My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 155



Keesokannya, Sharon yang tengah sibuk membuat kue bersama dengan Raeya itu pun harus di tunda karena kedatangan seseorang. Dengan cepat Sharon berjalan untuk membukakan pintu tersebut. Awalnya Raeya, dan bibi Rey melarangnya serta meminta Sharon agar tetap di tempat. Namun, Sharon memaksa, dan ingin membukakan pintu tersebut.


Saat pintu terbuka ia terkejut melihat kedatangan mereka. Ia cukup senang, namun dari mana mereka tahu mengenai alamat rumahnya. Bahkan dirinya pun tidak tahu jika mereka akan berniat untuk datang bertamu ke rumahnya.


"Aaah akhirnya aku mengetahui alamat rumahmu." Tuturnya yang hendak memeluk Sharon. Namun, tiba-tiba seseorang datang di waktu yang tepat, sehingga orang tersebut tidak bisa memeluknya.


"Maaf. Aku melarang pria lain untuk memeluk istriku! Lagi pula, hargai istri serta putrimu ini, dokter!" Celetuk Charles.


"Kau Laura?" Sahut Sharon yang memeluk wanita di hadapannya saat dia telah menganggukkan kepalanya. "Dan kau si kecil Rin." Timpalnya lagi seraya mengusap puncak kepala gadis kecil tersebut.


"Lalu, aku? Kau tidak menyambutku, Sharon? Jangan lakukan itu pada cinta pertamamu ini!" Pria itu tampak mempoutkan bibirnya, namun ia langsung mendapatkan sebuah cubitan di lengannya. "Astaga, istriku tengah cemburu!" Sahutnya lagi, dan mereka tertawa kecil mendengar hal tersebut.


"Baiklah, kita lanjutkan di dalam!" Charles menambahkan, dan mereka pun masuk.


Beberapa kue yang telah jadi, Sharon meminta Raeya untuk membawakannya ke ruang tamu. Ketika dia hendak membuatkan minuman untuk para tamunya, bibi Rey melarangnya, dan memintanya untuk segera kembali ke ruang tamu serta menyerahkan sisanya pada mereka.


Sharon tersenyum pada mereka, selama berjalan, Sharon terus mengelusi perutnya. Hingga dia duduk di sisi suaminya, dan Charles lekas merangkulnya. Lalu, Yarry mengikuti apa yang di lakukan oleh Charles. Namun, Laura menepis tangan suaminya.


"Kenapa menepisnya? Kau mempermalukanku." Lagi-lagi Yarry mempoutkan bibirnya.


"Berhenti bersikap seperti anak kecil, suamiku! Apa kau tidak malu berlaku seperti itu di hadapan mereka?" Laura menatapnya tajam. Sedangkan Charles, dan Sharon tertawa kecil melihat tingkah dua orang di hadapannya.


"Hey! Apa kau menyukai kue buatanku?" Ucap Sharon pada Rin yang sejak tadi memakan kue.


"Ini enak, aku menyukainya." Gadis kecil itu menyahut seraya tersenyum manis ke arahnya, hingga membuat Sharon berjalan menghampirinya, dan hendak memangkunya. Namun, dengan cepat Charles melarang hal tersebut.


"Bagaimana kau memangkunya? Perutmu sudah begitu besar, biarkan aku yang memangkunya." Ujar Charles yang langsung memangku Rin.


"Jadi, bagaimana kau mengetahui tempat ini?" Sharon menyahut penasaran.


"Charles mendatangiku di rumah sakit beberapa waktu lalu, dia meminta maaf padaku, dan mengundangku untuk datang ke rumahnya. Dia juga ingin aku mengajak istri serta putriku. Dia tidak membiarkanku datang sendiri, mungkin dia takut aku kembali menggodamu." Yarry tampak menahan tawanya.


"Siapa yang takut? Lagi pula kau sudah memiliki putri, kau tidak mungkin berani macam-macam pada istriku."


"Kenapa kau begitu yakin, tuan Charles? Kau ingin mencobanya?"


"Me-mencoba? Apa yang akan di coba? Jika kau macam-macam awas saja!"


Pertengkaran kecil mereka membuat Laura, dan Sharon tertawa, bahkan Yarry pun tertawa melihat tingkah panik Charles. Setelah itu mereka membicarakan banyak hal disana, dan mereka pun menjadi dekat satu sama lain.


Di tempat yang berbeda, Kent tampak kebingungan saat mendengar istrinya merintih sakit seraya memegangi perutnya. Ia pun lekas membawa Natasha ke rumah sakit agar mengetahui apa yang terjadi pada istrinya.


"Istrimu harus melahirkan sekarang, tuan!"


"Apa? Tapi, kenapa? Bukankah usia kehamilannya masih 8 bulan? Apa itu akan baik-baik saja?"


"Air ketuban istri anda pecah bukan di waktu yang tepat, dengan begitu kami harus melakukan tindakan. Jika tidak mengeluarkannya, justru akan sangat bahaya."


Pihak rumah sakit menyiapkan segala persiapan operasi. Yah, Natasha harus melakukan caesar dikarenakan posisi bayinya yang juga sungsang, dan di waktu yang bersamaan, Natasha masih menahan rasa sakitnya itu.


Ketika Natasha sudah berada di dalam ruang operasi, Kent menunggunya di dalam seraya memegangi tangan istrinya dengan begitu erat. Sesekali ia menyeka keringat yang keluar pada dahi Natasha, dan mengusap puncak kepalanya.


"Setelah ini selesai, kita akan segera melihat anak kita." Tutur Kent, dan Natasha hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Waktu operasi telah selesai di lakukan, dan sebuah tangisan terdengar memenuhi ruangan tersebut. Kent berdiri tegak ketika melihat kelahiran anaknya, tanpa sadar ia meneteskan air matanya, lalu ia mencium kening Natasha.


"Selamat tuan, anak anda laki-laki." Kemudian, perawat menunjukkannya pada Natasha, dan Natasha mengukirkan sebuah senyuman hangatnya saat melihat putranya.


"Laki-laki? Bukankah hasil usg saat itu menunjukkan anak perempuan?" Kent kebingungan ketika mengingatnya.


"Hasil usg tidaklah 100% benar, tuan. Lagi pula sangat berkemungkinan anak perempuan bisa menjadi anak laki-laki." Sahut dokter yang telah menangani Natasha.


"Anak laki-laki maupun perempuan, asalkan dia sehat, aku tidak keberatan." Tutur Kent tersenyum saat melihat buah hatinya.


"Kami akan membawanya dulu untuk di bersihkan serta memasukkannya ke dalam inkubator." Imbuhnya lagi, dan penjahitan masih berjalan.


Setelah semua selesai, orang tua Kent yang sudah menunggu di luar ruang operasi itu pun merasa lega karena melihat menantu serta cucunya baik-baik saja. Kini, Natasha di bawa menuju ruang rawat, dan Kent mengurus semua dokumen untuk rawat inap istrinya.


Malam menjelang, dan Natasha yang tengah memakan makanannya pun terkejut ketika suaminya melakukan panggilan video dengan beberapa orang. Ia bahkan mengumumkan kelahiran putranya pada mereka yang berada di panggilan video tersebut.


"Jagoanku telah lahir, dan aku akan menantikan si kembar milik kalian!" Tutur Kent.


"Benar, aku pun sangat menantikan kelahiran si kembar. Charles sungguh tak memberitahu kami mengenai identitas keduanya. Dia, dan Sharon benar-benar menyembunyikannya dari kami!" Sahut Nick yang berada dalam panggilan itu juga.


"Jangankan kalian, aku saja saudara kandungnya sendiri tidak di beritahu. Bahkan lebih parahnya lagi, ayah kami pun tidak di beritahu oleh mereka." Charlie menyeletuk. "Lihat saja! Ketika Gwen hamil nanti, aku juga akan menyembunyikan identitasnya." Tambahnya lagi.


"Jangan lakukan hal macam-macam sebelum kalian menikah!" Charles, Kent, dan Nick menyeru bersamaan.


"Tidak perlu lama menunggu Charlie. Aku tidak akan memberitahu identitas anakku nanti padamu, Charles." Lagi-lagi Nick membuka suaranya.


"Lakukan saja!" Charles menjulurkan lidahnya, dan Sharon tertawa kecil melihat tingkah suaminya itu. "Baiklah aku ucapkan atas kelahiran putramu, Kent. Maaf karena aku tidak bisa datang menjenguk kalian, kehamilan Sharon sudah benar-benar..."


"... aku mengerti, Charles! Lagi pula, kehamilan Sharon lebih berat, karena dia membawa dua sekaligus, belum lagi dia harus menahan tubuhnya sendiri."


"Terima kasih. Baiklah, aku sudahi dulu! Aku ingin bermanja dengan istriku." Sahut Charles yang mencium pipi Sharon di panggilan video itu.


"Bukan hanya kau saja yang memiliki istri, kami juga punya!" Nick menyahut dengan nada kesal.


"Tidak semua, ada satu orang yang belum menikah." Kent menahan tawanya.


"Ups. Bersabarlah sampai hari itu tiba ya, Charlie. Sampai jumpa!" Lanjut Kent, Charles, dan Nick yang berbicara kompak satu sama lain. Mereka bahkan tertawa saat mengatakan semuanya, hingga membuat Charlie kesal saat mendengarnya, dan panggilan pun berakhir.


Bersambung ...