My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 36



Merasa sudah lebih baik, Charles memutuskan untuk kembali ke kantor. Ia juga meminta Key agar menjemputnya. Awalnya Bill sempat melarang putranya untuk kembali, dan memintanya untuk beristirahat beberapa hari lagi, namun Charles menolak hal tersebut.


Tidak mudah mengubah keputusan putranya, dan tidak ingin berdebat dengannya. Bill pun mengizinkannya dengan syarat jika Charles tidak memporsir pekerjaannya dengan keras. Keduanya sepakat, dan saat Key tiba, Charles pun segera berangkat.


Setibanya di Austin Industries, seseorang telah menunggunya di lobby dengan menggenggam sebuah bingkisan. Rasa malas bagi Charles untuk menghampiri orang tersebut, dan ingin sekali ia memutar arah. Namun, orang itu justru menghampirinya lebih dulu.


"Charles, aku bawakan rosti kesukaanmu."


"Maaf Maisha, tapi aku sudah sarapan. Ini ku terima, namun aku akan memakannya nanti."


"Tidak masalah. Siang nanti, apa kau bisa makan bersamaku?"


"Aku lihat jadwalku dulu, aku akan mengabarimu nanti."


"Kau harus usahakan itu, Charles. Aku tidak ingin kau mengecewakanku."


Sharon, dari seberang kantor ia melihat Charles tengah berbincang dengan seseorang. Namun, ia tak melihat dengan siapa Charles bicara. Kali ini, ia mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk meminta maaf pada pria itu, dan berharap jika semuanya berhasil, hingga hubungan keduanya dapat kembali seperti sedia kala.


Saat lampu hijau untuk pengguna jalan menyala, Sharon langsung melangkah ke arah pria tersebut dengan detak jantung yang tak karuan. Ia sungguh gugup untuk menemuinya, namun ia harus menghalau semua itu.


"Selamat pagi tuan Charles. Aku..." Ucapan Sharon terhenti ketika melihat seseorang yang berada di hadapan Charles.


"... pagi." Charles membalas, namun tak memandangnya. "Maisha, aku akan terima tawaranmu. Kita akan makan siang bersama, dan kau bisa datang kemari nanti. Sebaiknya, sekarang kau pulang lah dulu." Terlihat jika Charles merangkul wanita tersebut, dan ia mendapatkan sebuah pelukan.


"Benarkah? Ah aku bahagia sekali. Baiklah, aku akan pulang sekarang." Maisha mencium pipi Charles setelah mengucapkan itu.


"Maaf mengganggu kalian." Tatapan Sharon berubah nanar ketika menyaksikan semua itu. Karena hal itu juga, ia tak jadi mengungkapkan hal yang sangat ingin ia utarakan.


Melihat Sharon sudah pergi, Charles pun segera masuk ke dalam untuk menuju ruangannya. Sedangkan Sharon kembali bekerja seperti biasa.


Semua hanya khayalannya saja. Ketika hendak kembali memejamkan matanya, seseorang menekan bel villanya secara terus menerus hingga membuatnya kesal. Kemudian, ia pun segera keluar kamar, dan mencari tahu siapa yang telah berani mengganggu waktunya.


"Grace? Kau sudah gila ya? Membuat rusuh di rumah orang lain sepagi ini?" Kent tampak kesal dengan perbuatannya, namun wanita tersebut tak memperdulikannya, dan masuk begitu saja. "Ada apa?" Sambungnya lagi.


"Aku hanya ingin membuatkan sarapan saja untukmu. Lagi pula, aku tidak akan membiarkan calon suamiku kelaparan begitu saja."


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Aku juga tidak akan membiarkan diriku kelaparan. Sebaiknya kau kembali saja ke apartmentmu, aku sedang lelah."


"Kau tidurlah lagi, aku akan tetap membuatkannya untukmu." Timpal Grace, dan ia langsung berjalan menuju dapur. Sedangkan Kent hanya mampu menepuk dahinya saat itu.


Tidak mampu mengusir wanita itu dari rumah, Kent pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ia juga berpesan pada wanita tersebut, jika ketika sedang tidur, dirinya tidak ingin di ganggu.


Wanita itu sungguh tak keberatan dengan syarat yang diberikan oleh Kent. Lalu, ia pun bergegas menuju dapur untuk membereskan segala bahan-bahan yang sudah ia beli sebelum tiba di villa tersebut.


•••


Siang telah tiba, sesuai janji, Charles pun pergi makan siang bersama dengan Maisha. Sharon yang kebetulan sedang berada di luar untuk membuang sampah dapat melihat kepergian mereka. Tatapannya bertemu dengan tatapan Charles, namun ia tidak menggubrisnya, kemudian ia langsung masuk ke dalam mobil, dan segera pergi.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Sharon mencari Key, dan meminta izinnya untuk pulang cepat. Melihat wajah Sharon yang sedikit pucat, Key mengizinkannya, dan akan menyampaikannya pada Charles nanti.


"Jangan. Tolong jangan katakan padanya mengenai hal ini. Aku tidak ingin merusak hubungannya dengan wanita itu." Gumam Sharon.


"Tapi, jika tuan Charles bertanya padaku tentang dirimu, apa yang harus ku jawab?"


"Dia tidak akan bertanya. Baiklah, aku permisi." Sahut Sharon seraya tersenyum. Lalu, ia pun langsung pergi dari sana.


Bersambung ...