
"Kau? Kau mengenalnya? Bagaimana mungkin?" Gerutu Charles yang masih tak mempercayainya.
"Astaga Sharon? Ini sungguh kau?" Yarry menghampirinya seraya memegang kedua tangan wanita itu, dan ia merentangkannya, tak menyangka jika ia akan bertemu dengannya lagi. "Aah cinta pertamaku." Lanjutnya lagi.
Mendengar kata 'cinta pertama' yang keluar dari dokter itu, membuat Charles begitu terkejut, sehingga ia pun menarik Sharon di saat pria asing itu hendak memeluknya. Dengan sigap, Charles menyembunyikan istrinya tepat di belakang tubuhnya.
"Aku rasa kalian sudah saling mengenal. Sebaiknya aku permisi." Dokter Marvin menyela.
"Tunggu!" Sambar Charles yang menghentikan langkahnya. "Apa tidak ada dokter kandungan lagi selain dia?" Imbuhnya lagi.
"Tuan Charles, dokter Yarry adalah dokter kandungan terbaik yang di miliki oleh rumah sakit ini. Dia bahkan lulusan terbaik dari akademinya, dan rumah sakit inilah yang bersusah payah untuk membawanya datang kemari. Jadi,..."
"... tidak apa-apa. Aku rasa kita bisa mengandalkannya." Kini Sharon membuka suara, dan lagi-lagi ucapannya membuat Charles menganga.
"Jika begitu, aku permisi." Dokter Marvin pun meninggalkan ruang tersebut. Sedangkan Charles menunduk lemah di saat tidak ada yang membelanya.
Ketika ia kembali mengangkat kepalanya, ia terkejut saat menoleh tidak ada Sharon di sisinya. Hingga ia pun membalikkan tubuhnya, dan ternyata dokter itu menggiring istrinya untuk segera duduk di kursi yang telah tersedia di hadapan mejanya.
Apa yang dilakukan dokter itu? Apa dia tidak melihatku sebagai suaminya? Berani-beraninya dia mengabaikanku.
Charles terus menggerutu dengan begitu kesal. Ia berjalan mendekatinya, dan ia sangat terganggu melihat keakraban keduanya. Mereka bahkan tidak memandang dirinya yang tengah duduk di sana.
"Maaf dokter Yarry yang terhormat. Aku mengantar istriku datang kemari untuk memeriksakan kondisi kehamilannya. Bukan untuk melakukan reuni denganmu." Dalam kalimatnya, Charles menekankan bahwa wanita yang tengah di ajak bicara olehnya adalah miliknya, dan Sharon yang menyadari maksud ucapan itu pun sedikit tertawa kecil.
"Aaahh maafkan aku tuan Charles. Bertemu dengannya sungguh membuatku ingin kembali masa lalu." Tutur Yarry dengan di sertai tawa kecil.
"Jika begitu kau sendiri saja yang kembali ke masa lalumu itu." Charles membalasnya dengan nada suara yang ketus.
"Ha Ha Ha. Sudahlah, sebaiknya aku periksakan kondisimu sekarang!" Seru Yarry yang kemudian meminta Sharon untuk berbaring di ranjang rumah sakit.
"Ternyata pria ini lebih menyebalkan dari Kent." Gerutunya dengan suara yang begitu pelan.
Setelah pemeriksaan selesai, Yarry membantu Sharon untuk bangun dari sana, dan Charles kembali telat satu langkah untuk hal itu. Sungguh ia merasa sangat kesal, moodnya hancur dalam sekejap melihat semua yang ia saksikan hari itu. Entah kenapa dirinya merasa menyesal karena telah membawanya ke rumah sakit.
Kemudian, Yarry mencatat beberapa vitamin untuknya, dan menjelaskan segala sesuatunya. Namun tampaknya, Charles enggan mendengar dokter tersebut bicara, sejak tadi ia bahkan tidak menatapnya sama sekali.
"Tuan Charles, apa kau mendengarku bicara?" Yarry mencoba menyadarkannya, namun entah kenapa, Charles memutar kedua bola matanya begitu saja. "Aku katakan sekali lagi, saat ini istrimu tengah hamil muda, dan kondisinya terbilang cukup lemah. Jadi, jangan biarkan dia kelelahan, dan juga stress. Karena jika sampai itu terjadi, pasti akan mengganggu kesehatan janinnya. Satu lagi, wanita yang tengah hamil, biasanya begitu sensitif, dan kau harus terbiasa dengan suasana hatinya yang selalu berubah-ubah. Ini beberapa vitamin yang sudah ku rincikan!" Tuturnya lagi, dan Charles hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengambil secarik kertas yang di berikan dokter tersebut.
"Terima kasih Yarry. Aku akan menebus vitamin ini." Sharon mengambilnya, dan tersenyum ke arahnya. "Jika begitu, kami permisi." Kini, Sharon bangun dari duduknya. Ia menarik lengan suaminya untuk segera meninggalkan ruangan tersebut.
"Nomorku masih yang lama! Jika terjadi sesuatu padamu, kau bisa menghubungiku, Sharon!" Imbuhnya.
"Baiklah. Terima kasih atas kebaikanmu." Wanita itu berbalik seraya tersenyum, dan melihat senyuman itu terukir membuat Charles kembali geram akan hal tersebut.
Dengan cepat Charles melangkahkan kakinya. Ia meninggalkan Sharon disana, dan tak mempedulikannya. Sedangkan Sharon, ia terkejut saat tertinggal jauh oleh suaminya. Namun, ia tidak marah sedikit pun padanya, ia justru menyunggingkan senyum kecilnya ketika memandangi punggung suaminya.
Tidak ingin tertinggal lebih jauh lagi, Sharon mencoba menyusulnya, namun ia tetap tidak mampu menyamai langkah kaki suaminya. Merasa tidak akan sanggup mengejarnya, Sharon pun hanya berjalan santai di belakangnya.
Dia bahkan tidak menoleh ke belakang sedikit pun. Apa dia semarah itu?
Bibir Sharon terpout karena merasa di abaikan olehnya. Hingga setibanya di parkiran, Charles pun masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun, dan Sharon hanya mendesah menanggapi hal tersebut.
Kemudian, ia masuk ke dalam mobil, dan Charles pun segera menginjak pedal gasnya. Ia mengantar wanita itu ke rumah, setelah itu ia memutuskan untuk pergi ke kantor meski tidak ingin.
Tidak biasanya ia marah sampai seperti ini. Bahkan ketika Kent terus mendekatiku dulu, ia tidak semarah ini. Tapi, kenapa sekarang berbeda?
Sampai saat itu. Sharon masih tidak mengerti dengan apa yang tengah di pikirkan oleh pria di sisinya. Ketika sampai di villa, Sharon tidak langsung turun, ia tetap duduk disana, dan menatapnya lekat, namun tidak ada respon sedikit pun darinya.
"Aku akan langsung ke kantor, dan sepulangnya nanti aku akan membawakan vitamin itu. Sebaiknya kau beristirahat di rumah!" Titah Charles, dan mendengar itu langsung membuat Sharon keluar dari mobil.
Bersambung ...