
-7 Bulan Kemudian-
Waktu begitu cepat berlalu, perut Sharon pun sudah terlihat membesar. Melihat hal tersebut membuat seseorang tersenyum disana, kemudian orang itu kembali mengupaskan kulit jeruk untuk ibu hamil tersebut.
"Alice, bagaimana bulan madumu dengan kak Nick? Pasti sangat menyenangkan bukan?"
"Tentu saja menyenangkan. Kami menghabiskan waktu yang panjang bersama di Jepang. Kau tahu? Musim semi disana sungguh indah."
"Benarkah?" Sharon memasukkan satu potong jeruk yang sudah tersaji ke dalam mulutnya.
"Benar. Melihat bunga sakura di saat musim semi sangatlah bagus, terlebih ketika musim gugur. Sungguh aku ingin kembali lagi kesana." Alice tampak exited menceritakan semua hal tersebut.
"Kita akan kembali kesana setelah pekerjaanku disini selesai." Nick menyeletuk seraya mencium puncak kepala Alice. Entah sejak kapan pria itu tiba disana, bahkan kedatangannya pun tidak di sadari oleh mereka. "Bagaimana dengan keadaan calon keponakanku?" Tambahnya lagi yang langsung duduk di antara mereka.
"Besok malam, Charles akan mengantarku untuk kontrol kondisi anak kita. Kami sudah membuat jadwal dengan dokternya."
"Aku dengar, dokter kandunganmu seseorang yang kau kenal? Charles mengatakan padaku jika kau adalah cinta pertamanya. Benarkah itu? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?" Nick mengeryitkan dahinya ketika jeruk yang di santapnya terasa sedikit asam.
"Apa? Cinta pertama? Siapa? Aku juga tidak mengetahui hal ini." Alice ikut menyahut.
"Kejadiannya begitu singkat. Aku pun tidak mengerti kenapa dia menyebutku cinta pertamanya. Tapi, biarlah! Semua itu sudah berlalu." Dengan tawa kecilnya Sharon menanggapi semua pertanyaan mereka.
"Hari sudah hampir malam. Sebaiknya kita pulang, bagaimana?" Nick menoleh ke arah Alice, dan Alice tampak enggan untuk meninggalkan sahabatnya. "Kita pulang ya? Setelah itu, kita bisa membuat teman untuk calon keponakanku, bagaimana?" Berulang kali Nick mengedipkan kedua matanya, dan Sharon menahan tawanya melihat kelakuan dua orang di hadapannya.
"Bodoh, itu sungguh memalukan. Apa kau tidak lihat jika Sharon ada di hadapan kita?"
"Memang kenapa? Sudah ayo kita pulang!" Dengan cepat Nick mengangkat tubuh istrinya untuk meninggalkan villa tempat dimana Sharon tinggal. "Kami pamit dulu. Jika Charles tidak bisa di hubungi, kau bisa hubungi aku atau Alice ketika sesuatu terjadi padamu." Sambungnya lagi.
"Kau tenang saja kak, banyak orang di tempat ini. Semoga berhasil." Lagi-lagi Sharon menahan tawanya.
"Tentu saja ini harus berhasil. Sampai jumpa adikku." Teriak Nick yang sudah berjalan meninggalkan teras belakang.
Menatap jernihnya air kolam renang, Sharon bersandar pada kursi santainya, sesekali ia mengusap perutnya, dan mengajak calon anaknya bicara. Dia begitu bingung, kenapa perutnya terlihat begitu besar, bukankah kandungan di usia 6 bulan itu belum tampak sangat besar? Entah kenapa rasa lelahnya pun menjadi berlipat akibat kehamilannya.
Menikmati semilir angin sore di teras belakang benar-benar menenangkan untuknya. Hingga tanpa di sadari, kedua matanya pun terlelap disana. Raeya yang melihat itu pun tidak berani untuk membangunkannya, dia hanya menghampirinya, dan menyematkan selimut pada tubuh Sharon.
Saat malam menjelang, Charles yang baru tiba di rumah pun langsung mencari keberadaan istrinya. Namun, Raeya memberitahunya jika Sharon berada di teras belakang, ia tertidur sejak sore, dan hal itu membuat Charles menepuk dahinya seraya menghela nafasnya.
Tidak bisa menggigitnya, Charles mencubit gemas kedua pipi itu seperti orang tak berdosa. Mendapati hal itu, tentu saja membuat Sharon meringis, bahkan jantungnya berdetak cepat akibat terkejut. Tanpa adanya rasa bersalah, Charles hanya tersenyum simpul ke arahnya.
"Kedua pipimu sangat menggemaskan." Tutur Charles dengan santai.
"Kau tahu? Aku sangat terkejut karena tingkah bodohmu itu. Jika aku terkena serangan jantung bagaimana?" Sahut Sharon dengan kesal
"Kau gila? Sejak kapan hal seperti itu bisa membuat seseorang terkena serangan jantung?" Rutukkan Charles membuat Sharon terkejut. Sejak kapan suaminya bisa mengatakan hal seperti itu?. "Kau tidur sembarangan seperti ini, jika kau masuk angin, dan terjadi sesuatu pada calon anakku bagaimana?" Lagi-lagi emosinya mulai tidak terkendali.
"Sebenarnya apa masalahmu? Kau tiba-tiba datang mencubitku, dan sekarang merutukkiku. Kau mengatakan aku gila? Cih, yang benar saja. Dengar! Anak yang berada dalam kandunganku bukan hanya anakmu, dia juga anakku." Sharon bangun dari sana, dan hendak meninggalkan Charles.
Tidak mempedulikannya, Sharon berjalan menuju dapur. Ia membantu Raeya serta bibi Wen untuk menyiapkan makan malam, tahu jika semua sudah selesai, akhirnya Sharon hanya membantu untuk menyajikan makanan-makanan itu di atas meja makan.
Seperti biasa, mereka akan makan bersama. Sharon tidak pernah membedakan mereka, dan menganggap mereka sebagai asisten rumah tangganya. Bahkan ketika hendak makan, mereka menjadi satu di meja yang sama.
Mata Charles meluas saat menatapi meja makannya, seakan ia tengah mencari sesuatu disana. Lalu, mereka menatapnya dengan penuh kebingungan. Tidak lama kemudian, Charles kembali membalikkan piringnya, dan menyimpan kembali sendok serta garpu yang sempat di genggamnya.
"Tidak ada gratin dauphinois. Aku tidak jadi makan!" Tuturnya.
"Apa kau bilang? Bukankah kau tidak menyukai makanan itu? Kenapa tiba-tiba menginginkannya?"
"Siapa bilang aku tidak menyukainya? Apa aku pernah mengatakannya?" Sahut Charles dengan nada yang terdengar sedikit ketus.
"T-tidak. T-tapi, aku tidak pernah melihat kau menyantapnya. Maka dari itu, aku pikir kau tidak menyukainya."
"Tidak pernah memakannya, bukan berarti aku tidak menyukainya. Sekarang aku menginginkannya, jika tidak ada, maka aku tidak akan makan malam."
"Aku akan membuatkannya untuk tuan Charles." Sahut Raeya yang langsung bangun dari tempat duduknya.
"Tidak! Kau tidak perlu membuatkannya, Raeya!" Sharon memintanya untuk kembali duduk, dan Charles menatapnya dengan tajam. "Berhenti bersikap seperti anak kecil, Charles! Untuk sekarang makanlah yang ada!" Ucapnya lagi yang tak kalah menatapnya tajam.
"Yasudah, aku tidak akan makan!"
"Baiklah jika itu maumu. Maka, aku juga tidak akan makan!" Dengan cepat Sharon meninggalkan ruang makan, dan ia segera memasuki kamarnya.
Bersambung ...