
Gwen mendesah saat Charlie masih tak buka suara mengenai penjelasan yang sudah ia katakan. Ia merasa sudah memiliki jawabannya sendiri, dan hal itu membuat Gwen merebut jaketnya yang ia sampirkan di kursi sampingnya. Ia lekas mengenakannya kembali, dan memakai tasnya.
Tanpa berkata apa-apa, Gwen menatap ke arah Charlie yang masih bungkam, pandangannya pun mulai ia tundukkan, dan ia segera membalikkan tubuhnya. Ketika hendak melangkahkan kakinya, sebuah tangan menahan lengannya.
“Apa aku sudah memintamu untuk pergi?” Pungkasnya, dan ucapannya membuat Gwen kembali berbalik.
“Sudah hampir satu jam kau diam tanpa mengatakan apapun padaku. Bukankah itu artinya jika hubungan kita harus di akhiri? Mengingat apa yang sudah di lakukan ayahku pada saudaramu. Kau begitu menyayanginya, kau bahkan bisa membalas perbuatan siapa pun jika ada yang berani menyakiti saudaramu. Jadi, aku merasa sudah tidak memliki harapan lagi.” Gumamnya dengan pandangan yang tertunduk.
“Aku memang bisa melakukan apapun untuk orang yang telah menyakitinya, aku melakukan itu bukan hanya untuk Charles, namun untuk semua orang-orang yang aku sayangi. Tapi, yang melakukan semua itu bukanlah dirimu, bukankah kau sama sekali tidak ikut campur dalam masalah tersebut? Charles mengatakan segalanya, dia juga mengatakan jika kau tidak terlibat.”
“Jadi, apa keputusanmu?”
“Aku mempercayaimu, Gwen.” Charlie menyunggingkan senyumnya, dan saat itu juga air mata menetes dari kedua pelupuk matanya. Melihat hal itu membuat Charlie membawanya ke dalam pelukannya.
"Jadi, apa Charles telah mengetahui hubungan kita?"
"Saat ini belum, namun aku akan segera memberitahunya. Saat itu tiba, aku akan membawamu kesana untuk menemui ayahku. Jadi, Bisakah kau duduk kembali? Atau ingin mencari tempat lain?”
“Bagaimana jika kita berjalan di luar saja? Aku rasa sudah badai pun sudah berhenti.” Mendengar permintaannya, membuat Charlie mengikutinya, dan mereka berjalan bersama meski cuaca masih terasa begitu dingin.
•••
Pernikahan antara Kent, dan Natasha telah selesai di laksanakan. Charles, dan Sharon pun telah kembali ke hotel untuk beristirahat. Setibanya di hotel, Sharon langsung duduk di sofa, dan memejamkan matanya untuk sejenak.
Kemudian, tanpa permisi, Charles langsung duduk begitu saja. Hal itu membuat Sharon kembali membuka matanya, menyadari adanya Charles di sisinya, ia langsung menyandar padanya, dan kembali memejamkan matanya.
“Apa begitu lelah?” Gumam Charles yang langsung mendekapnya.
“Mungkin, karena tubuhku terasa begitu lemas sekali.” Imbuhnya, dan mendengar itu membuat Charles begitu khawatir.
“Selain itu, apa lagi yang kau rasakan? Apa kita kembali malam ini saja? Supaya dokter Marvin bisa mengecek kondisimu dengan segera?”
“Tidak perlu. Ini hanya kelelahan saja, kau tidak perlu cemas.”
“Baiklah. Sekarang bersihkan tubuhmu! Setelah itu kau harus beristirahat, besok pagi aku ingin membawamu ke suatu tempat. Aku sangat yakin jika kau pasti menyukainya.” Serunya seraya mengusap puncak kepalanya, dan setelah mendengar itu, Sharon segera masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya.
Tidak lama setelah masuk ke dalam toilet, sebuah suara terdengar dari dalam sana, dan Charles yang mendengar hal itu pun langsung mengetuk pintu tersebut dengan perasaan khawatir. Tidak ada jawaban dari dalam, hingga membuatnya kekhawatirannya semakin menjadi, dan dengan terpaksa, Charles pun mendobraknya.
Dirinya begitu terkejut ketika melihat Sharon tak sadarkan diri di dalam sana. Tubuhnya hanya terbalut handuk kimono yang ia kenakan. Dengan cepat ia menggendongnya keluar, dan membaringkannya di atas ranjang.
Ketika dokter telah tiba, dengan cepat Charles membawanya untuk menemui istrinya. Dengan cemas Charles menunggu hasil pemeriksaannya. Dirinya masih merasa takut jika Sharon mengeluh sakit atau sebagainya, bahkan jika sampai pingsan. Dia hanya takut, jika wanitanya akan kembali tertidur.
“Aku sarankan, sebaiknya bawa nona Sharon ke rumah sakit agar mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut!” Sahut dokter tersebut.
“Jika begitu, aku akan membawanya kembali ke Zurich. Aku akan menyerahkannya pada dokter Marvin.” Imbuhnya.
“Itu lebih baik. Karena riwayat awalnya, dokter Marvin yang lebih mengetahuinya. Aku yakin jika ia pingsan di sebabkan oleh pasca operasi yang telah ia jalankan.”
“Baiklah, terima kasih karena sudah datang.”
Setelah mengantarnya keluar dari kamar hotelnya. Charles langsung menghubungi Key untuk segera memesankan tiket pesawat pada malam itu juga. Tak lupa juga untuknya menghubungi Nick serta Alice untuk memberitahu keduanya mengenai kepulangannya yang ia percepat.
Tidak ingin membuat keduanya cemas, Charles hanya mengatakan jika Sharon menginginkan sesuatu yang hanya bisa di dapatkan di Zurich. Selain itu, alasannya berbohong adalah karena ia tahu rencana apa yang akan di lakukan oleh Nick untuk Alice ketika berada di Bern, dan Charles sungguh tidak ingin merusaknya.
Hari telah berganti, dan Sharon membuka matanya secara perlahan. Bau obat yang begitu menyengat mengganggu penciumannya, hal itu sungguh di benci olehnya. Pandangannya meluas, dan mencari-cari seseorang, namun ia hanya melihat seorang perawat yang tengah membenarkan selang infusnya.
Tak lama setelah itu, seseorang membuka pintu, dan ia terkejut ketika melihat dokter Marvin yang datang menghampirinya. Menurutnya, apakah dirinya tengah bermimpi? Kenapa dokter Marvin bisa berada di Bern? Apa yang sudah terjadi? Dia sungguh kebingungan akan hal tersebut.
“Syukurlah kau sudah sadar. Semalaman, Charles sungguh mengkhawatirkan kondisimu.” Sahut dokter Marvin dengan sebuah senyumannya. “Biarkan aku memeriksa kondisimu lagi, ya.” Lanjutnya.
“Charles, dimana dia sekarang? Dan apa yang terjadi?” Sharon menyeru dengan nada lemahnya, kemudian pintu kembali terbuka, dan Charles lah yang memasuki ruangan itu.
Melihat Sharon telah mendapatkan kesadarannya, membuat Charles berlari ke arah ranjangnya. Lalu, ia menghujani dokter Marvin dengan banyak pertanyaan. Bukannya menjawab, ia justru tertawa kecil menanggapinya, dan hal tersebut membuat Charles memandangnya tajam.
“Ada apa? Kenapa? Apa maksud dari tawamu itu dokter? Apa kondisi istriku ini sebuah lelucon? Hingga kau tertawa seperti itu?” Imbuhnya kesal, dan kini perawat yang masih berada di sana pun tersenyum ketika mendengar Charles memarahi dokter Marvin. “Lihat! Bahkan perawat rumah sakit ini pun tengah menahan tawa. Jika terjadi sesuatu pada istriku, aku akan menuntut, dan menutup rumah sakit ini!” Lanjutnya.
Sharon hanya mampu menggelengkan kepalanya ketika menyadari sikap Charles saat ini. Bibirnya terus bersuara, dan tak bisa diam, ia terus menuntut jawaban dari pertanyaannya. Kesal dengan sikapnya itu, Sharon langsung menjitak dahi Charles, dan hal itu berhasil membuatnya meringis.
“Kenapa kau memukulku?” Rintihnya, dan kini Sharon lah yang menatapnya tajam. Tatapan itu sungguh membuatnya lemah, dan itu sungguh menakutkan untuknya.
“Bukankah kau membutuhkan jawaban dari pertanyaanmu itu?” Charles menganggukkan pelan. “Bagaimana dokter Marvin mau menjawabnya, jika kau terus bicara tanpa henti.” Tuturnya lagi, dan saat itu juga Charles membungkam mulutnya.
Bersambung...
jangan lupa juga untuk mampir ke cerita lainnya => Storm <=
IG: @kyu_shine