My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 152



Di salah satu toko di sebuah mall, Sharon, dan Charles tampak sibuk memilih segala perlengkapan untuk kedua buah hati mereka. Melihat semua pakaian bayi yang lucu benar-benar membuat Sharon merasa gemas, dan ingin rasanya ia membeli semua yang ada di sana.


Ketika Sharon sibuk memilih pakaian, entah kemana Charles pergi. Namun, Sharon tak mempermasalahkan hal tersebut, karena suaminya pasti masih berada di sekitar toko itu. Mungkin dia tengah melihat-lihat yang lain.


Selesai dengan pakaian, Sharon melirik sebuah stroller yang memiliki dua tempat tidur, lalu ia membayangkan kedua bayinya berbaring disana, dan tanpa sadar ia tersenyum kecil.


"Hey, apa yang kau pikirkan? Sampai kau tersenyum seperti itu?" Tiba-tiba saja Charles berdiri di belakangnya.


"Lihat stroller itu! Pasti akan sangat lucu jika..."


"... sebaiknya kita tidak perlu membeli barang-barang yang bersifat sementara."


"Tapi..."


"... dengarkan aku! Kedua anak kita pasti akan bertumbuh besar bukan? Nantinya akan sayang jika stroller ini tidak terpakai."


"Jika kita memiliki anak lagi, bukankah akan berguna?"


"Baby twins kita saja belum lahir, dan kau sudah membicarakan adik untuk mereka? Tidak ku sangka jika istriku begitu agresif." Charles tertawa kecil, dan kedua pipi Sharon langsung memerah setelah mendengarnya.


Yang di katakannya memang benar. Barang tersebut bukanlah kebutuhan pokok. Tapi, aku menginginkannya.


Sharon menghela napasnya, dan berjalan ke tempat lain. Sedangkan Charles, ia mengikutinya dari belakang. Sudah banyak yang ia beli, kemudian Sharon membawanya menuju kasir. Menunggu kasir menscan barang-barang yang di beli oleh Sharon, Charles melingkarkan tangannya pada pinggang wanita di sisinya, ia juga mencium puncak kepala wanita itu.


"Suamiku, bukankah itu tuan muda Austin?" Bisik seseorang yang ada disana. Baik Charles maupun Sharon yang mendenar hal itu pun menolehkan kepalanya menuju sumber suara. "Tuan Austin, aku ingin anda mengusap perutku, kelak aku berharap jika putraku menjadi sepertimu." Timpal ibu hamil yang usia kandungannya baru mencapai 5 bulan.


"Maaf?" Charles terkejut mendengar itu.


"Aku mohon tuan Austin, jika tidak di turuti, istriku pasti akan marah-marah tidak jelas. Kau tahu sendiri 'kan bagaimana marahnya ibu hamil? Istrimu pasti pernah mengalaminya." Suami dari wanita itu menyahut, dan Sharon semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Charles.


"Yang benar saja, Sharon bahkan tidak pernah melakukan apa yang di katakannya. Justru akulah yang mengalami hal itu. Jadi, aku tidak tahu bagaimana rasanya di marahi oleh ibu hamil. Kecuali aku melakukan permintaannya, sudah pasti jika Sharon akan murka padaku." Sesekali Charles melirik ke sisinya, dan menelan air liurnya. Membayangkan di abaikan oleh Sharon sungguh mengerikan untuknya.


"Tuan Austin, kenapa anda diam saja?" Wanita itu kembali menyahut, ia bahkan menarik tangan Charles agar segera menyentuh perutnya. Namun, dengan cepat Charles menariknya kembali. Ia sungguh terkejut ketika wanita itu menariknya secara tiba-tiba.


"Tidak apa-apa!" Kini, Sharon membuka suaranya, ia juga melepaskan pegangannya pada Charles, dan menuntun tangan suaminya agar menyentuh perut wanita di hadapannya.


Ketika tangan Charles menyentuh perut wanita itu, terlihat jelas jika kedua pipi wanita di hadapannya memerah, dan senyumannya pun terukir. Menyadari hal tersebut membuat Charles menarik kembali tangannya, lalu ia memutuskan untuk membayar belanjaannya agar bisa meninggalkan tempat itu secepatnya.


"Kita pulang sekarang!" Charles menyahut, dan Sharon sedikit terkekeh melihat ekspresi wajah suaminya kali ini.


45 menit kemudian, keduanya sudah tiba di rumah, dan Sharon membuka satu per satu barang belanjaannya serta menyimpannya di atas ranjang. Kini, ranjangnya menjadi berantakan, dan Charles hanya menganga melihat hal tersebut.


Senyuman Sharon terus terukir kala ia merapihkannya kembali. Merasa gemas, Charles memeluknya dari belakang, dengan manja ia meletakkan dagunya di bahu Sharon, dan Sharon melingkarkan salah satu tangannya untuk mencapai kepala suaminya.


"Kau tidak marah padaku soal tadi 'kan?" Charles menggumam pelan.


"Kenapa aku harus marah? Memiliki suami yang cukup populer sungguh membuatku harus ekstra bersabar." Sharon terkekeh mengatakan hal tersebut, dan Charles langsung meminta Sharon untuk duduk, sedangkan dia berlutut di hadapannya.


"Apa kalian mendengarnya? Sejak tadi aku begitu khawatir dengannya, aku sangat takut jika dia marah padaku karena melakukan hal seperti tadi, dan aku tidak tahu apa ucapannya itu merupakan pujian atau ejekkan." Tangan Charles mengusap perut Sharon, kemudian memeluknya dengan posisi berlutut. "Aku sungguh menanti kehadiran kalian buah hatiku." Lanjutnya lagi, dan Sharon tersenyum mendengarnya, lalu tangannya pun mengusap rambut suaminya.


•••


Saat itu, Bill terlihat tengah duduk di ruang bacanya. Ia menatapi sebuah bingkai foto yang terdapat di meja kerjanya. Kemudian, ia mengambil foto tersebut seraya mengusapnya dengan begitu lembut.


"Aku sangat merindukanmu, istriku. Kau tahu? Putra sulung kita akan segera memiliki anak kembar, sedangkan putra bungsu kita akan melangsungkan pernikahannya kurang lebih 2 bulan lagi. Seandainya kau masih berada di sisiku, kau pasti akan merasa bahagia sepertiku. Tapi, aku yakin jika kau lebih bahagia berada disana."


Tanpa sadar air mata menetes dari kedua mata pria paruh baya itu. Ia merasa bahagia karena kedua putranya, namun ia juga sedikit sedih karena tak bisa menyaksikan kebahagiaan itu bersama dengan wanita yang ia cintai.


Hingga, seseorang mengetuk pintu ruang bacanya, dan masuk begitu saja. Dengan cepat, Bill mengusap kedua pipinya, namun sayangnya hal tersebut di ketahui oleh orang di hadapannya.


"Paman, kau menangis?" Sahutnya, kemudian ia melirik foto yang tengah di genggam oleh Bill. "Apa dia istrimu?" Lanjutnya lagi.


"Benar. Dia adalah istriku, ibu dari Charlie, dan juga Charles." Bill tersenyum seraya menatap bingkai foto itu lagi. "Ah ada apa kau kemari, Gwen? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Bill menambahkan, kemudian meletakkan kembali foto tersebut.


"Makan malam sudah siap, dan Charlie memintaku untuk memanggil paman."


"Anak itu benar-benar! Kenapa tidak menyuruh pelayan saja yang memanggilku? Kenapa harus menyuruhmu?" Rutuknya seraya bangun dari bangkunya. "Ah ya satu lagi, sebentar lagi kau juga akan menjadi putriku, mulai sekarang jangan memanggilku 'paman', panggil aku 'ayah' sama seperti Charlie memanggilku." Bill mengacak-ngacak puncak kepala Gwen dengan sebuah senyuman hangatnya.


"Baik paman, maksudku ayah." Gwen membalas senyuman itu, dan keduanya pun segera menuju ruang makan.


Bersambung ...