My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 101



Dua hari telah berlalu, dan Charles masih tetap bersama dengan Sharon kala itu. Sesekali Bill maupun Charlie datang untuk bergantian jaga, agar Charles dapat beristirahat di rumah. Namun, dia tak melakukan semua itu, dia tidak ingin meninggalkannya untuk waktu lama.


Ketika malam tiba, Charles baru kembali dari dalam toilet, dan ia terkejut ketika melihat dokter Marvin berada di sana. Hal itu tentu saja membuatnya begitu cemas, kemudian ia langsung berjalan cepat ke arahnya, dan menanyakan apa yang telah membawanya untuk datang.


"Kau tidak perlu panik, Charles. Aku hanya melakukan pemeriksaan rutin padanya."


"Lalu, apa ada perkembangan yang terjadi?" Gumam Charles yang kembali memandangi Sharon.


"Ya. Kondisinya sudah stabil, detak jantungnya sudah kembali normal. Meski dia masih dalam kondisi koma, peralatan yang terpasang tetap bisa di lepaskan."


"Jika semuanya sudah stabil, bahkan detaknya pun normal, kenapa dia tidak kunjung bangun dari komanya? Apa ada efek samping lain lagi?"


"Kejang yang terjadi saat operasi saat itu ternyata mempengaruhi kerja otaknya. Itulah yang membuatnya koma, jika otaknya tidak terpengaruh, dan hanya kejang biasa, dia tidak akan koma sampai selama ini."


"Peralatan sudah bisa di lepaskan, apa itu sungguh tidak membahayakannya?"


"Itu tidak membahayakannya selama semuanya stabil."


"Lalu, apa aku boleh membawanya pulang?"


"Tentu, dan seminggu sekali aku akan datang untuk mengecek kondisinya."


Setelah mengucapkan semua itu, dokter Marvin kembali keluar dari ruangan itu. Sedangkan Charles, ia kembali duduk seraya menggenggam erat tangan Sharon. Ia meletakkannya di sebelah pipinya, dan mengusap dahi wanita itu sesekali.


"Aku akan membawamu pulang, Sharon. Kini, kita akan tinggal di atap yang sama. Bukankah itu hal yang sangat menyenangkan? Bukankah itu hal yang sangat kita impikan sejak lama? Bukankah dengan begitu, kita bisa bertemu setiap harinya? Ah, aku sungguh menantikannya." Gumam Charles dengan nada yang terdengar begitu bahagia.


Ia menyambar saku celananya, dan mengambil ponsel miliknya. Setelah menekan beberapa digit nomor disana, dan setelah tersambung, ia mengatakan apa yang ia inginkan. Kemudian, ia segera bergegas untuk membereskan segala barang miliknya yang berada di rumah sakit.


35 menit kemudian, ada yang datang ke dalam ruangan itu, dan tidak di sangka jika ayah serta saudaranya lah yang tiba saat itu. Setelah mengetahui yang datang bukanlah orang yang ia tunggu, ia kembali mengemas barangnya.


"Aku mendengar dari Key jika kau akan tinggal di villa milik keluarga Sworth, benarkah begitu?" Charlie menyahut, dan Charles hanya menganggukkan kepalanya. "Kenapa harus kesana? Kenapa tidak kembali ke rumah saja?" Lanjutnya.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktuku berdua dengannya. Lagi pula di villa itu ada beberapa penjaga, dan asisten rumah tangga yang akan membantuku."


"Apa rencanamu selanjutnya, nak? Aku tahu jika kau sangat mencintainya, aku tahu jika kau selalu ingin berada di sisinya. Namun, kau memiliki tanggung jawab pada Austin Industries. Kau tidak bisa terus bergantung pada Charlie, dia juga memiliki tanggung jawab pada CBC Group."


"... aku akan kembali ke Austin Industries besok lusa. Aku akan kembali seperti biasanya, namun aku akan tetap tinggal di villa milik keluarga Sworth." Charles memotong ucapan saudaranya.


"Baiklah jika memang itu yang kau inginkan." Bill membalas, dan tidak lama kemudian pun seseorang yang di hubungi oleh Charles sejak tadi tiba disana.


"Key, aku ingin kau mengantarku menuju star royal sekarang juga." Ungkap Charles dengan lantang.


Semua telah di siapkan, pihak rumah sakit membantu Charles membawa Sharon untuk menuju ke mobil miliknya. Charlie yang melihat segala perjuangan keduanya pun hanya mampu menghela nafasnya, meski begitu ada terbesit rasa iri pada mereka, bukan hanya iri, namun rasa bangga pada keduanya.


Charles sudah berada dalam mobil, ia memangku wanitanya saat itu. Setelah berpamitan pada ayah serta saudaranya, mereka pun lekas pergi meninggalkan rumah sakit, dan Bill langsung menepuk bahu satu putranya lagi seraya tersenyum.


"Ayah, apa Sharon akan kembali mendapatkan kesadarannya? Apa mereka bisa kembali seperti dulu? Apa mereka bisa mendapatkan kebahagiaan yang utuh?" Gumam Charlie yang masih menatapi mobil milik Charles yang semakin lama semakin menjauh.


"Aku yakin jika mereka akan kembali. Cepat atau lambat, Sharon pasti akan bangun. Aku tahu, jika dia adalah wanita yang kuat." Imbuh Bill.


"Apa masih ada wanita sepertinya di luar sana?"


"Ayah rasa masih ada. Bagaimana jika kau gunakan strategi saudaramu? Strategi yang di gunakan untuk mendekati Sharon?"


"Cara itu sungguh pengecut. Dia terus membohonginya untuk waktu yang lama, dan selalu menimbulkan salah paham yang berkepanjangan." Dengus Charlie setelah mendengar pendapat dari sang ayah.


"Namun, terkadang kesalahpahaman atau pertengkaran itulah yang membuat hubungan kalian semakin erat. Dengan begitu, kau di ajarkan untuk saling memahami, dan menghormati segala penjelasan yang akan di lontarkan."


"Benarkah? Apa aku bisa mendapatkan wanita sebaik itu juga?"


"Kau juga bisa mendapatkan yang lebih dari itu, Charlie. Satu kuncinya, kau harus selalu menghargainya dalam kondisi apa pun." Ucap Bill, dan Charlie menganggukkan kepalanya di saat itu juga. "Baiklah, ayo kita kembali."


Bersambung ...


Don't forget, follow IG @kyu_shine😋


Jika ada pertanyaan atau kalian ingin kenal lebih dekat dengan author, bisa langsung melakukan DM di sana.


Thank You All💙