
Charles tak menanggapi apa yang sudah Sharon ucapkan. Langkahnya semakin membawanya ke arah gadis itu, dekat, dekat, dan semakin dekat. Fikirannya terus terbayang oleh kebersamaan gadis itu dengan Kent.
"T-tuan Austin.." Sharon mendorong pelan tubuh Charles. "... jika tidak ada yang ingin di bicarakan, sebaiknya aku permisi keluar. Karena ada yang sedang menungguku untuk makan siang." Kemudian Sharon membalikkan tubuhnya, dan melangkah keluar.
Belum sampai membuka pintu, Charles menariknya ke dalam pelukannya, kemudian ia pun menciumnya secara tiba-tiba. Sharon yang terkejut akan hal itu pun langsung mendorong tubuh Charles, dan menamparnya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" Sharon menitikkan air matanya.
"Maafkan aku, aku..."
"... hubungan kita sudah berakhir. Bukankah kau juga menyetujuinya? Ku mohon menjauhlah, dan lupakan aku."
"Menjauh, dan melupakanmu? Mana mungkin aku bisa melakukan semua itu? Lisanku memang menyetujuinya, tapi hati, dan fikiranku menolak hal tersebut."
"Carilah penggantiku, maka kau akan melupakanku." Gumam Sharon yang kini menundukkan pandangannya.
"Jadi begitu ya? Sama halnya seperti dirimu 'kan? Mendekati Kent untuk melupakanku? Begitukah caranya? Baiklah, aku akan mengikutinya. Terima kasih atas saran yang kau berikan."
Tidak ingin memperpanjang masalah tersebut, Sharon hanya mampu menghela nafasnya. Kemudian, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Ah ya aku lupa." Sharon menahan langkahnya, dan kembali menutup pintu ruangan tersebut. "Aku dengar kau mengajukan kerja sama dengan Sworth Company belum lama ini? Aku tahu kau melakukan semua itu hanya untuk menjatuhkan mereka, maka lupakan saja niatmu. Jika kau sampai melakukannya, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu." Kemudian, Sharon pun pergi dari sana.
"Aku melakukan semua ini demi dirimu. Aku hanya ingin mereka tahu, jika Sharon Hwang adalah wanitaku, dan tidak ada yang boleh berani macam-macam dengannya." Charles membatin.
Kini, baik Sharon, Kent, dan Nick tengah menikmati makan siangnya. Meski ada rasa yang janggal di hatinya, Sharon tetap menyembunyikan semuanya, dan tertawa bersama mereka.
Dari kejauhan, seseorang memandanginya. Melihat tawanya sangat membuatnya bahagia, namun ia juga merasa sedih, karena tawa gadis itu bukan lagi di tujukkan untuknya. Tak lama kemudian, ia merasa jika sakit itu datang lagi, hingga asistennya yang menyadari hal itu pun lekas membawanya kembali.
"Key bawa aku pulang ke rumah saja. Jangan ke rumah sakit."
"Tapi tuan Charles, anda.."
"... Key.."
Merasa ada yang memperhatikannya, mata Sharon memandang ke arah luar. Namun, tidak ada siapa pun disana. Ketika jam istirahat sudah hampir berakhir, Nick bergegas untuk mengantar Sharon kembali. Namun, hal tersebut di cegah oleh Kent.
Dengan inisiatifnya, Kent langsung meminta Nick menyerahkan Sharon padanya. Ia bahkan berjanji akan mengantarnya sampai benar-benar aman. Melihat tingkah pria itu, membuat Nick menepuk dahinya sendiri seraya menghela nafasnya.
"Jika kau berani macam-macam padanya. Habislah kau." Nick mengancam, dan mereka pun terkekeh mendengarnya.
Kemudian, Kent segera meminta Sharon untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, mereka pun segera berangkat menuju Austin Industries..
"Hubunganmu selalu baik dengan kak Nick."
"Bukankah memang sejak awal dari keluarga Sworth hanya kak Nick saja yang peduli denganku?"
"Aku dengar kakekmu sakit keras. Apa kau tidak berniat untuk menjenguknya?"
"Untuk apa? Lagi pula kak Nick tidak bicara apapun mengenai hal tersebut. Meski aku datang sekali pun, mereka pasti akan langsung mengusirku."
•••
Hari berlalu, dan saat itu Sharon pun tak melihat Key atau pun Charles di tempat tersebut. Bagaimana pun, ia juga masih belum mampu untuk melupakannya. Pria tersebut selalu berada di sisinya ketika ia sedang membutuhkan seseorang kala itu.
Di waktu yang bersamaan, dokter Marvin tengah mengecek kondisi Charles yang sedang tak sadarkan diri. Bill Austin sungguh mengkhawatirkan kondisi putranya. Bukan hanya Bill, Charlie pun merasakan hal yang sama.
"Apa Charles berhenti mengkonsumsi antibiotik yang ku berikan?" Sahut dokter Marvin.
"Beberapa kali, tuan Charles memang tidak mengkonsumsinya. Tiap kali aku ingatkan, dia selalu menundanya terus menerus." Key yang berada disana pun menyahut.
"Aku harap, lain kali tidak seperti itu. Kali ini, kita masih belum mendapatkan pendonor. Jika hal ini terjadi lagi, maka aku takut terjadi hal yang buruk padanya."
"Kami akan selalu mengingatkannya." Bill Austin menyambar.
Bersambung ...