My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 150



Ketika pagi menjelang, Charles sudah rapih dengan pakaian kerjanya. Ia lekas pergi ke kantor, Sharon yang baru selesai membersihkan tubuhnya pun terkejut saat mengetahui jika suaminya telah berangkat tanpa sepengetahuannya.


Kemudian, Sharon turun menuju ruang makan, dan Raeya mengatakan jika Charles tidak melakukan sarapan sedikit pun. Akhirnya, Sharon memutuskan untuk membuatkan bekal, dan mengantarnya sendiri seperti saat itu. Bibi Rey serta Raeya melarangnya dikarenakan usia kehamilan Sharon yang sudah besar, namun wanita itu tetap dengan pendiriannya.


Selesai membuatkan bekal, Raeya meminta penjaga disana untuk mengantar Sharon menuju Austin Industries, dan mereka pun berangkat. Dalam perjalanan, Sharon tampak mengelus perutnya yang terlihat 2x lebih besar.


Sesekali senyumnya terukir saat ia merasakan sebuah tendangan dari dalam perutnya, bukan hanya tendangan, ia merasakan jika sebuah tangan mungil menyentuh dinding rahimnya sehingga terasa sampai ke perutnya.


"Aku sungguh tak sabar menanti kehadiran kalian baby twins ku." Gumam Sharon seraya mengelusnya lagi, dan supir pribadinya pun tersenyum kecil ketika mendengar gumaman nyonyanya.


"Sebentar lagi, akan terdengar tangisan bayi di rumah anda nona, dan itu pasti akan membuatnya sangat ramai."


"Paman benar. Ketika mereka lahir kelak, mereka harus bersikap baik pada kalian semua, karena bagiku, kalian yang berada di sana merupakan keluargaku juga."


"Anda begitu baik, nona. Aku yakin jika mereka akan memiliki hati seperti anda."


"Ayah, ibu. Seandainya kalian masih berada di sisiku. Kalian pasti akan senang mendengar berita ini. Kalian akan segera mendapat dua cucu sekaligus." Sharon meneteskan air matanya ketika mengingat kedua orang tuanya. Ia sungguh merindukan keduanya.


Dia telah tiba di Austin Industries. Ketika keluar dari mobil, kebetulan sekali Key juga baru saja tiba, ia yang melihat kehadiran Sharon pun lekas menghampirinya. Key menyapanya dengan senyuman khasnya, dan Sharon membalas senyuman itu.


"Nona pasti hendak bertemu dengan tuan Charles bukan? Bagaimana jika Key antar?"


"Jika kau tidak keberatan." Sharon tersenyum kembali ke arahnya.


"Perut nona sudah benar-benar besar. Jadi, seperti itu ya besarnya perut wanita ketika tengah mengandung bayi kembar. Benar-benar luar biasa. Itu artinya Key akan memiliki 2 keponakan." Mengatakan hal tersebut membuat Key tertawa kecil, begitu pun dengan Sharon.


Ketika berada di lobby utama, ketika pintu terbuka. Sharon melihat Charles tampak tertawa lepas dengan seseorang yang berada di sisinya. Dia tengah bersama dengan seorang wanita, dan wanita itu tampak terlihat lebih muda darinya.


Langkah kaki Sharon berhenti saat menyaksikan itu. Pegangannya pada tote bag yang ia genggam pun semakin erat, hatinya terus bertanya-tanya siapa wanita yang berada di sisi suaminya tersebut?


Menurutnya, sikap Charles sungguh tak biasa. Karena ia tahu betul tentangnya, Charles tidak mudah akrab dengan seseorang yang baru di kenalnya. Meski ia ramah pada semua orang, ia tetap tidak akan menjadi seakrab itu dengan seseorang, terlebih dengan seorang wanita.


Semua bisa terjadi, kecuali jika mereka sudah saling mengenal satu sama lain atau kemungkinan buruknya adalah mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman kerja.


"Nona, ada apa? Bukankah itu tuan Charles? Tidak ingin menghampirinya? Atau biar ku panggil saja?"


"Tidak! Jangan." Ujar Sharon. "Key, siapa gadis yang bersama dengannya? Aku rasa, aku baru melihatnya?" Timpalnya lagi yang masih menatap ke depan.


"Aah gadis itu? Dia Naomi, sekretaris baru tuan Charles, dan dia baru masuk sebulan yang lalu."


"Sekretaris baru?" Kini, Sharon menatap Key dengan begitu lekat.


"Benar. Aku bahagia karena tuan Charles sudah mendapatkan sekretaris baru. Dengan begitu sebagian pekerjaanku berkurang. Segala jadwal pertemuan berada dalam genggamannya, dan aku hanya mengurus sisanya."


"Baru sebulan gadis itu masuk, dan mereka sudah begitu akrab. Bahkan Charles bisa tertawa lepas ketika bersamanya. Apa ini alasannya dia selalu pulang larut akhir-akhir ini?" Semua pikirannya berkecamuk, dan akhirnya dia menyerahkan kotak bekal yang di bawanya kepada Key.


"I-ini apa, nona?"


Saat kotak bekal itu sudah berada dalam genggaman Key, tanpa berkata satu patah kata pun, Sharon langsung berjalan meninggalkan Austin Industries. Melihat hal tersebut membuat Key kebingungan, namun akhirnya ia memutuskan untuk segera menuju ruang kerjanya.


Kaki Sharon sudah tak sanggup lagi untuk berdiri, ia merasa semenjak kehamilannya sudah semakin membesar, sangat berat untuknya berdiri di waktu yang lama. Untunglah dia sudah berada di dalam mobil, dan ia segera meminta paman Evan mengantarnya kembali.


Sedangkan Charles, ia yang memang sengaja mencari keberadaan Key pun terkejut ketika melihat asistennya tengah menikmati sarapan yang terlihat begitu lezat. Harum masakan itu sangat tak asing di penciumannya, bahkan kotak bekal itu pun sangat sama dengan miliknya.


"Astaga tuan Charles! Sejak kapan tuan di depan Key? Jika Key tersedak, kemudian meninggal bagaimana? Sungguh tidak lucu jika ada surat kabar yang berisikan 'Karyawan Austin Industries dikabarkan Meninggal Dunia Akibat Tersedak' itu sungguh bukan berita yang bagus 'kan?"


"Bekal siapa yang tengah kau nikmati?"


"Tentu saja milikku. Nona Sharon yang memberikannya untukku."


"Sharon? Kapan dia datang? Kenapa aku tidak menyadarinya?"


"Mungkin tuan sedang sibuk dengan yang lain, maka dari itu tidak menyadari kedatangannya." Key menyahut dengan kondisi mulut yang di penuhi makanan.


"Tuan Charles. Hari ini anda tidak memiliki jadwal pertemuan apapun." Sahut seseorang yang baru saja tiba.


"Baguslah jika begitu. Key, aku akan pulang siang nanti. Bantu aku mengurus sisa pekerjaanku!"


"Hah? Aku lagi? Tapi,..."


"... tidak ada tapi, dan tidak ada alasan lain. Aku ada keperluan penting! Soal 'itu' kau tenang saja, jika pekerjaanmu bagus, maka..."


"... Key akan melakukan yang terbaik, tuan." Tiba-tiba saja pria itu mengatur posisi berdirinya dengan begitu sigap, hingga membuat Charles serta seseorang di sisinya terkejut menyaksikan sikap berlebihan Key.


"Dan jangan lupa untuk bantu Naomi!"


•••


Saat siang menjelang, seperti yang di katakannya, Charles memilih meninggalkan pekerjaannya, dan ia kembali ke rumah. Ketika di rumah, ia mencari keberadaan istrinya, lalu Raeya mengatakan jika Sharon tengah berada di halaman belakang.


Benar saja, Sharon tengah berada di halaman belakang, pandangannya yang kosong menatapi air kolam renang, dan ia tidak tahu apa yang tengah di pikirkan Sharon kali ini. Akhirnya ia melangkahkan kakinya untuk mendekat, dan berlutut di sisinya.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa melamun disini?"


"Charles?" Menyadari kehadirannya membuata Sharon begitu terkejut. Namun, ia kembali mengalihkan pandangannya ketika mengingat apa yang di lihatnya pagi tadi. "Kapan kau tiba? Ada apa kau kembali di jam makan siang seperti ini? Hari bahkan belum larut, dan kau sudah..."


"... memang apa salahnya jika aku kembali di jam makan siang? Aku hanya ingin menemui istriku."


"Oohh." Jawaban singkat Sharon membuat Charles bertanya-tanya. Sungguh tak biasanya istrinya menjawabnya dengan kalimat sesingkat itu, bahkan ketika tengah bercakap pun, tatapannya tetap tidak berdalih dari kolam renang.


Ada apa dengannya? Kenapa aku merasa dia menjadi lebih diam dari sebelumnya? Apa ini efek dari kehamilannya yang sudah tua?


Bersambung ...