
Hanya mendengarnya saja sudah membuat Sharon mengetahui siapa pemilik suara itu. Tanpa mengalihkan pandangannya dari danau, ia tersenyun kecil menanggapinya, dan orang di sisinya menepuk pelan bahu Sharon, hingga akhirnya Sharon kembali meneteskan air matanya.
"Kau sungguh tidak berubah, Sharon!" Tuturnya lagi, dan Sharon mengeluarkan semua rasa sesak yang sejak tadi tertahan di dalam dadanya. "Apa saat aku tidak berada di sisimu, kau masih sering melakukan ini? Menahan air matamu seraya menatapi air danau ini?" Lanjutnya lagi.
"Terakhir kali aku melakukannya ketika ibu meninggal. Namun, setelah mengenalnya, memilikinya, aku sudah hampir tidak pernah menjadikan danau ini sebagai tempatku untuk menahan semua beban yang berada di bahuku." Ulasnya yang masih terdengar sedikit isakkannya, namun dengan cepat orang tersebut menyeka air mata yang menetes membasahi kedua pipi Sharon. "Apa yang sedang kau lakukan disini, Yarry?" Sambungnya lagi yang sudah sedikit tenang.
"Entahlah. Aku baru saja melakukan 2 operasi caesar, dan itu sungguh melelahkan. Ketika hendak pulang, aku mengingat danau ini, dan memutuskan untuk mampir. Siapa sangka jika akan bertemu denganmu." Ucapnya, dan di bumbui dengan tawa kecil darinya. "Tadi kau bilang, terakhir kali kau mengadukan segala kesedihanmu disini adalah saat ibumu meninggal, dan setelah mengenalnya kau..."
"... benar. Dia hampir tidak pernah membuatku meneteskan air mata. Aku merasakan kasih sayang yang luar biasa darinya. Berada di sisinya selalu membuatku bahagia, dan dia tidak mengizinkan siapa pun untuk membuatku merasa tidak nyaman. Dia hanya memikirkan semua tentangku, kebahagiaanku. Aku senang karena dia berada di sisiku."
Saat mengatakan itu, Sharon sedikit tersenyum. Ia mengingat semua kejadian-kejadian kecil bersamanya dulu, manis, dan sangat manis. Meski beberapa kali ia bertengkar, itu hanya karena kesalahpahaman, atau sedikit keegoisan mereka sendiri. Namun, pada akhirnya mereka kembali bersama.
Melihat senyuman yang terukir di bibir Sharon membuat Yarry begitu tenang. Setidaknya wanita di sisinya saat ini telah memiliki kebahagiaannya, bersama dengan pangerannya.
"Pria itu begitu mencintaimu, karena itulah dia bisa memberikan semua dunianya untukmu. Jika begitu, kenapa kau menangis disini? Apa terjadi sesuatu pada kalian?"
"Hanya sedikit kesalahpahaman, dan itu semua karenaku. Aku membuat lelucon yang sungguh tak masuk akal, dan aku mengatakan padanya jika terjadi sesuatu pada perutku. Akibat leluconku itu, dia sedikit kesal denganku." Tawa kecil Sharon terdengar, namun Yarry dapat merasakan dengan jelas bagaimana wanita di sisinya tengah menekan perasaannya sendiri.
"Sudah jelas ini semua berawal dari keegoisanku. Jika aku tidak memusuhimu, mungkin kau juga tidak akan melakukan itu. Tapi, kenapa kau harus bersamanya kali ini?" Yah, entah sejak kapan Charles berada di sana, dan ia hampir mendengar semua perbincangan keduanya. "Aku mencarimu sejak tadi!"
Mendengar suara yang begitu tak asing membuat bahu Sharon bergetar, dengan begitu berat ia memberanikan dirinya untuk berbalik, dan mencari tahu jika yang di dengarnya bukan hanya sebuah ilusinya saja.
Ada wujud dari suara itu, dan pemiliknya adalan benar dia, milik Charles. Melihatnya membuat Sharon terkejut. Posisinya sekarang ini pasti akan semakin menciptakan salah paham yang begitu besar, begitulah pikirnya kali ini.
"Pertemuanku dengan dokter Yarry hanya sebuah kebetulan saja, percayalah!" Hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Sharon.
"Jadi, pertengkaran mereka karena keberadaanku, ya? Itu pasti karena sikap berlebihanku kemarin. Charles Austin, melihatnya saja sudah terlihat jelas jika dia begitu mencintainya, tidak heran jika dia cemburu padaku." Yarry terus bergumam di dalam hati, namun ia menyimpulkan sebuah senyum kecil saat menatap mereka.
"Tentu saja. Kau suaminya, kenapa harus meminta izinku?" Yarry sedikit terkekeh mengatakan hal tersebut.
"Terima kasih. Ayo!" Dengan cepat Charles menggenggam pergelangan Sharon, mengajaknya untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Dengar tuan Charles!" Mendengar namanya di panggil membuat Charles menghentikan langkahnya. "Aku dengannya sudah tidak memiliki hubungan apapun, dan aku memang selalu bersikap sembarangan ketika bertemu teman lamaku. Namun, aku tetap bisa menjaga sopan santunku. Kau tidak perlu khawatir soal hal lain! Lagi pula, aku sudah memiliki wanita yang ku cintai, dan seorang putri yang berusia 2 tahun." Sambungnya lagi.
"Baiklah. Jika tidak ada lagi yang ingin di ucapkan, kami permisi." Tanpa menoleh, Charles segera meninggalkan tempat itu, dan Sharon menatap ke belakang sesekali. Meski begitu, ia melihat jika Yarry tersenyum seraya menganggukkan kepala ke arahnya.
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan antar keduanya. Aura itu terasa begitu mencekam, karena itu Sharon memilih untuk menatap jalanan melalui jendela mobilnya. Hingga setibanya di villa, Charles turun lebih dulu dari mobil. Ketika hendak mengikutinya, Sharon terkejut saat pintu telah terbuka, dan Charles berdiri di balik pintu itu.
Menahan perasaannya, Sharon segera turun, dan mengikuti langkahnya untuk masuk ke dalam. Baik Raeya maupun bibi Rey kebingungan saat melihat tuannya harus kembali lagi dari kantor, dan suasana yang terjadi antar keduanya begitu mencemaskan.
Langkah Charles membawanya menuju kamar, dan Sharon hanya mampu mengikutinya. Ketika berada di dalam, Sharon menutup pintu kamarnya. Saat hendak membalikkan tubuhnya, siapa sangka jika Charles langsung membawanya ke dalam pelukannya.
"Maaf!" Kata-kata itu terlontar dari bibir Charles, dan mendengar itu membuat air mata Sharon kembali menetes, namun ia segera membalas pelukan itu. "Pikiranku hanya sedang kacau, dan tidak seharusnya aku menyakitimu dengan ucapanku seperti tadi." Imbuhnya lagi yang masih memeluknya erat.
"Sudah jelas ini semua kesalahanku. Kenapa kau yang meminta maaf?" Balas Sharon dengan sisa isak tangisnya.
"Tidak! Ini semua berawal dari sikap kekanak-kanakkanku. Jika aku tidak melakukan hal konyol, kau tidak akan berbuat seperti tadi itu."
"Jadi, kau mengakui jika sikapmu masih begitu kekanak-kanakkan?" Tuturnya yang melepaskan pelukan itu seraya menatap wajah suaminya.
"Hah? A-apa?" Charles memberikan tatapan tajam pada wanita di hadapannya. Namun, Sharon tertawa kecil melihat reaksinya, dan Charles pun melakukan hal yang sama. Keduanya tertawa bersama, lalu Charles mengusap sisa air mata yang membasahi kedua pipi Sharon, dan menciumnya lembut.
Bersambung ...