My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 45



Hari itu Nick telah datang untuk menjemput Sharon. Meski begitu, Sharon masih sangat ragu untuk kembali memasuki rumah tersebut. Jika ada Charles di sisinya, mungkin akan berbeda lagi.


Namun, ia mencoba mengesampingkan egonya, dan akhirnya mereka pun segera berangkat menuju ke kediaman keluarga Sworth. Setibanya disana, bibi, dan neneknya pun sudah duduk di ruang tamu, bahkan pengacara yang di sebutkan oleh Nick kemarin pun sudah berada disana.


"Nick. Untuk apa kau mengajak dia ke rumah ini lagi?"


"Ibu, bisakah kau tenang sedikit? Jika Sharon tidak ada, maka tuan Steve tidak akan bisa membacakan isi wasiat kakek."


"Memang apa hubungannya dengan dia?"


"Karena nona Sharon merupakan salah satu pewaris tuan Duke." Sambung pengacara Steve.


"Apa? Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa ayahku menyelipkan nama dia?"


Melihat reaksi tersebut sungguh membuat Steve merasa sakit kepala. Kemudian, ia memberikan copyan surat tangan dari Duke Sworth kepada Iriana. Sekilas ia membaca, dan juga meremasnya kesal.


Tak ingin berlama-lama, Steve segera membuka koper kerjanya, dan mengambil beberapa dokumen di dalamnya. Dengan perlahan ia membuka file tersebut, dan mulai membacakannya.


"Pada hari ini, saya Duke Sworth secara sadar menyatakan bahwa saya adalah pemilik sah atas harta kekayaan yang berupa:


Perusahaan Sworth Company, dan beberapa anak cabang,


Villa Star Royal yang bertempatan di Zurich,


Rumah berserta sertifikat hak milik,


Kewajiban lainnya.


Dengan surat ini, saya bermaksud untuk mewariskan hal yang di sebutkan kepada:



Nick Sworth, dengan nilai saham Sworth Company sebesar 65%, Iriana Sworth sebesar 10%, istriku sebesar 10%, dan cucu perempuanku, Sharon Sworth sebesar 15%."



"Kenapa dia mendapatkan lebih besar dariku? Bukankah aku putrinya?" Sambar Iriana.


"Maaf nyonya, ini yang tertulis dalam surat. Jadi, apa aku bisa melanjutkannya?"


"Silahkan dilanjutkan tuan Steve." Nyonya besar Sworth menyahut.


"2. Villa Star Royal beserta sertifikat lainnya akan diberikan kepada Sharon Sworth selaku putri dari Ozan Sworth.



Rumah akan dikelola oleh Nick Sworth selaku putra dari Iriana Sworth.


Properti lainnya, akan di urus oleh Bella Sworth selaku istriku.



"Aku menentang ini, dan tidak setuju dengan apa yang dimiliki oleh gadis itu. Ibu, bukankah ayah begitu membencinya? Kenapa tiba-tiba ayah jadi peduli dengannya?"


"Ayahmu tidak pernah mengatakan jika dia membencinya, dan aku tidak keberatan dengan keputusan yang di ambil oleh ayahmu. Bagaimana pun, Sharon adalah cucu kami. Tuan Steve, kau bisa menyerahkan kunci villa beserta sertifikatnya pada Sharon."


Mengerti akan hal tersebut, Steve kembali membuka kopernya, dan mengambil kunci serta sertifikat Star Royal. Bukan hanya itu, Steve juga meminta Sharon untuk menanda tangani salah satu berkas.


Berkas tersebut akan di gunakan untuk mengalihkan nama pemilik villa, dari Duke Sworth menjadi Sharon Sworth/Hwang. Masih menatapi berkas tersebut, Sharon tidak tahu harus bagaimana.


"Maaf, aku tidak bisa menerimanya. Aku sungguh merasa tidak pantas untuk menerima semua itu." Sahut Sharon seraya menyimpan pen yang tengah di genggamannya.


"Nona, aku yakin jika kau sudah membaca surat yang diberikan oleh tuan Duke, kan? Tuan Duke sangat berharap kau mau menerimanya." Steve mencoba meyakinkannya.


"Tuan Steve benar, Sharon. Kakek akan semakin merasa bersalah jika kau tidak menerimanya. Apa kau ingin kakek tidak tenang disana? Dan kembali bermusuhan pada ayahmu di kehidupannya kelak?" Nick mengambil alih.


"Aku hanya menerima saja bukan? Jika tidak menempatinya, apa tidak masalah?"


"Itu tidak masalah. Tapi, alangkah baiknya jika nona menempatinya."


•••


Satu masalah selesai, dan hari sudah mulai sore. Kini, Sharon berada di Zurichhorn, ia terus menatapi kunci villa yang berada dalam genggamannya. Dirinya tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.


Tanpa sadar. Seseorang memperhatikanya dari jauh, dengan sebuah senyuman kecil orang tersebut berjalan menghampirinya. Sudah berada di dekatnya, Sharon masih tak menyadari kehadiran seseorang.


Mendengar gadis itu menghela nafasnya, tentu membuat orang dibelakangnya kembali tersenyum, dan memeluknya saat itu juga. Sharon yang merasakan hal tersebut pun begitu terkejut, dan segera membalikkan tubuhnya.


"Astaga, ku fikir siapa yang berani melakukan ini? Ternyata kau."


"Apa kau mengharapkan kedatangan orang lain selain aku?" Pria itu tampak membungkukkan tubuhnya agar mampu mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis di hadapannya.


"Tidak Charles, bukan seperti itu maksudku. Ini tempat umum, kau tiba-tiba datang memelukku secara tiba-tiba. Tentu saja aku takut jika orang lain salah alamat atau bisa jadi orang mesum yang melakukannya."


"Jadi, hanya aku seorang yang di izinkan memelukmu? Begitukah? Benarkah?" Charles menggodangnya, dan semakin mendekatkan wajahnya.


"Hhmm. Seandainya aku menjawab tidak, apa kau akan baik-baik saja jika ada seseorang yang memelukku? Ah tidak, mungkin aku lah yang akan datang memeluk orang itu." Sahut Sharon seraya mengusap rahangnya dengan jari telunjuknya.


"Selain aku, memang siapa yang berani kau peluk, hah? Kent? Nick? Atau siapa? Beritahu aku sekarang juga orangnya! Maka aku akan membuatnya menyesal." Rutuk Charles dengan kesal, dan melihat reaksi tersebut sungguh mengundang tawa dari bibir Sharon.


"Tidak ada. Hanya kau." Sharon memeluknya, dan Charles membalas pelukan tersebut seraya tersenyum.


Bersambung ..


Attention: Jika kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa untuk memberikan rate. Agar author semakin semangat lagi. Berikan 5 ya😆


jiwakemarukanmeronta