
Pagi telah tiba, dan Sharon membuka matanya secara perlahan. Menatap langit-langit, ia mencoba berfikir, tempat itu tentu bukan kamar miliknya. Kemudian, ia langsung bangkit, dan meluaskan pandangannya hingga menemukan satu bingkai foto di nakas yang berada di sisi ranjang tersebut.
"Kenapa aku bisa berada di rumah Charles?" Gerutunya.
"Selamat pagi nona Hwang. Aku memanggil nona untuk segera turun karena tuan besar, dan kedua tuan muda sudah menunggu anda untuk sarapan."
"Baiklah, terima kasih." Sahut Sharon yang kemudian pelayan tersebut segera meninggalkan kamar. "Astaga, apa yang harus ku lakukan? Aku bukan siapa-siapa dirumah ini, tidak mungkin kan tiba-tiba aku turun, dan langsung duduk sarapan bersama mereka?" Gadis itu semakin menggerutu.
Merasa bingung, ia hanya mondar mandir di depan ranjang tersebut, ia tidak bisa turun begitu saja, itu akan sangat memalukan untuknya. Kemudian, pintu kamar terbuka, dan hal itu langsung membuat Sharon berjongkok seraya membenamkan wajahnya di ranjang.
"Apa yang membuatmu begitu lama untuk turun?" Charles mengusap puncak kepala Sharon.
"Maafkan aku, aku hanya tidak tahu harus berbuat apa ketika keluar dari kamar ini. Tiba-tiba duduk di ruang makan, bukankah itu tidak sopan?"
"Ha Ha Ha. Kau terlalu banyak berfikir, Sharon. Ayah sudah menganggapmu layaknya putri sendiri, kenapa harus berfikir sejauh itu? Sudahlah ayo makan, setelah itu aku ajak kau keluar menghirup udara pagi."
Setelah membersihkan tubuhnya, Sharon langsung menuju ruang makan bersama dengan Charles. Disana terlihat Charlie, dan Bill tengah menikmati sarapannya.
Dengan segera Charles menarik kursi tersebut, dan memintanya untuk duduk disana. Ketika sadar ada seorang gadis di hadapannya, Charlie yang pada awalnya memegang koran pun langsung ia lipat, dan ia simpan di sampingnya.
"Astaga baru kali ini aku sarapan ditemani oleh seorang bidadari. Setiap pagi meja makan selalu di isi kami bertiga, dan sekarang ada kakak ipar disini terasa ..." Belum menyelesaikan ucapannya, Charles langsung menyumpal mulut saudaranya itu dengan roti gandum.
Akibat perlakuan saudaranya, Charles sedikit tersedak, dan Sharon yang melihat itu pun segera mengambilkan air untuknya. Ketika hendak menyodorkannya, Charles langsung mengambilnya, dan menenggak habis air tersebut.
"Kau mau membunuhku, ya?" Sahut Charlie dengan kesal. "Lihat ayah! Charles sepertinya membenciku."
"Kau menggoda kekasihnya, tentu saja dia berlaku seperti itu." Bill menghela nafasnya, dan Charles menjulurkan lidah seolah merasa telah menang karena mendapat pembelaan dari sang ayah.
"Dirumah ini memang tidak ada yang menyayangiku, menyedihkan." Kini Charlie memasang wajah memelas, dan sungguh tidak ada yang menanggapi hal tersebut.
Merasa tidak tega, Sharon mengukir sebuah senyuman, dan memberikan buah kepada Charlie. Perbuatan Sharon membuat hati Charlie tersentuh, ia menerimanya, dan langsung berjalan menghampirinya.
Charles sungguh tak memperdulikan itu, dan masih menikmati sarapannya. Namun, ketika saudaranya berjalan menghampiri gadis miliknya, ia pun mulai memperhatikannya.
"Kau memang yang terbaik kakak ipar." Tutur Charlie yang langsung memeluk gadis itu. Mendapat perlakuan tersebut, tentu saja membuat Sharon pun terkejut.
"Lepaskan atau aku akan benar-benar membunuhmu, Charlie." Ancam Charles dengan tatapan tajamnya.
"Astaga maafkan aku. Tubuhku spontan melakukannya."
Kesal dengan perbuatan saudaranya, membuat Charles kehilangan nafsu makannya. Lalu, ia pun berdiri meninggalkan ruang makan seraya menarik Sharon bersamanya.
Pertama kalinya Bill melihat Charles merajuk sampai seperti itu, dan itu justru membuat Bill tertawa kecil. Charles yang memang memiliki kelembutan namun tegas, ternyata memiliki sifat yang manja terhadap seorang gadis.
Berbeda dengan Charlie, putranya itu memiliki sifat yang tegas di hadapan semua orang, kelembutan pun tidak terlalu menonjol padanya. Namun, ia memiliki sifat konyol, dan usil ketika berhadapan dengan orang terdekatnya.
"Sejak kecil kau selalu senang menjahilinya." Bill hanya menggelengkan kepalanya.
"Charles terlalu lembut, dan tidak pernah menyimpan curiga pada orang terdekatnya. Jadi, aku sangat senang mengusilinya."
Setelah berada di luar rumah, Charles melepaskan genggaman tangannya, dan berjalan lebih dulu dari Sharon. Entah kemana ia akan pergi, gadis itu hanya mengikutinya dari belakang.
Ada taman di dekat sana, dan setelah tiba di taman tersebut, Charles menghentikan langkahnya. Kemudian, ia membalikkan tubuhnya seraya menatap gadis yang berada bersama dengannya. Ia menatapnya penuh arti, namun gadis tersebut hanya diam kebingungan.
"Aku ini sedang marah, apa kau tidak mengerti?" Racau Charles yang masih menatap gadis tersebut.
"Aku tahu kau sedang marah, maka dari itu aku berjalan mengikutimu sampai sini."
"Seharusnya kau itu merayuku, bukannya mengikuti sampai sini. Begitu saja masa tidak mengerti, sih." Charles mempoutkan bibirnya yang kemudian kembali berbalik seraya menyilangkan kedua tangannya.
Hal tersebut sungguh membuat Sharon menahan tawanya. Tidak di sangka jika kekasihnya memiliki sifat seperti yang kekanak-kanakkan, ia bahkan menghentakkan kakinya untuk sesekali. Lalu, ia pun berjalan menghampirinya, seraya mencolek-colek lengan pria tersebut.
"Apa?" Sahut Charles dengan nada ketusnya.
"Ah maaf sepertinya aku salah orang." Gumam Sharon.
"Salah orang bagaimana maksudmu?" Mendengar penuturan gadis itu kembali membuat Charles semakin merengut.
"Aku mencari kekasihku yang bernama Charles Austin. Tapi sepertinya dia tidak disini, mungkin dia sudah kembali. Jika begitu aku permisi." Sharon menarik ujung bibirnya seraya melangkah meninggalkan pria tersebut.
Tidak menyangka dengan kelakuan Sharon, Charles pun menatap gadis itu kebingungan. Hingga kemudian, ia segera berlari mengejarnya, dan langsung memeluknya dari belakang.
"Maaf tuan, apa yang sedang kau lakukan? Jika kekasihku tahu, dia pasti tidak akan memaafkanmu." Ujar Sharon seraya menyembunyikan senyum jahatnya.
"Kekasihmu yang mana? Apa kau memiliki pria lain lagi selain aku? Jika aku pergi, memang kau bisa hidup tanpaku?"
"Pertanyaannya, apa kau bisa pergi meninggalkanku?" Sharon membalikkan tubuhnya, dan menatap pria itu seraya tersenyum usil.
"Aku tidak bisa." Charles memelas, dan ia kalah telak kali ini. Ia berani mengancam, namun ia tidak berani melakukannya. Sharon terkekeh melihat ekspresi wajah pria tersebut. Kemudian, dengan cepat ia memeluknya.
"Aku ini tidak pandai merayu atau membujuk seseorang yang tengah marah. Untuk ke depannya jangan melakukan hal seperti ini lagi boleh tidak?" Gumam gadis itu dengan nada yang terdengar begitu lembut, dan Charles segera menganggukkan kepalanya.
"Dan lain kali, kau harus bisa menghindari keusilan saudaraku." Charles melepaskan pelukannya, dan menatap wajah polos gadisnya.
"Baiklah." Keduanya pun tersenyum bersama, dan kembali berjalan meninggalkan taman tersebut.
Bersambung ...