My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 39



Keesokannya Sharon telah mendapatkan kesadarannya, dan tahu jika ia berada di rumah sakit, ia lekas bangkit dari ranjangnya. Kemudian seorang perawat masuk, dan manahannya untuk tetap berbaring hingga lukanya pulih.


"Aku sudah merasa baik. Aku harus pergi, dan akan menyelesaikan administrasinya."


"Kau tidak perlu memikirkan administrasi, nak. Itu sudah menjadi tanggung jawabku." Ungkap Bill seraya tersenyum.


"Maaf merepotkanmu paman. Jika begitu, aku harus segera pergi."


"Baiklah. Lalu, bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Jika ada waktu, aku ingin mengajakmu untuk makan bersama." Bill menyerahkan ponselnya, kemudian Sharon pun menyimpan nomornya di dalam sana.


Setelah itu, Sharon lekas pamit dari sana, dan kembali ke rumah untuk mengambil satu amplop. Lalu, ia pergi menuju Austin Industries untuk menemui direkturnya.


Ia masih belum mampu menemui Charles pada saat itu, dikarenakan pria itu tengah menghadiri rapat. Tanpa membuang waktu, ia menitipkan amplop itu pada Key. Melihat amplop tersebut membuat Key tersentak.


"Kau mengundurkan diri?"


"Benar. Tolong sampaikan maaf, dan terima kasihku pada tuan Charles. Aku permisi."


Sharon pergi dari sana, dan pergi menuju tempat Alice. Beruntung pada saat itu Alice tengah libur, jadi ia mampu menemuinya. Ketika telah tiba, Alice begitu terkejut ketika melihat kepala sahabatnya berbalut sebuah perban.


Melihat kekhawatiran sahabatnya itu langsung membuat Sharon terkekeh, dan Alice yang menyadari respon darinya merasa begitu kesal.


"Aku mencemaskanmu, dan kau mentertawakanku? Jahatnya dirimu." Umpat Alice seraya mempoutkan bibirnya.


"Maafkan aku. Lalu, apa kau akan membiarkanku untuk tetap berdiri di pintu seperti ini?"


"Astaga, masuklah, dan ceritakan bagaimana kau bisa mendapatkan luka itu."


Selagi menceritakan apa yang terjadi, Alice seraya membuatkan minuman serta membawa beberapa makanan kecil yang ada dalam lemari pendinginnya.


Mendengar semua penuturan sahabatnya, hanya mampu membuat dirinya menggelengkan kepalanya, lalu ia pun meminta Sharon untuk minum lebih dulu.


Bukan soal kecelakaan itu, Sharon juga menceritakan jika dirinya telah resign dari Austin Industries, dan akan mulai untuk mencari pekerjaan paruh waktu.


Di waktu yang bersamaan, Charles telah kembali dari rapatnya, dan Key meminta izin untuknya masuk ke dalam ruangan miliknya. Setibanya di dalam, Key langsung menyerahkan amplop milik Sharon.


"Surat pengunduran diri? Kapan dia memberikan ini?"


"Pagi tadi ketika tuan sedang rapat. Dia juga memintaku untuk menyampaikan maaf, dan terima kasih untuk anda."


Wajah Charles berubah drastis, tidak ingin menjadi sasaran kemarahannya, Key langsung pamit untuk keluar. Kemudian, Charles segera menghubungi seseorang.


Siang tiba, dan Sharon tengah berada di salah satu cafe. Seseorang menghubunginya, dan memintanya untuk bertemu. Dengan senang hati Sharon menerima tawaran tersebut, dan lekas berangkat menuju tempat yang di tuju.


Tidak lama kemudian, orang yang membuat janji itu datang, dan berjalan menghampirinya dengan sebuah senyuman. Melihat orang itu tersenyum sungguh membuat Sharon mengingat sang ayah, dan tanpa sadar air matanya menetes.


"Ada apa? Kau menangis?"


"Maafkan aku paman, tiba-tiba aku teringat dengan ayahku. Jika beliau masih ada, mungkin seumuran dengan paman."


"Jika begitu kau boleh menganggapku sebagai ayahmu. Aku memang menginginkan seorang putri untuk mengisi rumahku. Kedua putraku sangat merepotkan ketika tengah bertengkar, mereka selalu meributkan hal kecil. Meski begitu, mereka saling menyayangi, dan melindungi satu sama lain." Ucapnya.


"Mereka pasti sangat beruntung memiliki ayah seperti paman. Oh ya, bukankah ada yang ingin dibicarakan padaku?"


"Benar. Begini, ketika kau tengah tak sadarkan diri di rumah sakit kemarin, aku menghubungi putraku untuk datang. Ketika melihatmu, dia langsung menyukaimu, dan memintaku melamarmu untuknya."


"Maaf paman, aku rasa ini terlalu mendadak. Kami bahkan belum saling mengenal, lagi pula mana mungkin aku bisa bersanding dengan orang-orang seperti kalian?"


"Kenapa tidak mungkin? Aku tidak pernah menilai derajat orang, selama orang itu baik hati, aku akan menerimanya. Terlebih putraku juga menyukaimu."


"Tapi aku ..."


"Tunggulah sejenak. Ketika melihatnya, dan kau tidak menyukainya, maka aku tidak akan memaksamu lagi."


Merasa tak enak untuk menolak, Sharon pun duduk menunggu disana. Entah kenapa jantungnya berdebub cepat, dan semakin cepat.


Hingga tak lama kemudian, orang itu pun datang, dan menghampiri keduanya. Melihat siapa yang datang, sungguh membuat Sharon membelalakkan kedua matanya.


"P-paman, apa dia ..."


"... dia putraku, Charles Austin." Bill memotong ucapan Sharon.


"Paman, sepertinya aku tidak bisa menerimanya. Aku ..."


"... aku sudah mendengar masalah kalian. Tapi dengarkan aku, nak. Charles sangat mencintaimu, setiap hari yang di ceritakan padaku, selalu tentang dirimu. Bisakah kau mendengar penjelasannya? Setelah itu, kau boleh memutuskannya. Jika kau memang tidak bisa melanjutkan hubungan itu, maka aku akan meminta putraku untuk berhenti."


"Baiklah paman."


"Jika begitu, aku akan beri kalian waktu untuk bicara. Aku sangat berharap jika kau bisa menerimanya kembali, karena aku sudah menyukaimu, Sharon." Bill tersenyum seraya mengusap puncak kepala Sharon.


Bersambung ...