
Mengingat kenangan masa itu membuat Sharon menyunggingkan senyumnya. Baginya, Yarry adalah pria yang begitu baik, keluarganya pun tidak pernah melarangnya untuk bergaul dengan siapa pun. Sedangkan Charles, ia menatap lekat ke arah wanita di sisinya yang tampak terlihat senang saat menceritakan tentangnya.
"Hingga kemudian, ia menemukan seorang wanita disana. Mereka dekat, dan akhirnya memutuskan menikah setelah mengenal satu tahun. Laura adalah istrinya, dan Rin nama putrinya."
"Apa kau mengenal istrinya juga?"
"Beberapa kali kami melakukan panggilan video, dan aku rasa Laura adalah orang yang menyenangkan. Dia bahkan selalu tertawa ketika Yarry meneriakkiku sebagai first lovenya." Sharon terkekeh mengucapkan hal tersebut.
"Yarry mungkin pria yang baik, dan ia benar-benar sudah mengesampingkan perasaannya terhadapmu. Sangat berbeda dengan Kent, tatapannya kepadamu terkadang membuatku salah arti, dan aku takut jika..."
"... selama ada dirimu. Bukankah kau bisa mengatasinya?" Sharon mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya. Kemudian, Charles mengadukan hidungnya dengan hidung wanita di hadapannya.
"Jika untukmu, semua akan aku atasi bagaimana pun caranya. Teruslah bergantung padaku! Karena selamanya, kau hanya boleh bergantung denganku saja! Kau mengerti?" Setelah mengucapkan hal itu, Sharon menganggukkan kepalanya. Ia juga tersenyum ke arahnya, dan Charles mulai menempelkan bibirnya pada bibir istrinya.
•••
Sore itu tampak terjadi sedikit ketegangan di rumah milik keluarga Austin. Charlie, dan Gwen merasa gugup dengan situasi kali ini. Sedangkan yang lainnya masih diam tak bergeming hingga membuat Charlie sungguh gemas dengan hal itu.
"Tuan Bill. Mungkin kau bertanya-tanya mengenai kedatanganku kemari. Aku yakin jika kau sangat membenci kehadiranku, tapi aku kemari demi putriku. Aku datang untuk meminta maaf padamu atas sikap yang sudah ku lakukan beberapa waktu lalu pada putramu, Charles. Tidak ku sangka jika ternyata putriku mencintai pria lain yang tidak lain, dan tidak bukan adalah Charlie Austin. Jadi, aku ingin kau merestui hubungan keduanya."
"Jika kedatanganmu hanya untuk memintaku merestui hubungan keduanya, kau tidak perlu repot-repot untuk datang tuan James! Karena, tanpa kau lakukan itu pun, aku pasti sudah merestuinya. Namun, aku hargai itikad baikmu untuk meminta maaf. Kau salah jika melakukan permohonan maaf padaku, karena kau melakukannya pada putraku, Charles."
"Jika begitu aku akan meminta maaf padanya." James melakukan segalanya demi putrinya.
"Tidak perlu! Seseorang telah mengatakan padaku 'Kebencian, dan dendam hanya akan merusak dirimu sendiri. Saat orang tengah terbakar, bukankah tidak baik jika kita menyiramkan minyak ke dalam kobarannya? Namun, jadilah air yang mampu meredamnya.' Itulah yang dikatakannya padaku!" Entah sejak kapan Charles tiba disana, dan langsung menyambar pembicaraan mereka. Namun, genggamannya tampak begitu erat pada tangan wanita di sisinya.
"Charles?" Melihat kedatangan kakaknya membuat Charlie terkejut.
"Kami keluarga Austin tidak pernah melarang Charlie untuk dekat siapa pun asalkan orang itu tidak pernah berniat untuk melukainya. Aku sebagai saudaranya pun menyetujui apa yang menjadi keputusannya. Namun, saat mereka menikah nanti, aku akan tetap tidak menyetujui jika kelak perusahaan Austin Industries, CBC Group atau anak perusahaan lainnya bekerja sama dengan perusahaan milik anda, tuan James!" Charles menekankan segalanya.
"Apa kau masih tidak mengerti? Aku tidak ingin pernikahan kalian di manfaatkan olehnya!" Celetuknya lagi. Ketika Charlie hendak membalasnya, Gwen tampak menahan lengan pria itu.
"Maafkan aku." Justru Sharon yang membuka suara kali ini, dan orang disana terdiam saat mendengarnya. Bahkan Charles pun menolehkan pandangannya. "Ikuti aku!" Kini, Sharon menariknya.
Melihat reaksi Sharon semakin membuat Charles kebingungan. Apa yang terjadi sehingga wanita itu membawanya pergi dari sana? Dan kenapa juga dia harus meminta maaf seperti tadi? Sedangkan tidak ada kesalahan yang di perbuat olehnya.
"Kita datang untuk memberitahu ayah soal kehamilanku, 'kan? Kita tidak datang untuk merusak suasana tersebut!"
"Merusak bagaimana maksudmu? Apa aku salah bicara? Aku hanya ingin melindungi adikku dari pikiran licik pria tua itu!" Charles menatapnya lekat, dan terlihat jelas jika dia tengah menahan amarahnya.
"Apa kau tidak melihat bagaimana wajah Gwen disana? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaannya? Dia tampak sedih saat kau mengatakan hal demikian, walau bagaimana pun, James tetaplah ayahnya!" Tutur Sharon.
"Untuk apa aku memikirkan perasaannya? Apa pada saat itu James memikirkan perasaanku? Lebih tepatnya, apa dia memikirkan perasaanmu saat dirimu sadar kelak? Apa dia memikirkan semua itu? Tidak Sharon! Yang dia pikirkan adalah keuntungannya sendiri. Jadi, untuk apa aku memikirkan perasaan orang lain?" Kini, emosi Charles sudah semakin tak terkontrol.
"Kau mengutip ucapanku, tapi jika kau tidak mengerti makna dari kata-kata tersebut, sama saja tidak ada gunanya. Aku sungguh bingung dengan sikapmu akhir-akhir ini! Entah kenapa aku semakin tidak mengenalimu, Charles!"
Penuturan Sharon membuat Charles terkejut. Kenapa ucapan itu bisa terlontar dari bibirnya? Charles pun merasa bingung. Apa yang salah darinya? Apa dirinya sudah menyakiti perasaannya? Semua pikiran itu bergejolak jadi satu.
Mencoba untuk menyentuhnya, Sharon justru berjalan mundur seraya menggelengkan kepalanya. Bagi Sharon, dirinya seakan kehilangan sosok Charles yang memiliki sikap lemah lembut terhadap siapa pun.
Kali ini, pria itu bahkan berani untuk bicara dengan nada tinggi. Hal yang sungguh tak biasa di dengar oleh Sharon. Charles yang di kenalnya tidak akan pernah berani bicara dengan penuh emosi, dan akan selalu tenang dalam mengambil setiap tindakan.
Kemudian, Sharon berjalan mundur meninggalkannya. Sedangkan Charles, ia masih bingung dengan apa yang sudah di lakukannya.
Apa aku sudah berbuat salah? Jika iya, maka beritahu aku dimana letak kesalahanku!
Bersambung ...