hingga membuat Louis tidak bisa menolaknya.
Malam itu juga Louis mengantar Kent menuju Zurich. Kali ini, Kent terlihat tengah terlelap, dan tidak ada henti-hentinya ia memanggil nama gadis itu. Louis sudah hampir gila meladeninya, seolah tidak ada gadis lain selain dia.
Loyal Blue. Mereka sudah tiba di villa. Perjalanan itu sungguh membuat Louis merasa lelah, belum lagi ia harus memapah temannya ke dalam. Hal seperti ini sungguh menyebalkan baginya.
"Charlie? Apa kau datang bersama ayah?" Sambarnya ketika melihat saudaranya datang, dan Charlie tampak mengacuhkannya.
"Charlie duduklah. Kau juga Charles." Ungkap tuan Austin pada kedua putranya.
"Aku menerima telfon dari dokter Marvin semalam, dan ia melihat Key di rumah sakit saat itu. Apa rasa sakit itu kembali kau rasakan?"
"Sejauh ini tidak ayah. Kau tidak perlu cemas, bukankah operasi pengangkatan yang ku lakukan 2 tahun lalu sudah di katakan berhasil? Dan dokter yang menanganiku pun menyatakan bersih total."
"Tapi saat itu dokter Marvin juga mengatakan, sangat jarang hal itu terjadi. Kemungkinan datang lagi bisa saja terulang. Aku sungguh tidak bisa bayangkan jika kau harus terbaring lagi di rumah sakit."
"Sejak kapan kau menjadi cengeng seperti ini Charlie? Kau juga jangan terlalu khawatir, sejauh ini, aku tidak merasa ada gejala yang aneh-aneh itu lagi."
"Lantas kemana saja kau sejak kemarin? Meninggalkan kantor begitu saja, dan menyerahkan semuanya pada Key. Apa kau tengah melepaskan tanggung jawabmu?" Umpatnya kesal seraya menarik kerah baju saudaranya.
"Aku menemani temanku untuk menjaga ibunya yang tengah di rawat. Beliau membutuhkan pendonor sumsum tulang belakang, saat itu Key datang ke rumah sakit untuk menyelidikinya."
"Teman? Teman kau yang mana?" Tuan Austin tersenyum, seolah ia tengah menangkap basah putranya, dan ia merasa jika feelingnya benar. Putranya tengah di landa kasmaran.
"Aku rasa seorang wanita." Bisik Charlie pada ayahnya, namun suaranya masih bisa terdengar oleh Charles, dan membuat Charles ingin sekali meninjunya saat itu juga.
"Aku rasa kau benar, nak." Kini tuan Austin membalas bisikkan putranya, dan Charles merasa di pojokkan oleh ayah serta saudaranya sendiri.
•••
Ketika hari telah berganti, Sharon meninggalkan rumah sakit untuk kembali bekerja. Ia berjalan seraya memikirkan banyak hal. Pekan depan, ia harus membayar perawatan rumah sakit. Sedangkan, tabungannya belum terkumpul banyak.
Sembari berjalan, sembari membuka website untuk mencari pekerjaan lainnya. Hingga tanpa di sadari, seseorang menepuk bahunya, dan membuatnya sangat terkejut.
"Alice. Jika saja aku memiliki sakit jantung, mungkin aku akan mengalami kejang."
"Kau berjalan seraya menunduk. Itu sangat berbahaya. Ada apa?"
"Aku tengah menambahkan list paruh waktu ku."
"Kau sudah gila? Kau sudah nonstop bekerja, apa kau tidak lelah?" Mendengar keinginan temannya membuatnya sangat kesal. Bagaimana tidak? Sharon memiliki jadwal yang sangat penuh setiap harinya.
"Jika tidak begitu, bagaimana aku membayar perawatan ibuku?"
"Tapi fikirkan juga kesehatanmu. Baiklah, cepat kau berangkat! Aku akan menemui bibi."
Sharon hanya mengangguk untuk menanggapi seruan temannya itu. Kemudian, ia kembali berjalan seraya memandangi layar ponselnya.
Ketika berada di jalan besar, Sharon masih tidak memalingkan wajahnya dari layar ponsel yang tengah di genggamnya. Hingga suara klakson yang memekikkan telinga pun berhasil membuatnya sangat terkejut.
Bersambung ...