
Mendapat tatapan itu hanya membuat Sharon menghela nafasnya, kemudian ia menyuapi satu suapan zürcher geschnetzeltes ke dalam mulut Charles. Satu sendok full ia masukkan, dan membuat mulut Charles terisi penuh, namun tatapan masih tetap menatapnya dengan begitu intens.
“Lupakan saja, dan habiskan makananmu!” Pinta Sharon yang kembali memasukkan satu suapan lagi. Meski enggan melupakannya, Charles tetap tak bisa menolak suapan-suapan yang di layangkan oleh wanita di hadapannya.
Saat makanan telah habis, dengan cepat Charles menenggak airnya, sedangkan Sharon segera membereskan kotak makannya. Ketika hendak bangun dari duduknya, Charles menarik wanita itu hingga terjatuh dalam pangkuannya, dan dalam sekejap, wajah Sharon memerah bagaikan kepiting yang siap di santap.
“A-apa y-yang kau lakukan?” Wanita itu tampak gugup saat bersuara, ia bahkan tak berani untuk memandang wajah pria di hadapannya.
“Apa yang akan ku lakukan tergantung dengan jawaban yang kau berikan padaku!” Saat ini Charles menyentuh dagu Sharon agar ia mau menatap wajahnya.
“J-jawaban apa yang kau inginkan? Memangnya pertanyaan apa yang kau ajukan padaku?”
“Soal pertanyaan terakhirku, gaun pernikahan.” Tuturnya lagi, dan Sharon kembali bungkam akan hal tersebut. “Jika kau diam, jangan salahkan aku jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Namun, melihat kebungkamanmu, aku rasa kau ingin hal yang tidak di inginkan itu terjadi, ya?” Godanya dengan senyum usilnya.
“I-itu, s-sejak ta-tadi aku tidak melamunkan soal gaun.” Ucapnya dengan suara yang lantang, dan memberanikan diri untuk menatapnya. “Pikiran itu terlintas begitu saja, dan bibirku mengatakannya secara spontan.” Sambungnya lagi dengan nada suara yang terdengar lebih rendah, dan secara bersamaan ia kembali menundukkan pandangannya. Meski begitu suaranya masih terdengar jelas di telinga Charles.
Sebuah senyuman terukir di sudut bibir pria itu. Lagi-lagi, ia meminta wanita di hadapannya untuk tidak memalingkan pandangannya, kemudian Charles mendekatkan wajahnya menuju wajah Sharon, saat hidung mereka sudah saling menyentuh, Sharon mendorong pelan tubuh suaminya.
“Ini bukan di rumah! Bagaimana jika ada yang masuk?” Gumam Sharon dengan jantung yang berdebar begitu cepat.
“Jika begitu ayo kita pulang saja!” Charles mengedipkan kedua matanya berulang kali. “Dengan begitu kita bisa leluasa untuk...”
“... pria mesum.” Dengan cepat Sharon beranjak dari pangkuan Charles, dan mengangkat kotak bekal yang telah ia bereskan tadi.
“Apa tidak boleh jika aku seperti itu pada istriku sendiri?” Kini, Charles mengeluarkan jurus andalannya, yaitu dengan memasang wajah memelasnya di hadapan Sharon.
“Aku tidak akan termakan dengan ekspresimu yang satu itu lagi!” Setelah mengatakan itu, Sharon langsung melangkah keluar dari ruangan direktur, dan tidak ingin di tinggalkan, Charles lekas mengejarnya sebelum wanita itu memasuki lift.
Ketika hendak memasuki lift, Sharon begitu terkejut saat pintu lift itu terbuka, Charles yang baru tiba pun menghentikan langkahnya begitu sadar jika wanita di kejarnya berhenti secara mendadak. Melihat wajahnya yang terkejut, Charles segera mengalihkan pandangannya ke arah yg di lihat olehnya.
Kini, bukan hanya Sharon yang terkejut, Charles merasakan hal yang sama. Tidak di sangka-sangka jika mereka akan datang ke Austin Industries tanpa memberi kabar terlebih dahulu, dan entah apa tujuan kedatangan mereka ke tempat itu.
Melihat kedua orang di hadapannya terbelalak, tentu membuat orang yang baru tiba itu merasa berhasil karena telah membuat keduanya terkejut. Tidak lama kemudian, mereka pun tertawa kecil saat menyadari ekspresi keduanya terlihat mirip.
“Kalian tiba-tiba datang tanpa berkata apa-apa, dan tiba-tiba saja muncul di balik pintu lift itu, bukankah wajar jika kami terkejut? Lagi pula, kita belum pernah bertemu lagi setelah pernikahan kalian.” Gerutu Charles.
“Apa yang membawa kalian kemari? Kenapa harus sampai datang ke Austin Industries?” Sharon menambahkan.
“Sebelum kemari, kami bertemu dengan Nick, dan juga Alice untuk melihat sudah sejauh mana persiapan mereka, dengan begitu, mungkin ada hal yang bisa kami bantu. Namun, persiapan mereka sudah sangat maksimal. Lalu, kita memutuskan untuk menuju villa kalian, dan pegawai disana mengatakan jika kalian berada disini, maka dari itu kami datang kemari.”
“Bodoh! Kau ‘kan bisa menghubungi kami, dengan begitu kalian tidak perlu repot datang kemari. Natasha sedang hamil muda, dia tidak boleh kelelahan, apa kau tidak mengerti?” Dengan kesal Sharon mengutarakan pendapatnya, dan hal itu di sambut dengan senyuman oleh Natasha maupun Kent.
“Terima kasih karena telah mengkhawatirkan istriku, tapi dia yang sungguh tidak sabaran untuk bertemu denganmu, Sharon. Maka dari itu, kami memutuskan untuk segera kemari.”
“Alangkah baiknya jika kita pergi ke cafe dekat sini, dengan begitu kita bisa banyak berbincang-bincang.” Charles menengahi pembicaraan antara Kent, dan juga istrinya. Dia sangat tahu, jika keduanya pasti masih akan berlanjut adu mulut jika tidak di pisahkan.
Seperti yang Charles ucapkan, akhirnya mereka pergi menuju cafe terdekat, dan mereka memesan beberapa makanan kecil, tak lupa Charles menyediakan cheese fondue kesukaan istrinya. Melihat hal tersebut membuat Kent tersenyum tipis, karena bagaimana pun, ia juga masih mengingat betul jika wanita di hadapannya sangat menyukai makanan tersebut.
Sadar karena mendapat tatapan dari orang di seberang mejanya tentu membuat Sharon merasa tidak nyaman, tentunya karena status keduanya yang sudah berbeda, dan lebih tepatnya sudah tidak adanya hubungan antar mereka.
"Jadi, kapan kalian tiba disana?" Charles menyeru ketika menyadari jika seseorang tengah menatapi istrinya yang tengah menyantap makanan kesukaannya.
"Aah kemarin malam kita tiba disini, dan akan di kota ini sampai pernikahan kalian selesai di laksanakan." Timpal Kent.
"Aku sudah melihat cantiknya gaun pernikahan milik Alice, apa kau membolehkan aku untuk melihat milikmu?" Sambar Natasha, dan mendengar itu membuat Sharon tersedak secara bersamaan. Namun, dengan cepat Charles meminta segelas air mineral pada salah satu pelayan disana, ketika air itu datang, Sharon langsung menenggaknya.
"Soal itu, aku..." Sharon terdiam, dan memutar otaknya agar mampu memberikan jawaban yang masuk akal. "... maaf bukan aku tidak ingin memperlihatkannya padamu. Tapi, hal itu sangat spesial, dan kalian akan mengetahuinya saat hari pelaksanaan nanti, dengan begitu kalian akan terkejut dengan design gaun milikku." Lanjutnya lagi di sertai tawa kecil yang terdengar di paksakan.
"Ck. Hati, dan lisannya sungguh tidak selaras!" Charles berdecak dalam hatinya dengan senyum kecil di bibirnya seraya mengusap pelan puncak kepala wanita di sisinya. "Baiklah. Dengan berat hati, kami harus pamit, karena ada beberapa barang yang ingin kami beli untuk persiapan lusa." Lanjutnya yang langsung bangun dari duduknya.
"Barang apa lagi yang ingin kau beli? Bukankah persiapan su..."
"... ada yang terlewat olehku. Ayo!" Secara bersamaan Charles menarik lengan istrinya, dan melambaikan tangannya saat membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung ...