
"Karena aku adalah ayahnya." Celetuk Nick seraya menjulurkan lidahnya.
"Tapi aku menginginkan anak perempuan."
"Anak laki-laki akan lebih menyenangkan, Alice."
"Jika laki-laki, dia pasti akan sibuk sepertimu, dan tidak memiliki banyak waktu di rumah. Jika perempuan, dia pasti akan menghabiskan waktu bersamaku, membantuku memasak, bermain bersama, dan..."
"... baiklah kita lihat saja nanti, perempuan atau laki-laki." Nick menggumam seraya tertawa kecil. "Namun, aku sangat yakin jika anak kita seorang laki-laki." Ujarnya lagi seraya mencubit kedua pipi Alice.
•••
Di tempat yang berbeda, Charles, dan Sharon tengah berada di salah satu rumah sakit. Itu adalah waktunya ia kontrol mengenai kandungannya. Lagi-lagi Sharon melakukan USG untuk ke sekian kalinya, keduanya ingin mengetahui perkembangan bayi kembarnya.
Terlihat jelas di monitor ketika keduanya bergerak, dan itu sungguh menggemaskan bagi mereka yang melihat. Tanpa sadar air mata Charles menetes ketika mengetahui perkembangan mereka di dalam rahim istrinya.
Ketika tengah menoleh, Sharon begitu terkejut saat melihat air mata suaminya menetes dari kedua matanya. Menyadari hal tersebut, dengan cepat Charles mengusapnya, sedangkan Sharon tersenyum seraya mengangkat kedua alisnya, dan di balas gelengan oleh Charles.
"Mereka benar-benar sehat, dan sejauh ini tidak ada kelainan pada keduanya. Selain itu, tidak ada komplikasi juga yang terjadi." Sahut Yarry seraya melepaskan sarung tangan karetnya.
"Apa aku bisa melahirkan secara normal?" Sharon membuka suara.
"Jika tidak terjadi sesuatu di bulan 9 nanti, kau bisa melahirkan secara normal. Tapi, jika menjelang persalinan ada hal yang tidak terduga, kita harus mengambil tindakan operasi."
"O-operasi? Apa tidak ada jalan lagi selain operasi?" Seketika wajah Charles menjadi cemas.
"Tidak ada. Memang ada apa?" Yarry sungguh penasaran dengan hal tersebut, karena saat dia mengucapkan kalimat 'operasi' seketika keduanya pun menjadi khawatir.
"Sharon memiliki alergi anestesi, karena itu aku tidak ingin membuatnya masuk ke dalam ruang operasi lagi. Aku tidak ingin melihatnya terbaring koma untuk kedua kalinya akibat operasi, itu sungguh menakutkan."
"Kau pernah mengalami koma akibat alergi anestesi? Benarkah begitu? Operasi apa yang kau lakukan pada saat itu, Sharon?"
"Transplantasi hati. Dia mencangkokkan hatinya untukku, akibat operasi itu dia mengalami koma." Charles menjawabnya, dan Sharon tersenyum ke arah Yarry setelah mendengar suaminya buka suara mengenai operasinya pada saat itu.
"Apa saat itu kau tidak mengetahui mengenai alergimu?"
"Aku tahu, karena pada saat melakukan tes, dokter Marvin mengatakannya padaku. Dia juga mengatakan segala sesuatu yang akan terjadi." Balas Sharon.
"Lalu, kenapa kau masih melanjutkan operasi itu? Bagaimana jika kau tidak selamat?"
"Saat itu yang aku pikirkan hanya 1, yaitu keselamatan Charles."
Yarry sangat terkejut mendengar pengakuan keduanya. Tidak di sangka jika Sharon akan melakukan pengorbanan yang begitu besar, dia bahkan berani mengambil resiko untuk hidupnya. Sungguh hubungan yang begitu luar biasa, itulah yang di pikirkan Yarry saat ini.
Lalu, saat berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Keduanya bertemu dengan dokter Marvin, dokter Marvin yang melihat mereka pun segera berjalan menghampirinya. Ia terkejut karena melihat perut Sharon yang sudah semakin membesar, dan ia juga memperhatikan kedua kaki Sharon yang terlihat membengkak akibat kehamilannya.
"Apa kalian baru saja bertemu dengan Yarry?" Sahut dokter Marvin, dan keduanya menganggukkan kepalanya. "Apa kau menanyakan soal kedua kakimu? Kakimu membengkak, Sharon." Imbuhnya lagi.
"Aku tidak menyadarinya. Aku pikir kakiku seperti ini hanya karena kehamilanku saja. Maka dari itu aku tidak bertanya padanya." Tutur Sharon seraya tertawa kecil.
"Saat tiba di rumah nanti, balurkan minyak hangat pada punggung kakimu! Dan kau Charles! Perhatikan lagi istrimu, jangan sampai dia terlalu lama untuk berdiri, dan minta dia untuk tidak melakukan banyak aktifitas dalam seharian penuh."
"Aku mengerti paman. Jika begitu kami pamit pergi." Ucapnya yang langsung menggendong tubuh Sharon, dan Sharon sangat terkejut ketika mendapati hal tersebut.
"A-apa yang kau lakukan? Turunkan aku, Charles!" Serunya yang menatap tajam ke arah pria itu.
"Kau tidak dengar yang di ucapkan oleh dokter Marvin tadi? Kau tidak boleh terlalu lama berdiri."
"Tapi, dokter Marvin tidak mengatakan padaku untuk tidak boleh berjalan kaki. Turunkan aku sekarang!"
"Tidak akan!" Charles tetap dengan pendiriannya, dan tidak akan mendengarkan ucapan Sharon kali ini. "Sampai jumpa paman." Tambahnya lagi yang lekas meninggalkan rumah sakit.
Masih dengan menggendong tubuh istrinya beserta kedua anaknya, Charles berhasil membawanya menuju basement. Saat berada di dalam mobil, ia meluruskan kedua tangannya, dan dapat terlihat jelas jika keringat bercucuran di dahinya.
Melihat hal tersebut membuat Sharon sedikit tertawa. Bagaimana tidak? Suaminya sangat semangat untuk menggendongnya hingga parkiran, namun tampaknya ia juga merasa kewalahan akibat perbuatannya itu. Tanpa berpikir apa-apa lagi, Charles pun segera menginjak pedal gas mobilnya agar bisa pergi dari tempat tersebut.
Tidak ingin langsung pulang ke rumah, Sharon meminta suaminya untuk menuju suatu tempat. Ia ingin berkunjung ke tempat favorit mereka, tempat dimana mereka menghabiskan waktu bersama saat itu, dan tempat dimana memiliki banyak kenangan untuk keduanya.
Zurichorn, ya tempat itulah yang menjadi tempat favorit keduanya. Saat mereka tiba disana, keduanya berjalan santai seraya menikmati desiran angin yang terasa begitu lembut. Tangan Charles menggenggam erat tangan istrinya, tanpa berniat untuk melepaskannya sedikit pun.
Merasa lelah berjalan, Sharon memilih untuk duduk di salah satu bangku yang ada disana. Dia menyandar pada bahu Charles dengan mata yang memandang ke arah danau. Sedangkan tangannya mengelus perut besarnya, dan Charles mencium puncak kepala Sharon.
"Kelak, kita akan mengenalkan tempat ini pada mereka. Aku ingin menceritakan kepada mereka bagaimana pertemuan kita, dan aku ingin mereka tahu tentang perjalanan hidup kita." Gumam Charles yang saat ini pun mengelus perut istrinya.
"Memangnya kau masih mengingat semua itu?"
"Tidak satu kenangan pun yang ku lupakan di saat bersama denganmu, Sharon."
"Benarkah?" Sharon menggodanya.
"Tentu saja. Kau ingin mendengarnya? Aku akan menceritakannya. Dengarkan baik-baik!" Charles menarik napasnya dalam-dalam, dan matanya mulai menatap wajah wanita di hadapannya. "Saat itu di Austin Industries...."
Bersambung ...