My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 136



Setelah bicara banyak, Nick, dan Alice meninggalkan mereka untuk menyambut para tamu lainnya. Ketika Nick telah pergi, Charlie pun menyusul, ia ingin memperkenalkan Gwen pada beberapa rekan kerjanya yang hadir disana. Kini, hanya tersisa Kent, Natasha, Charles, dan Sharon saja disana.


Mereka tampaknya masih betah berbicara banyak hal. Namun, tiba-tiba saja cengkraman Sharon terasa begitu erat pada lengan Charles, hingga hal tersebut membuat pria di sisinya menoleh dengan raut yang sedikit khawatir.


"Ada apa? Kau baik-baik saja 'kan?" Gumam Charles dengan nada suara yang begitu pelan.


"Bisakah kita duduk? Kepalaku terasa pusing." Sharon membalas bisikkan suaminya.


"Sharon, ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kau terlihat pucat?" Natasha yang melihat raut wajah Sharon pun merasa agak khawatir.


"Dia tidak apa-apa. Mungkin hanya lelah, kami permisi sebentar, kalian nikmatilah pestanya!" Charles menyelanya, dan berjalan meninggalkan mereka bersama dengan Sharon. "Apa kau sanggup berjalan?" Sungguh, Charles merasa sangat khawatir, karena keringat wanita di sisinya terus mengalir.


"Tentu saja. Jika aku tak sanggup berjalan pun, bukankah ada dirimu di sisiku yang siap untuk menahanku agar tidak terjatuh?"


"Astaga, istriku ini sudah benar-benar pintar merayu." Sebuah tawa kecil terdengar dari arah Charles. Hingga mereka pun tiba di ruang make up, dan Charles memberikan segelas air untuk wanitanya.


Setelah menghabiskan satu gelas itu, Charles lekas menyimpannya kembali, dan duduk di sisi wanitanya. Pria itu meminta Sharon untuk bersandar pada bahunya, bukan hanya itu, ia bahkan menyuruhnya untuk tidur sejenak jika rasa lelah itu benar-benar di rasakannya.


"Maaf karena sudah mengacaukan pesta yang telah kau buat." Gumam Sharon yang masih bersandar manja di sana.


"Siapa mengacaukan apa? Tidak perlu mengkawatirkan hal itu! Bagiku, kesehatanmu adalah nomor 1, mengerti?" Mendengar hal itu hanya membuat Sharon menganggukan kepalanya.


Pesta telah selesai di laksanakan, dan mereka telah kembali ke rumahnya masing-masing. Berbeda dengan Nick, saat pesta berakhir, ia bersama dengan istrinya lekas pergi menuju negeri sakura untuk menikmati musim gugur yang ada di sana. Mereka memilih Jepang untuk tempat berbulan madu, karena Alice sangat ingin pergi ke sana, dan Nick tidak bisa menolak permintaannya.


Sedangkan, Kent, dan Natasha pun kembali ke Bern untuk mengunjungi orang tuanya. Saat mereka kembali berlibur, mereka justru belum bertemu dengan keduanya sama sekali, karena setibanya di Swiss, mereka memutuskan untuk menetap di Zurich terlebih dahulu.


Meski matahari telah berganti bulan, tampaknya hal itu tidak membuat Charlie lelah sedikit pun. Kini, ia tengah berada di sebuah danau, danau yang terletak tepat di bawah jembatan. Ia berbaring tepat pada kap mobil miliknya, tentu saja di temani oleh Gwen. Keduanya berbaring santai disana seraya menatap langit yang terang dengan cahaya bulan.


"Gwen, bersediakah kau menikah denganku?" Tutur Charlie yang masih menatap langit hitam itu.


"Apa ini bisa ku anggap sebagai sebuah lamaran darimu?"


"Tentu saja, kenapa? Apa terlihat begitu aneh? Aku bukanlah Charles atau seperti pria lainnya yang bisa mengutarakan atau mengekspresikan sebuah lamaran dengan begitu romantis. Bagiku, ketulusan, dan jawabannya lah yang terpenting."


"Jadi, kau menerima lamaranku?" Charlie langsung menolehkan kepalanya, dan wanita itu pun mengangguk dengan cepat.


Tanpa aba-aba, ia turun dari atas kap mobil, dan menggendong Gwen turun dari sana. Ia sungguh bahagia mendengar jawaban yang keluar dari bibir wanita di hadapannya. Sebuah pelukan erat di terima oleh Gwen, hingga ia mendorong pelan pria di hadapannya.


Pelukan itu terasa menyesakkan untuknya, dan Charlie hanya terkekeh menyadari hal itu. Namun, Gwen menuturkan satu permintaan padanya. Dia ingin Charlie mengizinkan dirinya untuk kembali ke Jerman, setidaknya ia harus melihat kabar sang ayah, bagaimana pun James adalah ayahnya. Selicik apapun James, pria itu tetaplah berjasa dalam hidupnya. Hingga akhirnya, Charlie pun memberi izin dengan syarat, jika mereka harus pergi bersama.


Di waktu yang bersamaan, Charles tampak tengah membaca buku yang berada dalam genggamannya. Sedangkan Sharon, ia duduk tepat di hadapan suaminya seraya membereskan pakaian miliknya. Sesekali ia menatap Charles yang sibuk dengan bukunya, dan bukan Charles jika dia tak menyadari hal sekecil itu.


"Apa yang ingin kau katakan padaku?" Charles menutup bukunya seraya melepas kacamatanya, dan menyimpan buku itu pada nakas yang terletak pada sisi ranjangnya.


"Bagaimana kau tahu jika aku ingin membicarakan sesuatu?" Melihat reaksi Charles sungguh membuatnya tidak menyangka jika pria di hadapannya akan peka sampai seperti itu.


"Jadi??"


"Saat aku mengatakannya, berjanjilah satu hal! Kau tidak akan marah padaku!" Tuturnya sedikit ragu, dan Charles menganggukkan kepalanya menanggapi hal tersebut. "Jika suatu hari nanti rasa sayangku padamu terbagi pada seseorang bagaimana? Apa kau akan tetap mencintaiku, dan bersamaku?" Imbuhnya lagi.


"Apa maksud ucapanmu itu, hah? Jadi, kau memiliki orang lain? Kau berhubungan dengan pria lain? Katakan siapa pria itu? Aku tidak akan membiarkan dia untuk merebutmu dari sisiku. Aku tidak peduli, jika suatu saat perasaanmu padaku luntur sekali pun, aku akan tetap memaksamu untuk tetap berada di sisiku. Bahkan, aku..."


"... aku bahkan belum selesai bicara, dan kau langsung berpikir yang tidak-tidak seperti itu. Apa kau tengah meragukan perasaanku?" Tutur Sharon seraya mempoutkan bibirnya.


"Tidak, bukan seperti itu maksudku. Hanya saja kau berkata hal yang begitu ambigu untukku."


"Bagaimana tidak terasa ambigu? Kau langsung menyelanya tanpa mendengar keseluruhannya. Sudahlah, sebaiknya kau lihat sendiri saja!" Dengan cepat Sharon menyerahkan sebuah amplop putih pada pria di hadapannya.


Charles menerimanya, namun ia sedikit ragu untuk membukanya. Tidak biasanya wanita ini menyerahkan sebuah amplop yang terlihat begitu resmi padanya. Tapi, jika di lihat-lihat terdapat sebuat stempel rumah sakit disana, dan hal itu justru membuatnya panik, kemudian tanpa berlama-lama lagi, ia segera menarik kertas yang ada di dalamnya.


"Ini?" Charles terkejut saat mengetahui isi dari amplop itu.


Bersambung ...