
Hari hampir malam, dan Charles pun baru tiba di Star Royal. Kedatangannya di sambut dengan Erina, meski wanita itu menawarkan sebuah bantuan, Charles sedikit mengabaikanya, dan mengatakan padanya jika dirinya hanya ingin beristirahat. Tidak bisa berkata banyak, Erina tampak kecewa melihat reaksi pria itu.
Setelah berada di kamar, senyumnya kembali terukir, langkah demi langkah membawanya mendekat ke arah ranjang. Ia duduk di sana seraya memandangi wajah wanita itu, sesekali ia mengelus pipinya, dan kini tangannya menggenggam erat tangan wanita itu.
"Aku sudah membaca suratmu itu, aku sudah menerima cincin itu, serta foto-foto manis kita ketika tengah menjalani kencan satu hari penuh. Kau tahu? Setelah melihat foto itu, aku teringat akan satu hal, aku memiliki janji padamu yang sampai saat ini belum ku penuhi. Bukankah kau ingin datang ke Uetliberg saat malam hari? Jika kau masih menginginkannya, maka cepatlah bangun!" Sahutnya, dan kini pandangannya pun mulai tertunduk lemah.
Sebuah cairan menetes dari salah satu pelipis mata Sharon, Charles yang menyadari hal itu pun sangat terkejut. Ia mengusapnya untuk memastikan apa yang di lihatnya adalah bukan kesalahan. Merasa benar, ia segera menyambar ponselnya yang sebelumnya di letakkan pada nakas meja.
Perasaan bahagia tersimpan di dalam benaknya setelah mengatakan apa yang ia lihat, sembari menunggu orang yang di panggil, ia terus berharap jika itu adalah pertanda baik. Hingga 25 menit kemudian, orang yang di tunggunya pun tiba, dan asisten rumah tangga disana mengantar orang itu menuju kamar Sharon.
"Dokter Marvin. Cepatlah! Aku ingin mengetahui kondisinya saat ini, aku sungguh melihatnya meneteskan air mata. Aku yakin jika dia seperti itu karena merespon ucapanku." Charles yang terdengar kegirangan itu pun langsung menarik lengan dokter tersebut.
"Kau tenanglah dulu! Aku akan memeriksa kondisinya."
"Bagaimana ini? Jika nona Sharon sadar secepat ini, aku tidak akan bisa mendekati tuan Charles." Gerutunya.
"Jaga ucapanmu, Erina! Jika tuan Charles sampai mendengarnya, entah apa yang akan terjadi padamu." Raeya selaku kepala asisten rumah tangga disana menyela ucapannya.
Dengan perasaan yang tercampur jadi satu membuat Charles sungguh tidak tenang. Ketika dokter Marvin selesai memeriksanya, Charles langsung melontarkan banyak pertanyaan.
"Ini merupakan kabar baik, otaknya mulai merespon. Teruslah berinteraksi dengannya, mungkin dengan begitu ia akan lebih cepat sadar. Dalam pemeriksaanku, meski ia masih belum mampu membuka matanya, ia tetap akan merespon secara spontan." Itulah penjelasan yang di dapatkan dari dokter Marvin, dan Charles sungguh bahagia dengan kabar yang ia terima.
Setelah itu, Raeya lekas mengantar dokter tersebut menuju gerbang, dan Charles masih terlihat senang. Ketika pintu tertutup, ia langsung melakukan langkah seribu agar dapat tiba di ranjang itu lebih cepat. Senyumnya masih terukur, dan genggamannya pun semakin di eratkan.
"Jika memang benar kau merespon apa yang ku ucapkan. Aku minta padamu untuk segera bangun! Apa kau tidak lelah terus berbaring seperti ini? Apa kau tidak merasa bosan terus menerus berada di ruangan ini? Tidak mau kah kau pergi menghabiskan waktu bersamaku?" Gerutu Charles.
Hari sudah semakin malam, Erina masuk ke dalam kamar Charles, dan Sharon dengan membawakan baki makanan yang berada dalam tangannya. Merasa tidak bisa menolak, Charles pun menerimanya, dan meminta Erina untuk segera keluar.
•••
Ketika selesai di salah satu butik, mereka segera bergegas untuk mencari kebutuhan yang lainnya. Saat tengah memilih perhiasan yang akan di kenakan pada hari H, Kent mengingat Charlie, bukankah dia adalah ahlinya dalam bidang seperti itu? Mungkin dia bisa membantunya untuk mendesign perhiasan yang cocok di gunakan oleh Natasha nanti.
Tanpa buang-buang waktu, Kent segera menghubungi Charlie, dan mengatakan apa yang di inginkan olehnya. Dengan senang hati Charlie bersedia membantunya. Bagaimana pun, Kent merupakan teman baik bagi Sharon, dan dirinya akan membantu semua teman Sharon jika mereka membutuhkannya.
Berbeda dengan Nick, ibunya juga sangat ingin menyelenggarakan pernikahan untuk putranya dengan Alice. Namun, keduanya enggan untuk menikah dalam waktu dekat ini, mereka tidak ingin berbahagia tanpa ada Sharon bersamanya.
"Kami sudah sepakat untuk menikah saat Sharon mendapatkan kesadarannya, ibu. Aku mohon hargai keputusan kami ini." Ujar Nick.
"Nick benar, sebaiknya kita tunggu hingga Sharon sadar." Sahut Bella.
"Tapi kapan hal itu akan terjadi?" Ungkap Iriana yang tak sabaran.
"Bibi tenang saja, aku sangat yakin jika dalam waktu dekat ini, Sharon akan kembali pada kita semua." Kini Alice membuka suaranya.
"Kami mengharapkan hal yang sama." Ucap mereka secara bersamaan.
•••
Charles, ia telah menggunakan piyama tidurnya. Dirinya berbaring tepat di sisi Sharon dengan posisi menghadap ke arahnya, ia membenarkan letak rambut yang menutupi wajahnya, senyumannya tidak pernah hilang meski hanya menatapnya.
"Hari ini sudah hampir berakhir. Meski harapanku belum ku dapatkan di hari ini, namun, aku tidak akan pernah berhenti berharap di hari esok, esoknya lagi, dan seterusnya, bahkan sampai detak jantungku berhenti sekali pun..." Charles mencium lembut kening Sharon. "... selamat malam ratuku." Sambungnya lagi.
Bersambung ...
Jangan lupa juga gengs untuk mampir di cerita baruku yg berjudul 'STORM' . Masih hangat😋
IG: @kyu_shine