
"S-seperti?" Dengan ragu Charles mengatakannya, dan Kent menghela napasnya seraya tersenyum.
"Seperti mudah menangis, tingkat sensitifnya meningkat dalam segala hal. Karena selama hamil, Natasha selalu menjadi tak sabaran, dan selalu ingin menang dalam segala hal. Terkadang emosinya pun menjadi tak terkontrol akibat hal tertentu. Dengan begitu, aku harus mengalah demi dirinya."
"Begitu ya? Tapi aku rasa, Sharon tidak seperti itu. Justru... ASTAGA." Charles kembali duduk tegak dengan kondisi mulut yang ternganga. Kent yang tengah minum pun hampir tersedak akibat terkejut.
"Ada apa?"
"Semua perubahan yang di katakannya tidak terjadi pada Sharon, melainkan terjadi padaku. Apa hal seperti itu mungkin? Jika aku mengatakannya pada Kent, dia pasti akan mentertawakanku!" Charles menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan melihat pria di sisinya bertingkah aneh, membuat Kent kebingungan. "Sharon tidak berubah seperti itu! Aku senang karena dia tidak melakukan hal aneh-aneh atau menginginkan hal yang aneh." Tuturnya dengan tegas.
"Sejak dulu dia memang tidak pernah merepotkan orang lain. Baiklah, aku akan pergi sekarang. Sampaikan salamku padanya!" Kent menepuk bahu Charles, lalu ia segera bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
•••
Saat jam makan siang berlangsung, Charles masih berada di ruangannya, ia menyantap bekal yang di siapkan oleh Sharon pagi tadi. Masakannya sangatlah lezat, dan ia merasa beruntung karena telah menikahinya.
Tidak lama dari itu, Key masuk ke dalam ruangan Charles membawakan segelas air sesuai permintaan atasannya. Memintanya membawakan air hanyalah sebuah alasan untuk Charles. Kemudian, ia mengajak asistennya untuk mencicipi bekal yang di bawanya.
Bukan hanya Charles, Key juga menyukai makanan yang di buat oleh Sharon. Hingga akhirnya mereka pun memakannya bersama, dan setelah makanan tersisa sedikit, Charles menautkan kedua tangannya di atas meja.
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu."
"Katakan saja tuan." Mulut Key tampak penuh dengan makanan yang berada di dalamnya.
"Jika seorang wanita tengah hamil, namun yang mengalami perubahan adalah suaminya, apa itu..."
Belum menyelesaikan ucapannya, Key menyemburkan makanannya akibat tidak bisa menahan tawanya. Ia tahu apa yang akan di katakan oleh atasannya itu, karena itulah ia tidak mampu mengontrol tawanya. Sedangkan Charles, ia menatap tajam ke arah asistennya.
"Maafkan aku tuan. Aku sungguh tidak bermaksud." Masih tampak terlihat jelas jika Key tengah menahannya. "Hal itu tidak terjadi pada semua orang, meski begitu di luar sana memang ada saja yang mungkin mengalaminya. Salah satunya tuan sendiri."
"Benarkah? Itu artinya bukan karena aku yang aneh 'kan?" Charles mengambil napkin yang di bawakan oleh Sharon, dan mengusap sudut bibirnya.
"Ya itu sangat wajar jika nona Sharon tidak mengalami perubahan. Tapi, bisa di artikan, jika tuan Charles sendiri yang berubah, itu berarti anda takut kasih sayang istri anda terbagi." Lagi-lagi tawanya pecah, dan Charles yang kesal itu pun menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Ketika Key hendak mengambil makanan, sebuah pukulan ia dapatkan di punggung tangannya.
"Sudah mentertawakanku, masih berani untuk menyantap makan siangku? Kau ingin aku memotong uang makanmu, hah?" Umpat Charles.
"Tapi tuan, ini sangat lezat, dan..."
"... Key keluar!" Seketika Key mempoutkan bibirnya, dan matanya masih memandang ke arah kotak bekal yang berada di atas meja Charles. Ia masih menginginkan makanan itu, namun atasannya berubah marah akibat dia telah mentertawainya. Kemudian, Key berniat untuk menghubungi Sharon, memintanya untuk di buatkan bekal yang sama seperti atasannya.
Saat malam tiba, Sharon sudah bersiap dengan begitu rapih. Charles yang baru tiba pun kebingungan melihat istrinya yang terlihat sudah siap untuk melakukan sebuah perjalanan. Lalu, ia mengendurkan simpulan dasinya, dan menghampiri Sharon untuk mencium keningnya.
Setelah itu, Charles membanting tubuhnya di atas ranjang semata-mata hanya untuk merenggangkan otot punggungnya yang terasa begitu pegal. Sesaat seusai menyimpan tas kerja yang di bawa oleh suaminya, Sharon duduk di tepi ranjang seraya menatapnya.
"Jadi, kapan kita berangkat?" Sahut Sharon yang kemudian membuat Charles setengah bangun dengan kedua sikutnya yang menjadi tumpuan tubuhnya.
"Hah? Memang kita mau kemana?"
"Apa kau melupakannya? Bukankah malam ini aku ada kontrol? Bukankah kau sendiri yang membuat janji dengan rumah sakit? Kenapa kau melupakannya?" Menanggapi itu, Charles kembali membaringkan tubuhnya seraya menghela napasnya.
"Apa tidak bisa kita ganti besok saja? Besok adalah hari libur, dengan begitu..."
"... tidak bisa! Yarry tidak ada jam praktek besok, dan kita harus berangkat hari ini! Apa kau tidak penasaran dengan perkembangan anak kita? Jika kau bersih keras untuk tidak pergi, maka aku akan pergi sendiri!" Sharon menyilangkan keduanya tangannya seraya mengalihkan pandangannya dari wajah Charles.
"Baiklah kita akan pergi! Tapi, tunggu sampai aku membersihkan tubuhku terlebih dahulu!" Tutur Charles yang segera masuk ke dalam toilet.
Meski lelah, demi istri, dan calon anaknya, Charles tak mempedulikannya. Tidak lama kemudian, seusai Charles mandi, dan bersiap, mereka pun lekas berangkat menuju rumah sakit.
Setibanya disana, keduanya menemui receptionist, dan mengatakan padanya bahwa mereka memiliki janji kontrol dengan salah satu dokter kandungan yang berada di rumah sakit tersebut, Yarry Gates.
Receptionist tersebut meminta keduanya untuk segera menuju ruangannya, terlihat alat usg serta peralatan lainnya di dalam sana. Mereka sempat berbincang sedikit soal apa yang di alami oleh Sharon selama kehamilannya belakangan ini.
Merasa penasaran akan sudut pandang Yarry, dengan berat hati Charles mengatakan apa yang telah ia katakan pada Key sewaktu di kantor tadi. Tidak seperti Key, Yarry hanya tersenyun simpul menanggapinya, yah walaupun ekspresi itu sama menyebalkan untuknya.
"Anda bukanlah satu-satunya yang mengalami hal demikian, tuan Charles." Sahut Yarry yang tengah mengenakan sarung tangan sterilnya. "Saat istriku hamil, aku rasa aku pun mengalami hal yang sama. Aku menginginkan hal ini, itu, sampai istriku kebingungan. Tapi, anda tenang saja! Hal seperti itu tidak akan berlangsung lama." Sambungnya lagi yang kemudian meminta Sharon untuk berbaring.
Setelah Sharon berbaring, sebuah gel di oleskan di sekitar perut Sharon. Kemudian, Yarry meletakkan probe pada perut wanita itu. Mengejutkan ketika melihat hasil yang tergambar di monitor usg tersebut, dan sebuah senyuman pun terukir di bibir Yarry.
"Ada apa?" Sahut Sharon yang kebingungan.
Bersambung ...
Maaf ya karena lama. Beberapa hari ini bawaannya ngantuk berat. Karena itulah ku tak bisa update😪