My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 137



Charles menatap tulisan pada kertas itu, dan menatap Sharon secara bergantian. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang di bacanya. Kemudian, ia mengesampingkan surat itu, dan menatap kedua mata wanita di hadapannya dengan begitu lekat.


Tatapan itu seolah mengatakan 'apa semua ini nyata?'. Mengerti akan tatapan yang di berikan olehnya, Sharon tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Hingga kemudian, Charles membelalakkan kedua matanya, dan turun dari ranjangnya.


Bukan hanya itu, ia bahkan menarik Sharon dari atas ranjang, dan menggendongnya. Keduanya berputar dengan posisi Sharon yang masih dalam gendongan suaminya.


"Sungguhkah? Jadi, aku akan menjadi seorang ayah? Benar begitu 'kan?" Sahut Charles yang menurunkan Sharon secara perlahan, dan Sharon masih menggantungkan kedua tangannya di leher suaminya.


"Tentu saja benar." Imbuh Sharon dengan senyuman kecilnya. Kemudian, Charles kembali memeluknya erat. Ia sungguh merasa bahagia dengan kabar yang di terimanya saat ini.


"Kau tahu? Ini bagaikan kado terindah, dan kau memberitahu hal ini setelah kita melangsungkan pernikahan kedua kita. Tapi, kapan kau melakukan tes ini?" Kini, Charles merasa bingung. Kenapa dirinya sampai tidak tahu jika istrinya pergi ke rumah sakit untuk menjalani sebuah tes?


"Beberapa hari yang lalu, dan aku mendapatkan hasilnya, saat kau membawaku ke rumah ayah untuk memberitahuku soal gaun yang akan aku kenakan."


"Jadi, pria yang menelfonmu itu benar dokter Marvin 'kan? Jadi, aku tidak salah mengenali suaranya bukan? Lalu, saat kau tiba-tiba berkeringat, dan sampai terlihat pucat tadi itu pasti karena kehamilanmu ini?" Sambar Charles. Kemudian, Sharon pun terkekeh mendengar semua penuturan pria di hadapannya.


"Maafkan aku. Aku sengaja menyembunyikannya darimu, dan memang ingin memberitahumu setelah pernikahan ini di laksanakan."


"Astaga, kau sungguh pandai merahasiakan sesuatu. Namun, jangan ulangi hal itu lagi padaku. Melihatmu seperti tadi sungguh membuatku merasa khawatir. Jika saja aku tahu kau hamil, aku tidak akan memaksamu untuk berdiri di waktu yang lama seperti tadi."


"Tidak apa-apa. Selama bersama dirimu, aku pasti bisa menahannya."


"Besok kita akan memeriksakan kandunganmu." Tutur Charles, dan Sharon hanya menganggukkan kepalanya. "Aaahh aku sangat bahagia sekali, sampai-sampai aku ingin melompat keluar dari jendela kamar ini." Ucapnya lagi yang kembali memeluk Sharon dengan begitu erat.


"Apa aku tidak salah dengar? Jika kau melompat, itu artinya kau ingin bunuh diri, hah?" Sharon melepaskan pelukannya, dan menatap Charles dengan begitu tajam.


Mendapati tatapan seperti itu membuat Charles tertawa menanggapinya. Lalu, ia kembali mengangkat tubuh Sharon, dan membaringkannya di atas ranjang. Setelah itu, ia melompat ke sisi istrinya, berbaring, dan memeluknya dengan begitu manja.


•••


Saat hari telah berganti. Pagi itu, Charles sudah tampak rapih dengan pakaiannya, dan Sharon yang bangun telat itu pun terkejut saat melihat nakasnya ada segelas susu serta beberapa buah-buahan. Dahinya mengernyit saat melihat hal yang tidak biasa baginya.


"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau..."


"... tidak perlu banyak bertanya. Lakukan saja!" Imbuhnya seraya tersenyum, dan Sharon hanya menghela nafasnya. Kemudian, ia pun bangkit dari ranjang untuk menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


"Aku ini hanya hamil, kenapa sikapnya berubah menjadi berlebihan seperti itu?" Gerutunya dengan nada yang begitu pelan.


Tidak lama setelah membersihkan tubuhnya. Lagi-lagi sesuatu hal mengejutkan terjadi di sana. Pria itu menyiapkan pakaian untuknya, ia menyimpannya tepat di atas ranjang, dan Sharon hanya menggelengkan kepalanya melihat hal itu.


Entah ada dimana pria itu sekarang, namun tanpa berpikir panjang lagi, ia sengaja mengenakan pakaian yang telah di siapkan oleh suaminya. Ketika hendak menarik resleting yang terdapat di belakang dressnya, tiba-tiba resletingnya tidak dapat di tarik, dan secara kebetulan, Charles pun kembali ke kamarnya.


Pria itu melihat istrinya tengah kesulitan, kemudian senyuman terukir di sudut bibirnya. Kakinya melangkah untuk mendekat ke arahnya, tentu saja dengan senang hati ia akan membantunya. Resleting itu macet, dan Charles segera menariknya.


Namun, sebelum ia melakukannya, ia mencium punggung wanitanya terlebih dulu, hingga setelah itu barulah ia menariknya dengan benar. Lalu, ia membenarkan letak rambut panjang Sharon yang selalu terlihat indah saat terurai.


"Sebelum berangkat, kau harus..." Belum menyelesaikan kalimatnya, seolah mengerti dengan apa yang akan di katakan oleh suaminya, Sharon tampak sudah mengambil gelas susu, dan menenggaknya habis. "... istri pintar!" Charles mengusap puncak kepala wanita itu dengan senyuman kecilnya.


"Perutku sudah tidak enak! Aku tidak ingin memakan lainnya."


"Tidak apa-apa. Aku sudah menghubungi dokter Marvin untuk membuat janji dengannya. Ayo berangkat sekarang!"


Keduanya pun pergi menuju rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kandungan Sharon. Selama perjalanan, senyuman terus terukir di bibir Charles, sungguh kebahagiaannya saat tidak bisa di ungkapkan, dan melihat reaksi suaminya membuat Sharon merasakan hal yang sama.


Setibanya di rumah sakit, keduanya langsung menemui dokter Marvin di ruangannya. Namun, dokter tersebut merekomendasikan salah satu dokter kandungan yang ada di rumah sakit tersebut, ia juga sudah membuatkan janji untuk keduanya. Bagaimana pun, dokter Marvin bukanlah seorang dokter kandungan, dan akan lebih jelas lagi jika keduanya menemui dengan yang ahlinya dalam bidang tersebut.


"Dokter Yarry, ini adalah Charles Austin, dan istrinya. Aku yang sudah membuat janji denganmu untuk mereka."


"Yarry? Apa kau Yarry Gates?" Sahut Sharon, dan penuturannya membuat Charles menoleh ke arah istrinya. Bagaimana mungkin ia mengenal orang itu? Dan siapa Yarry Gates itu?


Bersambung ...