My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 154



Mata Sharon menatap orang berlalu lalang di taman tersebut. Sesekali ia memainkan rambut Charles yang tengah berbaring di dalam pangkuannya. Merasakan ada tangan yang mengusap kepalanya, Charles menggenggam tangan itu, dan membawanya serta meletakkannya tepat di dadanya.


Kemudian, sesuatu berputar di otak Sharon, dan hal itu sungguh mengganggu pikirannya. Lalu, ia menatap wajah Charles yang begitu tenang. Akankah hal itu terjadi padanya? Akankah Charles akan melakukan itu padanya? Hal itu membuat Sharon menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Apa yang terjadi?” Charles menyeru saat melihat Sharon menggelengkan kepalanya secara tiba-tiba.


“Huh? Ti-tidak apa-apa.” Balasnya dengan senyuman kecilnya.


“Benarkah? Tapi, aku merasa sedang ada yang kau pikirkan.”


“Bagaimana jika kita pulang saja?”


“Baiklah, ayo!” Dengan cepat Charles berdiri dari posisinya. Tubuhnya membelakangi Sharon, dan hendak berjalan meninggalkan taman tersebut. Setelah menunggu, ia kembali menoleh ke belakang, dan ia tertawa melihat ekspresi wajah Sharon yang memelas. “Ha Ha Ha. Maafkan aku, aku lupa.” Lalu, Charles membantunya bangun.


“Aku pikir kau akan benar-benar melakukan apa yang kau ucapkan. Tapi, nyatanya kau tetap membantuku.” Sharon terkekeh mengatakannya.


“Bodoh! Mana mungkin aku tega melakukannya.”


Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan taman. Dalam perjalanan, Charles memperhatikan wanita di sisinya, dia tampak melamun sejak tadi, entah apa yang tengah di pikirkannya saat itu. Setelah berjalan lama, Sharon menghentikan langkah kakinya, dan membuat, dan hal tersebut membuat Charles menoleh.


Di waktu yang bersamaan, Sharon menghela napasnya, keringatnya bercucuran di dahinya, hingga membuat Charles menyimpulkan senyumannya. Kemudian, ia menggendong tubuh wanita di sisinya. Mendapat perlakuan yang begitu tiba-tiba, Sharon sangat terkejut, namun akhirnya ia tersenyum ke arahnya serta menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya.


Setibanya di rumah, Sharon memutuskan untuk membersihkan tubuhnya kembali. Namun, lagi-lagi ia tak sampai untuk menggapai kakinya, dan Charles dengan siap siaga untuk membantunya. Setelah melepaskannya, Sharon segera berlalu menuju toilet. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, dan itu membuat Charles bingung.


35 menit kemudian, di rasa menunggu begitu lama, Charles membuka pintu kamar mandinya, dan hal itu sungguh membuat Sharon menarik tirai yang ada di dalam toilet tersebut. Ia menatap tajam ke arah suaminya, dan pria itu hanya terkekeh kecil menyadari sikapnya.


"Maafkan aku, aku pikir kau kesulitan, jadi aku langsung masuk begitu saja. Ini juga salahmu, kenapa tidak mengunci pintunya?" Sahut Charles.


"Aku merasa sudah menguncinya tadi."


"Karena sudah di sini, sebaiknya aku pun ikut mandi saja!" Tuturnya yang kembali menutup pintu kamar mandinya.


Selepas mandi, Charles duduk bersandar pada sisi ranjangnya, dan Sharon duduk di atas ranjang seraya mengeringkan rambut basah suaminya menggunakan handuk yang berada dalam genggamannya.


Saat itu Charles mengatakan banyak hal, dan menceritakan hal menarik lainnya. Sesekali ia membahas soal pertemuan pertamanya saat mengenal Sharon dulu, namun hal itu tampaknya tidak di sambut oleh wanita di belakangnya.


"Sebenarnya ada apa? Sejak tadi aku perhatikan kau terus melamun, apa yang sedang kau pikirkan?" Charles menenggakkan kepalanya hingga terbaring di atas ranjang agar dapat menatap wajah istrinya.


"Lihat apa yang kau lakukan? Jangan lakukan itu lagi! Berat badanmu itu sudah berlipat ganda, jika aku mati tertindih karenamu bagaimana?"


Semua kata-kata itu terus berputar di benaknya. Entah sejak kapan ia memikirkan semua hal itu, yang jelas ia tidak ingin jika suatu hari nanti suaminya akan pergi hanya karena melihat fisiknya yang sudah tak seperti sebelumnya.


Merasa di abaikan, Charles mencubit hidung wanita itu hingga Sharon meringis karena kesulitan bernapas. Lalu, Charles mengangkat kedua alisnya, tatapannya menuntut jawaban dari Sharon.


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Ucapnya ragu, dan Charles masih mendengarkannya. "Jika setelah melahirkan nanti tubuhku menjadi gemuk, dan tidak bisa kembali lagi, apa kau akan meninggalkanku?" Sambungnya lagi dengan nada yang terdengar sedikit kecewa.


Astaga! Yang ku takutkan sejak tadi terjadi. Ternyata dia memikirkan hal itu sampai-sampai melamun tak karuan.


Charles terus menggerutu seraya menghela napasnya, ia bahkan menepuk dahinya sendiri mendengar pertanyaan yang terdengar konyol baginya.


"Jika kau melakukannya, aku..."


"... apa yang kau ucapkan? Mana mungkin aku melakukan itu padamu? Bukankah aku sudah katakan? Kau merupakan bagian dari diriku, dan..."


"... tapi, tadi pun kau mengejekku! Seolah kau tidak menyukai berat badanku yang semakin besar ini. Kau bahkan sampai mengatakan bahwa berat tubuhku ini bisa membunuhmu. Bukankah itu artinya kau tidak menyukainya?" Sharon menundukkan pandangannya.


Jadi, dia memikirkan ucapanku juga ya? Niatku hanya untuk bergurau, ternyata dia menganggapnya serius. Ibu hamil satu ini sungguh membuatku gemas.


Sebuah senyuman terukir di bibir Charles. Kemudian, menarik tengkuk leher Sharon agar dapat menunduk lebih lagi, hingga tatapan keduanya pun bertemu. Kedua mata Sharon terlihat berkaca-kaca, dan Charles kembali menurunkannya lagi hingga kedua bibirnya menyatu.


Perlakuan Charles membuat Sharon meneteskan air matanya yang sudah ia tahan sejak tadi. Merasakan tetesan cairan itu lekas membuat Charles menarik pelan tubuh Sharon agar turun dari ranjang, dan jatuh dalam pangkuannya.


"Kenapa kau ceroboh sekali? Bagaimana jika hal itu melukai baby twins kita?" Gerutu Sharon seraya mengusap perut besarnya.


"Maafkan ucapanku tadi, aku hanya bergurau mengatakan hal itu, dan yang barusan kulakukan karena ingin buktikan padamu bahwa aku masih sanggup menahan tubuhmu. Dengarkan aku Sharon! Aku menikah denganmu karena aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Aku menikahi seorang Sharon Hwang, bukan hanya menikahi fisik yang di milikinya saja. Aku menikahi semua yang ada di dalamnya. Jadi kumohon padamu untuk tidak mengatakan hal itu lagi, kau mengerti?"


Mendengar semua penuturan suaminya membuat cairan itu kembali menetes, dan ia langsung memeluknya erat. Semua ucapannya membuatnya lega, dan semua pikiran negatifnya itu seakan terhempas jauh.


"Maafkan aku. Maaf karena sempat meragukanmu, dan tidak mempercayaimu. Maafkan aku!" Imbuh Sharon yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Kau tahu? Sikapmu ini sungguh menggemaskan untukku, jika tidak mengingat si kembar yang berada di dalam perutmu. Mungkin aku sudah menerkammu sejak tadi."


"Hah?" Sharon melepaskan pelukannya seraya menatap kedua mata Charles, lalu keduanya tertawa.


Bersambung ...