
Setelah mengobati luka lebam pada punggung Charles. Sharon segera menyimpan kembali mengkuk serta handuk kecil yang di bawanya tadi. Ketika kembali ke kamar, Sharon segera berbaring di ranjang seraya menyematkan selimut ke tubuhnya.
Tampaknya Charles pun sudah terlelap sejak lukanya selesai di obati. Kemudian, Sharon memutuskan untuk memejamkan matanya, namun ia begitu takut saat hendak melakukannya. Hingga ia terus membuka kedua matanya, dan enggan untuk menutupnya.
Hari sudah semakin larut, dan malam semakin gelap serta sunyi. Sampai saat itu, Sharon masih tak bisa tidur, dengan cepat ia berbalik untuk menghadap ke arah Charles. Tangannya melayang ragu ketika hendak menyentuh pria di hadapannya.
"Charles." Gumamnya dengan suara yang terdengar sedikit parau. "Charles, bisakah kau membuka matamu sebentar?" Sambungnya lagi.
"Ada apa?" Charles membalas, namun kedua matanya enggan untuk terbuka.
"Dia begitu lelah. Tidak mungkin untukku mengganggunya. Tapi, aku sangat takut." Batinnya yang kemudian kembali memunggungi Charles yang tengah terlelap.
Ketika jarum jam sudah berada di angka 3 pagi, Sharon masih tetap terjaga. Sulit untuknya memejamkan matanya, hingga ia pun merasa terkejut ketika tangan Charles melingkar di pinggangnya.
Mendengar sebuah suara, membuat Charles membuka matanya, dan bangun setengah badan agar mampu melihat apa yang terjadi pada wanita di hadapannya. Ia begitu terkejut ketika melihatnya masih terjaga, dengan cepat Charles memaksa tubuh Sharon untuk menghadap ke arahnya.
"Apa yang terjadi? Apa sejak tadi kau belum juga tertidur?" Sahutnya menahan tubuhnya menggunakan lengannya. "Ada apa? Kenapa menangis? Kenapa tidak membangunkanku?" Lanjutnya lagi.
"Aku takut, Charles. Ketika hendak memejamkan mataku, rasa takut itu kembali menjalar, dan itu membuatku takut untuk tidur."
"Apa yang kau takutkan? Katakan padaku!"
"Aku takut jika aku tertidur, maka aku tidak bangun lagi seperti sebelumnya." Tuturnya dengan suara yang parau, dan air mata menetes perlahan.
"Kemarilah, dan duduklah di pangkuanku!" Kemudian, Charles mengangkat tubuh Sharon agar duduk dalam pangkuannya.
Layaknya seorang anak kecil, Charles memangku Sharon, dan Sharon menyandar pada bahu suaminya. Charles memberikan pelukan yang begitu hangat, dan meminta wanita dalam pelukannya itu untuk tidak mengkhawatirkan banyak hal.
"Kau tenang saja. Semua akan baik-baik saja! Aku pastikan jika pagi nanti kau akan kembali padaku! Sekarang tidurlah!" Imbuh Charles yang menepuk-nepuk punggung Sharon, dan secara perlahan Sharon pun terlelap.
Menyadari hal itu membuat Charles tersenyum kecil. Melihat tingkah manja wanitanya membuat dirinya merasa gemas, tidak ingin menganggu posisi tidurnya, Charles duduk menyandar pada dinding ranjang, dan mulai memejamkan kedua matanya.
•••
Matahari pagi telah menyinari kota Zurich dengan begitu teriknya, dan Charles membuka matanya secara perlahan. Mengetahui jika wanita di pangkuannya belum juga terbangun, lantas membuat Charles untuk mencoba membaringkannya agar ia dapat tertidur dengan nyaman.
Tangan Charles mengusap lembut wajah Sharon, kemudian senyumannya terlukis di bibirnya hingga ia pun segera bangun dari ranjangnya untuk menyiapkan sarapan.
"Hey, kenapa terbangun? Tidurmu sangat tidak nyenyak, ya?" Gumam Charles, dan Sharon langsung menganggukkan kepalanya. "Jika begitu, bersiaplah! Kita akan pergi ke rumah ayah, lalu ke rumah Nick, setelah itu kita akan pergi ke semua tempat yang kau inginkan. Dengan begitu, aku harap fikiranmu bisa rileks."
"Aku akan menyiapkan sarapan untukmu."
"Tidak perlu. Tubuhmu masih lemah, kita akan sarapan di rumah ayah." Tuturnya lagi seraya mengusap puncak kepala wanita di hadapannya.
Satu jam kemudian, keduanya telah siap, dan mereka segera pergi menuju tempat yang sudah di rencanakan. Dalam perjalanan menuju kediaman Austin, tanpa sadar, Sharon memejamkan kedua matanya, dan lagi-lagi sebuah senyuman terlukis di bibir Charles ketika ia mengetahuinya.
Terdengar suara ponsel berdering, dan itu berasal dari ponsel Charles. Melihat nomor yang di kenal membuatnya langsung menerimanya. Key, dia menanyakan kehadiran Charles saat itu, banyak dokumen penting yang harus secepatnya di periksa oleh, terlebih mengenai serah terima S.Every.
"Key, aku memutuskan untuk mengembalikkan S.Every pada mereka." Ucapan Charles sungguh membuat Key terkejut ketika mendengarnya.
"Tuan, apa anda bercanda? Kau yakin akan mengembalikkannya pada James Raven?"
"Tidak! Aku tidak mengembalikkan itu pada James. Ubahlah nama pemiliknya menggunakan nama Gwen Raven."
"Maafkan aku jika aku lancang. Tapi, kenapa tiba-tiba anda berubah fikiran? Apakah ada alasan lain yang tidak boleh ku ketahui?"
"Ini permintaan Sharon padaku, dan aku rasa ucapannya memang benar."
"Ah jadi begitu." Balasnya, dan seketika Key terdiam ketika mendengar direkturnya menyebutkan nama istrinya sebagai alasan ia berubah fikiran. "Tunggu, tadi tuan menyebutkan nama nona Sharon, apa aku tidak salah dengar?" Imbuhnya lagi dengan nada kebingungan.
"Kau tidak salah dengar, Key! Saat ini dia tengah berada di sampingku, maka dari itu aku tidak bisa ke kantor hari ini. Seperti biasa, aku percayakan Austin Industries padamu!"
"Tuan, aku mohon jangan terlalu berlarut. Sebaiknya anda kembali ke kantor, aku tahu jika anda sangat merindukannya. Namun, aku percaya jika nona Sharon akan segera kembali pada kita semua."
"Apa maksud ucapanmu itu? Sharon sudah mendapatkan kesadarannya, dan kau bicara seolah ia masih terbaring koma." Charles menyahut kesal.
"APA? Jadi, nona Sharon sudah sadar? Benarkah begitu?"
"Datanglah ke rumahku jika kau tidak mempercayainya! Aku dalam perjalanan ke rumah ayahku sekarang." Titah Charles yang langsung mematikan panggilannya.
Bersambung ...