
Hubungan keduanya kembali membaik, dan Sharon pun berjanji padanya untuk selalu bersedia mendengarkan suatu penjelasan jika hal seperti itu terulang kembali. Bukan hanya Sharon, Charles pun menjanjikan hal yang sama padanya.
"Besok kau tidak perlu bekerja dulu. Aku tidak ingin kau sakit lagi." Pungkas Charles seraya mengusap lembut puncak kepala Sharon.
"Aku sudah baik-baik saja. Jika aku tidak pergi bekerja, aku tidak akan tahu bagaimana caramu menebar pesona pada gadis-gadis diluar sana."
"Tanpa menebar pesona pun, mereka akan terpesona padaku. Sebanyak apa pun gadis cantik yang mendekatiku, aku akan tetap memilihmu, si gadis bodoh."
Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk meninggalkan taman, dan Charles mengantar Sharon kembali ke rumahnya.
•••
Satu bulan telah berlalu. Sharon sudah tidak mengambil banyak pekerjaan lagi. Kali ini, ia hanya bekerja sebagai office girl di Austin Industries, ia memutuskan seperti itu, karena kali ini, ia hanya menghidupi dirinya sendiri. Lagi pula, sang ibu berpesan padanya untuk tidak bekerja begitu keras.
Sepulang dari sana, ia menunggu Charles yang tengah mengemas barang-barangnya. Lobby semakin sepi, dan pria itu masih belum juga terlihat. Ketika menoleh ke belakang, tiba-tiba saja seseorang mengejutkannya.
"Ha Ha Ha. Ternyata seperti itu wajahmu ketika sedang terkejut." Charles tertawa puas pada saat itu, sedangkan jantung Sharon masih berdegup cepat akibat ulah ulahnya.
"Jika aku memiliki riwayat sakit jantung bagaimana? Mungkin aku bisa mati."
Mendengar kata 'mati' membuat Charles terdiam, dan langsung memeluk tubuh Sharon. Kata-kata tersebut sangatlah menyeramkan untuk dirinya, ia tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi untuk ke sekian kalinya.
"Aku tidak akan melakukannya lagi, maaf." Gumam Charles dalam pelukannya.
Menanggapi hal itu, Sharon hanya tersenyum, kemudian mereka pun melangkah untuk meninggalkan kantor. Keduanya berjalan menuju minimarket, dan Sharon mengambil dua ice cream disana. Ketika hendak membayarnya, Charles memintanya untuk menyimpan kembali uang tersebut.
Kini, dalam perjalanan, keduanya menikmati ice cream tersebut. Hingga kemudian, seseorang menubruk tubuh Sharon sampai membuat ice cream miliknya terjatuh begitu saja. Mendapati kejadian tersebut, dengan cepat Sharon meminta maaf pada orang tersebut.
"Tidak perlu minta maaf, bukan kau yang menabraknya." Seru Charles yang merangkul Sharon.
"Charles?" Pungkas orang di hadapannya dengan terkejut, dan Charles pun memandangi orang tersebut.
"Maisha?" Balas Charles yang tak kalah terkejutnya.
"Charles, aku ingin kembali padamu. Ternyata pria-pria di luar sana tak ada yang sebaik dirimu. Bisakah kita kembali seperti dulu? Kali ini, aku bersedia menikah denganmu." Sambarnya yang secara tiba-tiba memeluk tubuh Charles begitu saja, dan Sharon hanya menaikkan kedua alisnya.
"Alasan kecil? Menginginkan pria baik itu bukanlah alasan kecil."
"Maaf. Tapi, aku sudah memiliki tunangan, dan kami akan segera menikah. Permisi." Sahutnya yang kemudian membawa Sharon pergi dari sana.
"Kau hanya akan menjadi milikku Charles Austin. Seandainya saat itu aku tahu jika dirimu salah satu pewaris Austin Industries, aku tidak akan menolakmu." Maisha membatin seraya memandangi punggung Charles yang semakin menjauh.
Keduanya berjalan tanpa bicara sedikit pun. Hingga Sharon berhenti di salah satu kedai untuk membeli beberapa makanan, dan mereka saling diam tanpa bicara. Setelah membelinya, keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
Sembari memakan bűndnernusstorte, Sharon masih tak mengatakan sepatah kata pun. Charles yang merasa di abaikan pun, berdiri menghadangnya dengan membentangkan kedua tangannya. Melihat reaksi Charles, membuat Sharon terdiam dengan posisi mulut yang terlihat penuh.
"Kau sedang mengabaikanku?" Ungkap Charles seraya mencubit kedua pipi Sharon yang mengembung itu, hingga makanan yang berada di dalam mulutnya pun tersembur keluar.
Akibat tingkah Charles, Sharon pun tersedak. Kemudian, Charles berlari menuju salah satu minimarket terdekat untuk membeli sebotol air mineral. Kemudian, ia pun membukakan segel botol tersebut, dan memberikannya pada Sharon.
"Kau ingin membunuhku, ya?" Nada suaranya terdengar kesal, bahkan ia bertolak pinggang dengan memberikan tatapan yang sangat tajam pada Charles.
"Mana mungkin aku mau membunuhmu?" Gumam Charles menundukkan kepalanya dengan sengaja, dan sedikit memasang wajah memelas di hadapan gadisnya. "Bukankah membunuhmu, sama saja dengan membunuh diriku sendiri?" Lanjutnya.
"Tidak perlu memasang wajah seperti itu, itu sangat menyebalkan." Sambar Sharon yang sangat gemas melihat perilaku Charles. "Ayo jalan." Sambungnya seraya menarik lengan pria tersebut, dan Charles tersenyum menang.
"Gadis tadi..." Charles berusaha menjelaskan.
"... tidak perlu di jelaskan. Aku sudah mendengar semuanya. Tapi, mengenai tunanganmu, dan..."
"... kau lah tunanganku Sharon Hwang, dan kau juga yang akan menjadi teman hidupku. Apa kau mau menemaniku, dan menjadi pendampingku di sisa hidupmu?" Charles memandang lekat wajah gadisnya, hingga tak lama kemudian, gadis itu memeluknya erat seraya menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, aku akan cari waktu yang tepat untuk melamarmu secara resmi, dan membawakan sesuatu untukmu."
Wajah keduanya berbinar-binar, dan selama perjalanan, Charles sama sekali tak melepaskan genggamannya pada tangan Sharon. Mereka berjalan sembari berbincang, sesekali mereka saling melempar tawa candanya. Hingga akhirnya, keduanya tiba di depan rumah Sharon.
Setelah memastikan gadisnya masuk ke dalam rumah, Charles segera membalikkan tubuhnya, dan mengambil ponsel dalam sakunya untuk menghubungi asistennya. Setelah menutup panggilan tersebut, senyum di bibirnya menyusut ketika ia merasakan sakit pada bagian perut, dan kepalanya. Namun, ia mencoba untuk menahannya hingga jemputan tiba.
Bersambung ...