
"Kau baik-baik saja?" Ungkap seseorang yang menarik lengan Sharon di waktu yang tepat. Jika tidak, entahlah apa yang akan terjadi padanya.
Nafasnya tersengal saat itu juga, dan tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada orang yang telah menolongnya itu.
"Charles? Kenapa kau .."
"Lain kali bisa tidak untuk memperhatikan jalanmu? Jika aku datang terlambat sedikit, kau pasti sudah tertabrak." Ucapnya kesal, dan mendesah kasar. "Apa yang kau lakukan dengan ponselmu?" Tambahnya seraya melirik ke arah ponsel Sharon.
"Mencari tambahan kerja paruh waktu."
"Kau sudah banyak mengikuti paruh waktu. Bagaimana kau bisa membagi waktumu?"
"Ini harus ku lakukan. Ibuku membutuhkan biaya, belum lagi jika nanti ada pendonor, pasti jumlah biaya yang di keluarkan akan semakin besar."
•••
Kent yang tengah menikmati angin di kota Zurich itu pun tengah mencoba membuang semua beban yang ada di fikirannya. Hingga matanya menangkap sosok yang sangat tak asing baginya.
Ia melihatnya sedang tersenyum seraya berjalan bersama dengan seorang pria di sisinya. Berharap bukan delusinya, Kent mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan penglihatannya.
"Louis disana ... " Kent menunjuk ke arah yang berlawanan, dan meminta temannya untuk segera memutar arah. "... aku melihat Sharon."
"Apa kau yakin? Aku rasa semua itu karena kau tengah merindukannya saja."
"Aku tidak salah lihat, gadis itu benar-benar Sharon." Kent bersih keras untuk meminta Louis untuk berputar, dan Louis pun mengikuti kemauannya.
Ketika sudah berputar, dan mengikuti petunjuknya. Louis sungguh tidak melihat siapa pun disana, memang ada seseorang, namun ia sama sekali tidak melihat Sharon sedikit pun.
Merasa kesal dipermainkan, Louis meminggirkan letak mobilnya, dan meminta Kent untuk membuka mata serta hatinya. Bukan hanya itu, Louis juga memintanya untuk merelakannya. Dengan begitu, ia akan meraih ketenangan.
"Tapi aku sungguh tidak salah lihat."
"Kali ini kita kembali. Ada rapat yang harus kau hadiri hari ini."
Kent berlalu meninggalkan kota tersebut, dan ia tetap berniat untuk menyelidikinya kembali. Karena dirinya merasa sedang tidak berkhayal. Itu benar dia. Gadis yang sangat ia rindukan.
•••
Kali ini, Sharon tengah membersihkan lantai kantor bagian department keuangan, dan tentu saja Charles ada bersamanya. Tidak banyak hal yang dilakukan pria itu, ia lebih sering mengganggunya, dan membuat gadis itu merasa jengkel.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu? Apa yang harus aku lakukan agar kau tetap bisa tersenyum?" Charles membatin seraya memandangi gadis yang tengah berlalu lalang di depannya.
Setelah membersihkan bagian department keuangan. Ia segera mengantar minuman ke bagian humas, dan juga department komunikasi.
"Melihatmu mengikutiku, kau seakan memiliki waktu yang senggang. Apa tidak ada pekerjaan yang harus kau lakukan?"
"Aku tengah melakukannya."
"Melakukan apa?"
"Mengikutimu bekerja. Itu lah pekerjaanku yang sebenarnya." Mendengar itu membuat Sharon mengerlingkan dahinya, namun Charles langsung membagikan senyuman usilnya.
Senyuman itu justru membuat Sharon ingin sekali memukulnya. Kemudian, ia menyerahkan baki yang di genggamannya pada Charles. Ketika para pegawai sudah mulai berdatangan, Charles langsung mengajak Sharon untuk segera pergi.
"Aku baru ingat, tuan Key memintaku untuk menemuinya. Aku pergi menemuinya sebentar."
"Tadi, kau terlalu sibuk sehingga tidak melihatnya. Aku hanya sebentar, kau tidak perlu merindukanku." Gumamnya seraya mengacak-ngacak letak rambut gadis tersebut.
"Astaga, orang itu sungguh memiliki tingkat percaya diri yang sangat tinggi. Tapi, .." Sharon memegangi puncak kepalanya yang sebelumnya di sentuh oleh Charles. "... berada di dekatnya membuatku sangat merasa nyaman."
Mengamati daerah sekelilingnya, ketika tidak ada yang melihatnya, dengan cepat Charles memasuki ruangannya, dan saat itu juga ia langsung meminta Key menemuinya.
Key yang sedang duduk lemas tak berdaya di hadapan komputernya terkejut ketika mendapati ponselnya berdering. Melihat jelas siapa yang menghubunginya, membuatnya ingin menyerah saat itu juga.
"Ada apa Key? Wajahmu hari ini sangat menyeramkan."
"Apa kau tahu Elena? Beberapa hari terakhir ini, tuan Charles tak membiarkanku tidur nyenyak."
Tidak kunjung datang, dan tidak menerima panggilannya. Charles kembali menghubunginya. "Lihat, dia menghubungiku lagi. Aku yakin jika sebentar lagi tuan Charles akan menghubungimu." Racau Key yang sudah kehilangan semangatnya.
Benar saja apa yang di katakan oleh Key. Setelah ponselnya berhenti berdering, giliran ponsel Elena yang berdering, dan dengan cepat Elena menerima panggilan tersebut. Kemudian, orang di seberang sana meminta Elena untuk mengaktifkan loudspeaker pada ponselnya.
"KEY! Berani sekali kau mengabaikan panggilanku. Datang sekarang juga ke ruanganku! Jika tidak, aku akan memangkas gajimu bulan ini."
Tidak menjawab, Key langsung berlari ke arah ruangan Charles, dan Elena terkekeh melihat hal tersebut. Bagaimana pun Charles mengancam, Elena selalu merasa jika direkturnya tidak akan benar-benar melakukan hal tersebut.
Nafas Key tersengal ketika tiba di dalam ruangan atasannya, dan Charles masih memandangi asistennya itu dengan lekat.
"Key."
"Aku disini tuan." Kini posisi Key langsung terlihat tegak.
"Bagaimana mengenai hal yang ku minta? Apa sudah menemukan pendonor yang cocok sesuai data dna yang ku berikan padamu?"
"Masih belum tuan. Aku juga sudah menghubungi rumah sakit di California, Kanada, dan Jepang. Mereka akan segera memberi kabar ketika mendapatkannya."
"Tekankan kembali pada mereka untuk segera mendapatkannya."
"Baik tuan."
"Satu lagi. Beritahu pada pegawai lainnya, selama melihatku tengah memakai pakaian office boy, mereka tidak boleh memanggilku 'tuan'. Jika mereka sampai salah bicara, aku yang akan memangkas bonusmu serta gajimu bulan ini."
"Kenapa harus aku lagi?" Racaunya dengan nada yang sangat lemah.
Sebelum keluar dari ruangan, dan berlalu dari hadapan asistennya. Charles menepuk Key, dan tepukkan itu membuat Key sadar, jika Charles sangat mempercayainya.
Charles yang sudah kembali ke dapur pun tak menemukan Sharon disana. Ia pun bergegas mencarinya, dan masih belum mampu menemukannya. Ketika hendak menghubunginya, Charles mendengar dering ponselnya berada di loker.
"Jam-jam seperti ini, seharusnya dia berada dimana?" Gerutunya frustasi.
Merasa menemukan jalan buntu, Charles mengunjungi ruang cctv, dan mencari keberadaan Sharon dari sana. Ketika sudah menemukannya, ia langsung berlari menuju tempat tersebut.
Dengan cepat langkah kakinya menuju lift, dan menuju tempat tersebut. Hatinya gusar, dirinya takut jika gadis itu akan melakukan hal yang ceroboh, dan ia tidak sempat menahannya. Jika hal buruk terjadi padanya, entah apa yang akan di lakukan oleh Charles ke depannya.
Saat ini Charles sudah berada di tempat, dimana ia menemukan Sharon. Ketika hendak menarik pintu, ia mendengar sebuah teriakkan yang sangat kencang. Saat itu juga, jantungnya berdegub kencang, dahinya berkeringat, dan tangannya berubah mendingin.
"Sharon ... " Gumamnya dengan nada yang sangat lirih, dan penuh dengan rasa takut.
Bersambung ...