My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 133



Tidak lama kemudian, ponsel Sharon berdering, dan hal itu membuat Charles berdecak kesal. Sedangkan Sharon, ia sedikit terkekeh saat melihat raut wajah suaminya yang terlihat begitu jelas jika dia tengah menahan emosinya.


Hampir saja. Jika ponselnya tidak berdering, pasti kami sudah... aarrrggh.


Charles terus menggerutu di dalam batinnya seraya mengacak-ngacak letak rambutnya. Penasaran siapa yang sudah berani mengganggu kesenangannya, ia pun mendekatkan telinganya pada ponsel itu, namun dengan cepat Sharon memindahkan posisinya ke telinga satu lagi.


"Baiklah, aku akan kesana. Terima kasih banyak." Gumam Sharon yang langsung mengakhiri panggilan tersebut.


"Siapa itu? Kenapa suaranya terdengar seperti dokter Marvin? Apa kau sakit, eoh?" Kini wajahnya berubah menjadi khawatir.


"Kau pasti salah dengar! Itu bukanlah dokter Marvin."


"Lalu siapa?" Ia menuntut jawaban dari wanita di hadapannya. "Suara itu milik seorang pria, jika bukan dokter Marvin, siapa yang menghubungimu?" Pungkasnya lagi seraya menggenggam kedua bahu Sharon.


"I-itu kak Nick yg menghubungiku! Kenapa kau bisa berpikir yang menelfonku adalah dokter Marvin? Kau bahkan sampai mencurigaiku berhubungan dengan pria lain. Kau tahu? Aku sungguh tersinggung akan hal tersebut." Dengan cepat Sharon membalikkan tubuhnya, dan berjalan keluar dari ruang pakaian.


"Maafkan aku." Langkah Charles mampu menahannya, ia bahkan langsung mendekapnya dari belakang, dan menyandarkan dagunya tepat di bahu milik istrinya. "Aku sungguh tidak berniat untuk membuatmu tersinggung. Ketika ada seorang pria yang menghubungimu, dan tanpa aku tahu, aku hanya takut jika kau akan berpaling dariku." Nada suaranya terdengar begitu pilu kala mengatakan hal itu.


"Bodoh! Mana mungkin aku bisa berpaling darimu? Sedangkan, bagian kecil hatiku terekat di hati milikmu." Sharon menatap wajahnya seraya memegang tepat bekas operasi yang mereka lakukan saat pencakokkan saat itu. "Maafkan aku, Charles. Yang menghubungiku memang dokter Marvin. Namun, aku tidak bisa memberitahumu sekarang." Serunya membatin.


Benar, tidak bisa di pungkiri jika orang yang menghubunginya adalah dokter Marvin. Dokter tersebut menghubunginya karena ingin memberi kabar padanya jika hasil tes yang di lakukannya 2 hari lalu telah keluar, dan ia bisa datang untuk mengetahui hasilnya.


Siang itu, di saat tengah menyirami beberapa bunga di taman yang ada di villa tersebut, entah kenapa Sharon merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. Tubuhnya terasa begitu lemah, kakinya terasa tak bertenaga, dan kepalanya pun sedikit pusing, di tambah dengan mual yang ia rasakan.


Ia memutuskan untuk menghubungi Charles yang kebetulan tengah ikut bersama ayahnya untuk mengontrol cafe-cafe yang di kelolanya. Karena tidak dapat di hubungi, akhirnya Sharon memutuskan untuk pergi ke rumah sakit seorang diri.


Dirinya hanya merasa jika semua yang di rasakannya kini pasti akibat operasi saat itu. Lagi pula sangat kebetulan jika bulan itu, ia belum kembali kontrol mengenai kondisi terbarunya. Setibanya di rumah sakit, ia berpapasan dengan dokter Marvin yang baru saja keluar dari ruang pasien. Ketika melihat Sharon disana, dokter Marvin lekas membawanya untuk ke ruangannya.


Di sana Sharon menyampaikan semua keluhan yang ia alami. Kemudian, dokter Marvin sedikit menerkanya, hingga sebuah senyuman kecil terukir di bibirnya.


"Kapan pernikahan kalian di langsungkan?"


"Maaf?" Sharon begitu terkejut saat mendengar pertanyaan dokter di hadapannya keluar dari arah pembicaraan.


"Kenapa? Aku hanya bertanya saja, dan sebaiknya kita lakukan sedikit tes untuk memastikannya."


"Sepertinya karena hal lain." Tutur dokter Marvin seraya memamerkan senyum kecilnya.


Sesuai intruksi, Sharon menjalani tes untuk mengetahui kondisinya. Tidak lama setelah melakukan tes tersebut, dokter Marvin mengatakan jika hasil tes akan keluar lusa, maka dari itu ia sempat bertanya padanya kapan pernikahan mereka di laksanakan.


*Mengerti maksud dariĀ *ucapannya, Sharon pun menjawabnya, jika pernikahannya akan di laksanakan kurang lebih 5 hari lagi. Jadi, masih sempat untuknya mengetahui hasil tes tersebut. Tidak ingin membuat Charles cemas, ia pun tidak memberitahunya mengenai kedatangannya ke rumah sakit.


"Kau sebaiknya kembali ke kantor!" Sharon membenarkan letak dasi yang melingkar di leher suaminya.


"Untuk apa? Beberapa jam lagi juga sudah jam pulang. Apa tidak sebaiknya kita melanjutkan yang sudah..."


"... tidak mau! Cepat berangkat ke kantor sekarang juga!" Imbuh Sharon dengan tatapan tajamnya, dan akhirnya Charles pun memilih mengalah.


"Apa kau ingin tetap disini? Atau ingin kembali ke villa? Jika ingin kembali, aku akan mengantarmu lebih dulu!"


"Tidak perlu! Aku akan disini dulu untuk beberapa saat. Lagi pula, bukankah jarak dari sini menuju Austin Industries lebih dekat? Jadi, sebaiknya kau berangkat saja!"


"Baiklah jika begitu. Kabari aku jika kau hendak pulang!" Charles mencium kening Sharon dengan begitu lembut, dan tak lama dari itu, ia pun meninggalkannya.


Ketika memastikan bahwa Charles telah benar-benar meninggalkan rumahnya, Sharon pun segera keluar dari rumah itu. Namun, tak lupa ia berpamitan pada Charlie jika ia hendak keluar untuk membeli sesuatu. Saat itu Charlie menawarkan tumpangan, dan bersedia untuk mengantarnya, dengan cepat Sharon menolaknya secara halus agar tidak menimbulkan curiga.


Berada di luar, ia berjalan sedikit menuju jalan besar agar dapat menemukan taksi untuk membawanya menuju rumah sakit. Tidak lama kemudian, ketika mendapatkan taksi itu, ia lekas berangkat.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Sharon tiba di salah satu rumah sakit. Lalu, ia segera menuju ruangan milik dokter Marvin. Disana, dokter Marvin langsung menyerahkan amplop putih yang berisikan hasil tes beberapa hari lalu pada Sharon. Secara perlahan Sharon membukanya, dan ia tidak mengerti dengan tulisan yang ada di dalamnya.


Lalu, dokter Marvin mengambil kertas itu, dan mulai menjelaskan isinya pada Sharon. Mendengar penuturannya, membuat Sharon membelalakkan kedua matanya, air matanya menetes, namun bukan karena rasa sedih, melainkan rasa bahagia yang tak bisa ia bendung.


"Terima kasih banyak. Tapi, bolehkah aku meminta satu hal padamu?" Dokter Marvin menganggukkan kepalanya. "Untuk saat ini, tolong jangan katakan apapun pada Charles mengenai hasil tes yang ku jalani." Lanjutnya lagi.


"Baiklah. Aku mengerti." Sahut dokter Marvin. "Meski begitu, jaga kesehatanmu agar tubuhmu tetap stabil!" Sambungnya lagi, dan Sharon lekas pamit setelah mendengar nasihat tersebut.


Bersambung ...