My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 20



"Bagaimana keadaannya?" Sambar Charles ketika melihat dokter Marvin keluar. Kemudian, beliau hanya tersenyum ketika melihat kepanikkannya.


"Kau begitu mengkhawatirkannya ya? Tak ku sangka jika Charles kecil yang saat itu telah tumbuh menjadi pria dewasa." Jawabnya sembari menepuk bahu Charles. "Kau tenang saja. Gadis itu baik-baik saja, hanya kekekurangan cairan dalam tubuhnya." Sambungnya lagi.


"Dokter, tolong rahasiakan identitasku padanya. Aku tidak ingin dia tahu, jika dia tahu soal identitasku yang sebenarnya, dia mungkin akan membenciku."


"Apa yang harus di benci dari pria sepertimu? Kau pandai, tampan, dan memiliki kekayaan yang mungkin tidak akan habis. Semua gadis pasti menyukainya."


"Sharon bukan salah satu dari mereka. Dia justru sebaliknya." Gumam Charles seraya tersenyum kecut. "Jadi, bisakah paman merahasiakannya?" Charles melanjutkan.


"Tentu. Gadis itu sungguh menarik, pantas saja kau tergila-gila padanya."


"Lalu, apa boleh aku masuk ke dalam?"


"Tunggu apa lagi? Namun, jangan lupa kontrol rutinmu itu." Setelah mengangguk, Charles pun segera pamit untuk masuk menemui gadisnya.


Gadis itu masih terbaring tak sadarkan diri. Namun, air mata itu tetap menetes dari kedua matanya. Charles yang melihat hal tersebut pun dengan cepat untuk menyekanya, kemudian menggenggam erat tangan gadis tersebut.


Kemarahan gadisnya tidak membuat dirinya merasa kesal atau merasa kecewa, dan ia sama sekali tidak menyalahkannya sedikit pun. Justru yang ia rasakan saat ini adalah perasaan bersalah.


Kedua kelopak mata Sharon terbuka secara perlahan, dan Charles yang sadar akan hal itu pun tersenyum bahagia. Pandangan Sharon meluas, ia juga terkejut ketika melihat Charles ada di sana.


"Kenapa aku di sini?" Imbuhnya yang kemudian menatap langit-langit dari ruangan tersebut. "Ini adalah tempat yang paling ku benci, aku ingin segera pulang." Berontaknya.


Hendak melepaskan selang infus dari punggung tangannya, Charles pun langsung mencegahnya. Merasa tidak terima dengan perlakuan Charles, Sharon terus memberontak, dan berusaha keras agar bisa melepaskannya.


Setelah terlepas, dia pun mendorong tubuh pria tersebut, dan hendak berjalan meninggalkan ruangan. Langkahnya masih terlihat tidak seimbang, dan belum keluar dari ruangannya, tubuh Sharon kembali terjatuh. Untung lah Charles mampu menahannya tepat waktu, hingga tubuh gadis itu tidak membentur lantai.


Setelah menekan tombol darurat yang berada dalam kamar. Dokter Marvin datang bersama dengan perawatnya, kemudian selang infus kembali dipasangkan dengan benar. Lalu, dokter Marvin kembali ke ruangannya, dan meminta Charles untuk menjaganya dengan baik. Karena bukan hanya fisiknya yang sedang tak sehat, melainkan psikisnya juga.


Hingga malam pun tiba, Sharon sudah kembali sadarkan diri, dan ia melihat pria itu tengah tertidur seraya menggenggam erat tangannya. Melihatnya, kembali membuat ia mengingat mendiang ibunya yang telah tiada, mengingat bagaimana saat terakhirnya, saat beliau mencarinya, namun, pria ini tak berada di sana tanpa memberitahunya sedikit pun.


"Kau sudah bangun? Aku mohon jangan lepaskan lagi. Tubuhmu masih lemah." Gumam Charles yang sudah membuka matanya.


"Pulanglah. Bukankah sudah malam?"


"Aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri, dan ingin berada di sisimu." Balasnya yang mengusap puncak kepala gadis itu. Namun, terlihat jelas jika gadis tersebut tengah menghindarinya.


"Jadi, alasanmu tidak ada di Austin Industries pagi ini, karena kau tengah menghindariku? Kau boleh menghindariku. Namun, ketika kau tengah merasa tidak sehat, aku mohon jangan memaksakan tubuhmu untuk bekerja."


"Kepalaku masih sedikit pusing. Sepertinya aku akan kembali beristirahat. Kau pulang saja, aku akan menghubungi Alice untuk menemaniku." Sahutnya yang langsung mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Charles.


"Baiklah aku akan pulang." Jawaban yang terdengar sedih. Namun, ia tidak ingin jika Sharon akan melakukan hal seperti sebelumnya jika dirinya tidak pergi.


•••


Salah satu mall terbesar di Bern. Grace tengah menikmati waktunya bersama dengan tunangannya. Namun, sepertinya kesenangan tersebut hanya kesenangan sepihak. Kenapa? Karena Kent sama sekali tidak merasakan apa pun ketika bersama dengan wanita itu.


Ketika berada di salah satu toko sepatu disana. Grace meminta Kent untuk memilih di antara 2 barang, tanpa berfikir, Kent menunjuk dengan asal, dan wanita itu meminta pelayan toko agar segera membungkusnya.


Merasa lelah, Kent mengajak Grace untuk segera pulang. Namun, wanita itu menolak dengan cepat, dan Kent hanya mampu menghela nafasnya dengan berat. Ketika ponselnya berdering, Kent langsung merogoh saku celananya, dan segera membaca pesan yang masuk.


"Tuan Edbert. Nona Hwang tengah di rawat di rumah sakit." Begitulah pesan yang diterima olehnya.


"Aku tinggalkan kau sehari, dan kau harus sampai di rawat?" Gerutunya pelan.


"Kent, ada apa? Aku sudah selesai, dan lihat apa yang ku belikan untukmu? Sebuah dasi." Dengan tiba-tiba wanita tersebut menunjukkan kotak yang berisikan dasi pada Kent.


"Aku tidak memerlukan itu, Grace. Lagi pula, aku sudah memiliki banyak dasi di lemariku. Sebaiknya ayo segera pulang." Ulas Kent yang langsung berjalan meninggalkan Grace, dan mau tak mau, Grace pun mengikuti langkahnya.


"Cari cara apapun agar aku bisa mengurus E.KChamp yang ada di Zurich." Tulis Kent pada pesan yang ia kirimkan kepada Louis.


Berbeda dengan Charles. Saat ini ia masih menggenggam recorder mini yang sempat diberikan oleh Sharon kepadanya. Gadisnya mengatakan, jika itu adalah pemberian dari mendiang ibunya. Rasa penasarannya pun muncul, kemudian ia segera memasangkan headset agar tahu mengenai isi recorder tersebut.


Setelah menekan tombol play pada alat tersebut, Charles mulai mendengarkannya dengan sangat cermat. Suara itu membuatnya kembali merasa bersalah, dan menyesali segalanya. Ia merasa, seolah telah kehilangan sosok seorang ibu untuk kedua kalinya, dan tanpa sadar, air matanya pun menetes.


"Aku sudah pernah katakan padamu bukan? Mengenai alasannya tidak menyukai orang seperti kalian. Sepertinya aku juga sudah mengatakan padamu salah satu dari orang tersebut, yaitu neneknya. Suamiku, adalah Ozan Sworth, sebagai pengusaha besar, mungkin kau pernah mendengar nama tersebut."


"Ozan Sworth? Tidak ku sangka jika pria itu adalah ayah dari seorang Sharon Hwang. Namun, kenapa dia tidak pernah menceritakan soal ayahnya?" Charles menggerutu disana setelah mendengar sedikit dari isi rekaman tersebut.


Bersambung ...