
"Argh." Sharon sedikit merintih dengan memegangi letak jahitan setelah operasi, bahkan bantal yang sempat menutupi wajahnya pun terlepas dari genggamannya. Melihat wanitanya berkeringat tentu saja membuat Charles merasa khawatir, dan saat itu juga ia langsung menghubungi dokter Marvin untuk datang.
Entahlah kemana para asisten rumah tangga saat itu, Charles bahkan belum menemui satu pun dari mereka, hanya ada beberapa penjaga di luar, tidak mungkin untuknya meminta bantuan mereka supaya menyiapkan beberapa makanan hangat untuk Sharon.
"Tidak! Jangan pergi." Nafasnya sedikit terengah-engah, dan tangannya menggenggam erat tangan Charles. Kemudian, Charles menyambar pakaian yang ada di atas ranjang untuk segera ia kenakan.
"Apa yang kau rasakan? Katakan padaku! Jangan membuatku takut!" Ucap Charles yang membantu Sharon untuk kembali berbaring.
"Permisi tuan, dokter Marvin telah datang." Seru salah seorang penjaga seraya mengetuk pintu kamar mereka, dan dengan cepat Charles membukakan pintu tersebut.
Dokter Marvin sungguh terkejut ketika melihat Sharon telah sadarkan diri. Bahkan Charles tidak mengatakan apapun padanya, ia hanya bicara jika terjadi sesuatu pada istrinya, dan dokter Marvin berfikir, mungkin sesuatu yg lain atau perkembangan lainnya.
Namun, siapa sangka jika sesuatu itu adalah mengenai kesadaran dari wanita yang sudah ia tunggu. Melihat kondisinya yang mulai pucat, dokter Marvin segera memeriksakan kondisi tubuh Sharon, dan dengan perasaan cemas Charles menggenggam erat tangan istrinya.
"Sejak kapan dia sadar?" Seru dokter Marvin, dan Charles langsung memandang wanita di sisinya.
"Aku tidak tahu pasti, karena aku baru kembali dari Jerman. Namun, ketika aku pulang, dia sudah duduk di atas kursi seraya menikmati segelas ice cream."
"Kondisi Sharon masih belum stabil. Mengenai jahitan pasca operasi, dan pencakokkan yang telah terjadi, organnya masih belum mampu beradaptasi. Itulah yang membuat dirinya menjadi lemah, dan tidak seharusnya dia di biarkan seorang diri saat ia sadar. Sangat bagus jika tidak terjadi sesuatu, bagaimana jika ketika dia pingsan, kemudian tidak ada yang menyadarinya? Itu akan jauh lebih fatal." Sahut dokter Marvin, dan Charles sungguh terkejut mendengar penjelasan itu.
"Baik, maafkan aku. Aku pastikan jika aku akan terus menjaganya. Tapi, dia tidak apa-apa 'kan?"
"Tidak apa-apa. Namun, jangan sampai ini terulang lagi. Sharon juga harus melakukan check up satu bulan sekali sampai kondisinya benar-benar pulih."
"Baik. Aku akan melakukan itu, terima kasih dokter."
"Dan ingat! Untuk saat ini, jangan terlalu sering mengkonsumsi ice cream! Juga kabari keluargamu soal Sharon yang telah sadarkan diri!" Sahutnya lagi, kemudian dokter Marvin segera meninggalkan villa itu.
Setelah mengantar dokter tersebut keluar, Charles kembali ke kamar, dan menatap tajam ke arah Sharon. Melihat hal itu tentu saja membuatnya kebingungan, kenapa pria di hadapannya memberikan sebuah sorotan intens seakan dia tengah marah.
Tidak ingin menghiraukan hal itu, Sharon langsung memiringkan tubuhnya, dan memejamkan matanya. Kemudian, Charles duduk di tepi ranjang, lalu meminta wanita tersebut untuk kembali terlentang.
"Kapan kau sadar? Kenapa kau tidak langsung menelfonku ketika sadar? Lalu, dimana para asisten rumah tangga di villa ini?" Sahut Charles, dan Sharon mengatur posisinya supaya lebih nyaman.
Panas matahari semakin terik, Raeya yang tengah membersihkan kamar Sharon terkejut ketika melihatnya meneteskan air mata. Langkahnya membawa dirinya untuk mendekat ke arah Sharon.
Entah kenapa, cairan bening itu terus keluar secara terus menerus, kemudian Raeya menggenggam tangannya, dan berharap jika hal itu mampu di rasakan oleh Sharon. Setelah itu, terdengar suara racauan yang keluar dari mulut nonanya, di saat yang bersamaan Raeya mundur tak menyangka ketika mata Sharon terbuka secara perlahan.
*"Nona? Nona, kau telah sadar?" Raeya kembali menghampirinya.**
"Aku dimana?"
"Charles? Dimana dia? Apa yang terjadi padanya? Dia, dia baik-baik saja bukan? Dan, apa yang sudah terjadi padaku?"
"Nona terbaring koma hampir 2 bulan setelah operasi. Mengenai tuan Charles, nona tenang saja, tuan Charles terlihat sangat baik. Namun, dia sedang pergi, dia tidak mengatakan pada kami akan pergi kemana. Mereka hanya meminta kami untuk menjaga nona selama dia pergi."
"2 bulan? Operasi? Ah, kau benar. Ternyata efek operasi itu benar-benar terjadi. Meski begitu aku senang, karena dokter Marvin benar-benar membantuku untuk mendapatkan 5% itu. Charles, apa dia terus menjagaku ketika aku..."
"... tuan Charles selalu mendampingimu, nona. Setiap hari dia bersamamu, dia selalu mengajakmu bicara, dan ia tidak pernah lelah menjagamu sepanjang waktu."
"Jadi, suara-suara yang ku dengar saat di sana adalah suaranya? Suara itulah yang membuat otakku merespon agar aku harus kembali padanya."
"Kakak, kita harus kembali ke Olten sekarang. Ayah, dia..." Ucapannya tertahan ketika melihat Sharon tengah duduk menyandar pada dinding ranjangnya. "N-nona Sharon? Kau telah sadar?" Sambungnya lagi.
"Erina? Ada apa dengan ayah?"
"Ayah masuk rumah sakit, kita harus kembali kak."
"Tapi, nona Sharon baru saja sadar, dan tuan Charles memintaku untuk menjaganya selama dia pergi."
"Di rumah ini masih banyak penjaga, kak. Lagi pula dia sudah besar, dan sekarang dia sudah bisa melakukan apapun yang di inginkannya. Aku akan membawa beberapa pakaian kita sekarang." Sahut Erina yang langsung meninggalkan kamar tersebut.
"Nona, maafkan ucapannya. Dia..."
"... tidak apa-apa. Yang di katakannya benar, sebaiknya kau pergilah! Ayahmu lebih membutuhkanmu kali ini. Seperti yang di ucapkannya, villa ini memiliki banyak penjaga, dan aku akan meminta bantuan mereka jika sesuatu terjadi padaku."
"Terima kasih, nona. Jika begitu aku pergi untuk beberapa hari, dan bibi Rey akan kembali lusa." Ucap Raeya, dan Sharon langsung menganggukkan kepalanya saat itu juga. Kemudian, Raeya segera meninggalkan villa tersebut untuk pergi ke kampung halamannya, Olten.
Setelah mendengar cerita itu, tentu saja tidak membuat Charles merasa puas. Ia masih tidak memiliki jawaban dari pertanyaannya, dan ia pun tidak memalingkan wajahnya dari Sharon sedikit pun.
"Ada apa lagi? Bukankah aku sudah memberitahumu?" Dengus Sharon yang sedikit merasa kesal.
"Benar. Tapi, masih ada satu jawaban yang belum kau berikan padaku."
"Apa itu?" Gumamnya dengan wajah bingungnya.
Bersambung ...
Mari, di eps kali ini, aku buka QnA untuk kalian. Silahkan berikan pertanyaan kalian di kolom komentar, dan beberapa dari pertanyaan tersebut akan ku reply di eps selanjutnya😉