My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 147



Melihat Sharon yang masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukannya membuat Charles mengikutinya. Ketika tiba di kamar, wanita itu telah membaringkan tubuhnya, dan Charles hanya mampu menghela nafasnya.


Kemudian, ia memilih untuk membersihkan tubuhnya agar dapat beristirahat lebih cepat. Dia hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk mandi, dan setelah itu ia memutuskan untuk segera berbaring di sisi Sharon.


Ketika hendak memejamkan mata, ia sempat menoleh ke samping, ia mendengar sedikit suara isakkan dari sisinya yang kemudian membuat Charles menarik bahu Sharon agar tubuhnya terbaring.


Mengejutkan, pipi Sharon basah dengan cairan bening yang keluar dari matanya. Meski tak begitu basah, tetap saja membuat Charles kebingungan. Sadar di tatap oleh suaminya, Sharon membuka kedua matanya seraya mengusap sisa-sisa cairan tersebut, dan hendak kembali membalikkan tubuhnya untuk memunggungi pria itu. Namun, Charles menahan hal tersebut hingga posisi tubuh Sharon saat ini setengah miring.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Charles menyahut dengan nada lembutnya.


"Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?" Sharon membalas dengan sisa-sisa isakkannya.


"Kenapa?" Balasnya bingung.


"Sebenarnya apa masalahmu? Jika kau memiliki masalah di kantor, bisakah untuk tidak membawa atau melampiaskannya di rumah? Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi."


"Aku sungguh tidak memiliki masalah apa pun di kantor. Austin Industries sungguh baik-baik saja."


"Ah kau benar. Jika di pikir-pikir, setelah mendengar kehamilanku, sikapmu berubah, Charles. Kau lebih mudah emosi, dan seketika kau membuatku asing dengan dirimu. Katakan padaku, apa kau tidak menginginkan kehamilanku ini?"


"Apa maksudmu? Kenapa kau bisa bicara seperti itu? Tentu saja aku sangat menginginkannya, kehadiran si kecil nanti pasti akan sangat menyenangkan, dan membuat rumah kita lebih ramai."


"Jika begitu, kenapa semenjak kehamilanku, kau selalu mudah emosi, dan membuatku terluka?"


Aku? Menyakitinya? Astaga, sebenarnya apa yang sudah ku lakukan padanya? Kenapa aku bodoh sekali sampai harus membuat dia terluka? Aku membawanya, menikahinya untuk memberinya seluruh kebahagiaan yang ku miliki, tidak ku sangka jika akhir-akhir ini aku sudah melukai perasaannya.


Charles terus menundukkan pandangannya. Ia sungguh menyesali semua perbuatannya, ia sendiri bahkan tidak mengerti ada apa dengan dirinya. Semuanya benar-benar spontan, dan di luar kesadarannya. Begitulah yang ia rasakan.


"Maafkan aku!" Gumamnya pelan, dan Sharon menatapnya lekat. "Aku sungguh minta maaf padamu. Aku tidak tahu jika kau benar-benar terluka akan sikapku akhir-akhir ini. Terima kasih karena telah menyadarkanku, Sharon."


"Berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi!"


"Yaah aku janji istriku." Kini, senyuman terukir di bibir Charles, ia menyatukan dahinya dengan dahi Sharon. "Untuk menebus kesalahanku, apa kau menginginkan sesuatu? Aku akan memenuhinya segalanya untukmu!" Tambahnya lagi, dan Sharon langsung duduk menyandar pada di ranjangnya.


Sharon menepuk-nepuk dagunya dengan jari telunjuknya, bola matanya melirik ke atas seolah tengah memikirkan sesuatu, dan Charles menatapnya tak sabaran. Ketika Sharon membalas tatapan itu, Charles tersenyum ke arahnya, begitu pun dengan Sharon.


"Aku tidak menginginkan apapun. Dengan kembalinya dirimu seperti dulu, dan dengan dirimu di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Tapi, satu hal yang perlu kau ingat! Kau tidak boleh sembarang mencubitku ketika aku tengah tertidur!"


"Kau bilang tidak menginginkan apapun? Lalu, kenapa di akhir kalimat kau meminta sesuatu padaku?"


"Itu bukan permintaan, tapi peringatan!" Tatapan Sharon menajam saat itu juga, dan Charles terkekeh mendengarnya.


"Jika tidak boleh mencubitnya, itu artinya kau mengizinkanku untuk menggigitnya, begitu 'kan?" Timpalnya.


"HAAAH?" Sharon begitu terkejut mendengar penuturannya, dan ekspresinya membuat Charles tertawa, kemudian ia membawa wanita tersebut ke dalam pelukannya.


•••


"Rapat akan di lakukan 10 menit lagi, tuan. Tuan Sworth, dan tuan Edbert sudah datang 5 menit yang lalu." Key menyahut.


"Bagaimana dengan pemegang saham yang lain?"


"Mereka juga sudah tiba, tuan."


"Baiklah. Setelah mengemas dokumen-dokumen ini, aku akan menyusul kesana."


Key keluar dari ruangan, dan kembali ke tempatnya. Sesuai ucapannya, dia segera menuju ruang meeting setelah membereskan segalanya. Ketika dia datang, rapat pun di mulai.


Charles mulai membuka dokumen yang berada di atas meja, bukan hanya dia, mereka yang disana pun membuka serta membaca dokumen tersebut. Kata demi kata di baca begitu teliti, kemudian sebuah senyuman terukir di bibir Charles.


"Aku rasa peningkatan bulan ini sangat luar biasa." Celetuk Nick seraya menutup dokumen tersebut.


"Anda benar, tuan Sworth! Peningkatan ini melonjak begitu pesat. Ini semua karena strategi yang di buat oleh tuan Austin."


"Tuan Harry, anda terlalu memujiku!" Charles menyambar. "Ini bukan hanya karena diriku, melainkan dukungan dari kalian semua yang ada di sini." Lanjutnya lagi.


"Anda yang terlalu merendah, tuan Charles! Apa yang di katakan oleh tuan Harry adalah benar." Kini, Kent ikut membuka suaranya.


"Baiklah. Apa ada yang ingin anda katakan mengenai hal ini, tuan Austin?" Timpal Chris.


"Tidak banyak. Aku ingin menuangkan pendapatku, aku ingin menyumbangkan 15% dari keuntungan kita. Apa kalian menyetujuinya? Lalu, aku juga akan memberikan dana untuk merayakan semua ini."


"Aku setuju dengan usulan itu."


"Aku juga setuju, lagi pula hanya 15%. Itu tidak akan mengurangi keuntungan kita."


Ketika semua setuju dengan pendapat yang di ajukan oleh Charles, Charles merasa senang mendengarnya. Setelah rapat tersebut selesai, mereka meninggalkan ruangan satu per satu, namun tidak dengan Charles.


Melihat Charles menyandar santai di sana, membuat Kent kembali lagi untuk duduk menemani pria itu. Menyadari kehadiran Kent, Charles membenarkan duduknya, dan menatap pria yang tengah duduk di salah kursi yang ada di ruangan tersebut.


"Apa kau tidak kembali?" Sambar Charles.


"Melihatmu termenung disini membuatku tertarik. Apa yang tengah kau pikirkan?"


"Hanya sedang memikirkannya saja."


"Membicarakan soal Sharon, bukankah usia kandungannya dengan Natasha hanya berbeda satu bulan saja?" Mendengar ucapan itu membuat Charles berdeham menanggapinya. "Jika begitu, apa selama ini dia selalu meminta hal yang aneh-aneh padamu? Atau bersikap aneh?" Kent melanjutkan.


"Meminta hal aneh? Aku rasa tidak, dia tidak pernah mengatakan apa pun mengenai keinginannya. Untuk sikap..." Setelah mengatakan itu membuat Charles terdiam sejenak. "Tunggu, sikap ya?"


"Benar. Apa dia bersikap aneh selama kehamilannya?"


Bersambung ...