
Charles yang sudah berada di Austin Industries pun berjalan dengan begitu gusar, terlihat jelas jika ia terus menggerutu sepanjang langkahnya. Key yang tak sengaja di lalui olehnya pun begitu terkejut melihat atasannya berjalan seraya menghentakkan kakinya.
“Key! Ke ruanganku sekarang!” Langkah kaki Charles berhenti sejenak saat menyadari jika asistennya tengan memperhatikan dirinya.
“Astaga seharusnya aku berpura-pura tidak melihatnya saja tadi.” Gerutunya.
“Aku dengar yang kau ucapkan! Bawa juga semua berkas yang harus ku tanda tangani, sekarang! Jika tidak, aku tidak akan segan-segan untuk memangkas bonus akhir tahunmu!” Ancamnya yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
“Ya ampun, sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang sudah membuat tuan Charles semarah itu?” Seru Elena, teman kerja Key yang duduk tepat bersebelahan dengannya. Ia datang menghampirinya seraya menatap punggung atasannya yang berjalan semakin jauh.
“Hanya satu orang yang bisa membuat mood tuan Charles berubah, pasti karena nona Sharon.” Key mendengus kesal seraya menepuk dahinya. “Kenapa aku harus ikut terseret dalam masalah keluarga mereka?” Rengeknya, dan kembali berjalan ke mejanya.
“Sudah cepat kau pergi sekarang! Apa kau tidak dengar ancamannya tadi?”
“Astaga aku melupakan kalimat itu!” Dengan cepat Key menyiapkan berkas-berkas yang di minta oleh atasannya. Kemudian, ia berlari menuju lift agar bisa tiba di ruangan Charles.
Setibanya ia di hadapan ruang direktur, Key tampak menarik napasnya dalam-dalam sebelum memegang gagang pintu tersebut. Ketika pintu terbuka, sebuah dentuman membuatnya begitu terkejut. Siapa sangka jika Charles membanting setumpuk dokumen saat hendak memindahkannya ke sisi lainnya.
Melihat hal itu sungguh tak biasa untuknya, bahkan membuat Key menelan air liurnya sendiri. Pikirannya terus berkecamuk saat melihat tingkah aneh bosnya hari itu. Dengan ragu ia melangkahkan kakinya ke arah meja, dan perlahan ia menyimpan dokumen itu di atas meja milik Charles.
“Kenapa?” Hentak Charles, dan hal itu kembali membuat Key terkejut. “Kenapa banyak sekali pria yang senang menggoda istriku, hah? Bahkan itu terjadi di saat aku tengah berada di sisinya. Apa aku ini begitu kecil hingga tidak terlihat olehnya?” Tambahnya lagi seraya meremas kertas yang berada dalam buku catatan miliknya.
“Ternyata dia tengah cemburu.” Key mendesah saat tahu apa yang tengah terjadi pada atasannya tersebut. “Maaf tuan, pria mana lagi yang tuan maksud? Pria itu pasti bukan tuan Kent ‘kan?” Sahut Key yang mencoba mencari tahu.
“Tentu saja bukan. Jika Kent masih berani mendekatinya di saat dia sudah beristri, maka aku tak segan-segan untuk berbuat sesuatu yang tak akan pernah ia bayangkan."
"Lalu?"
"Aku tidak tahu siapa pria itu. Tapi, aku akan mencari tahu, dan apa ini?" Charles kembali menghentakkan tangannya ke atas meja, dan tentu saja hal itu membuat Key menaikkan kedua bahunya secara spontan karena terkejut. "Escape Group adalah anak perusahaan dari Austin Industries, apa yang membuat nilai penjualannya turun sampai 5%? Key, apa kau tidak mengontrolnya?" Tatapan itu menajam, lagi-lagi Key hanya menelan air liurnya.
"Maaf tuan, untuk beberapa hari ini aku tak bisa mengendalikan seluruhnya. Terlebih tuan Albert sulit ku temui."
"Hubungi sekretarisnya, juga adakan rapat dengan pemegang saham lainnya. Tekankan pada Albert, jika dia tidak hadir, maka aku akan membuat posisinya tidak aman!"
•••
Berlin, cuaca tampak begitu cerah. Meski sinar matahari menampakkan bentuknya, panasnya tidak begitu menusuk ke kulit. Saat itu, Charlie tengah duduk menunggu seseorang di sebuah lobby hotel, hingga orang itu pun datang, dan langsung merangkul lengan Charlie.
Sebuah senyum terukir ketika melihat orang itu tiba, yah siapa lagi jika bukan Gwen. Mereka segera meninggalkan hotel untuk menuju suatu tempat, bisa di bilang tempat untuk meminta restu atas hubungan keduanya. Namun, sepertinya bukan itu niat Charlie datang ke tempat tersebut.
Setibanya mereka di rumah yang begitu besar, dengan mantap Charlie hendak melangkah masuk. Namun, Gwen tampak menahan langkahnya, ia justru ragu untuk masuk ke dalam. Akankah ayahnya menyetujui hubungan keduanya setelah apa yang di lakukan oleh Charles pada perusahaannya saat itu.
"Yang ingin kau temui adalah ayahmu, apalagi yang membuatmu ragu? Ayo cepat masuk!" Titah Charlie seraya menggenggam erat tangan wanita itu.
Pada akhirnya mereka pun masuk ke dalam, dan saat melihat James berdiri di balik pintu, sungguh membuat Gwen begitu terkejut, namun tidak untuk Charlie. Charlie memutar bola matanya ke arah wanita yang berada di sisinya, entah kenapa genggamannya semakin terasa erat saat melihat ayahnya.
"T-tuan Charles?" Ujar James saat menyadari adanya pria di samping putrinya.
"Bukan ayah, dia Charlie. Sejujurnya kedatanganku kemari untuk memberitahukan hubunganku dengannya. Saat ayah menjebak Charles untuk datang, sebenarnya aku sudah lebih dulu memiliki hubungan dengan Charlie."
"Apa kau yakin dengan pilihanmu? Apa kau tak ingat dengan apa yang sudah di lakukan saudaranya pada perusahaanku?"
"Tapi, itu semua karena tindakan bodoh ayah. Jika saja ayah tidak bermain-main dengannya, mungkin Charles tidak akan melakukan hal itu. Lagi pula, pada akhirnya, bukankah perusahaan ayah telah kembali? Yah, meski memang nama kepemilikkannya berubah menjadi namaku, dan..."
"... dan kedatangan kami kemari bukan untuk meminta restu darimu! Aku tidak peduli apa kau merestuinya atau tidak, karena tanpa restu darimu sekalipun, aku akan tetap menikahinya kelak." Celetuk Charlie yang sudah menahan amarahnya sejak tadi.
"Apa kau pun berpendapat sama dengannya?" Sahut James pada Gwen yang tampak menundukkan pandangannya.
Bersambung ...
Oke maafkan daku karena kali ini singkat sesingkat-singkatnya. Meski begitu, jangan lupa untuk mampir di story ku yang berjudul "Storm"
Terima kasih dear😍