
Melihat reaksi Charles membuat Sharon mempoutkan bibirnya, dan saat itu juga Charles menciumnya, hal itu sungguh menggemaskan baginya. Kemudian, dengan cepat Sharon mendorong tubuh pria di hadapannya.
“Hey, apa kau membutuhkan cermin?” Celetuk Charles.
“Untuk apa?” Gumamnya yang kini menatap wajah pria di hadapannya.
“Untuk melihat seberapa merahnya wajahmu saat ini.” Charles kembali mengejeknya.
“Kau sangat menyebalkan.” Balas Sharon seraya mencubit lengan suaminya.
Di tempat yang berbeda, Charlie tampak tengah memandangi air laut yang begitu tenang, tentu saja bersama dengan seseorang yang ia cintai, Gwen. Keduanya duduk di hamparan pasir seraya menunggu terbenamnya matahari. Gwen menyandar pada bahu Charlie, dan Charlie menyandarkan kepalanya di atas kepala Gwen.
Gwen membiarkan matanya terpejam supaya dapat menikmati desiran angin yang menerpa kulit putihnya, sedangkan Charlie terus menatap ke arah air laut. Saat matahari sudah hampir terbenam, Gwen kembali membuka matanya secara perlahan, ia begitu ingin menikmati keindahan tersebut.
“Ikutlah bersamaku ke Zurich!” Charlie menyahut bersamaan dengan tenggelamnya matahari, mendengar hal itu membuat Gwen langsung menatapnya. “Kau mau ‘kan?” Ucapnya lagi, dan wanita di sisinya segera berdiri.
Melihatnya tak merespon, Charlie mengikuti wanitanya untuk berdiri. Ia mengerti apa yang di rasakan olehnya, karena terlihat banyak keraguan di matanya ketika tawarannya terlontar. Namun, tidak sampai disana, Charlie terus membujuknya, dan memintanya untuk percaya jika semua akan baik-baik saja.
"Bagaimana jika mereka membenciku? Mereka pasti tidak menyukaiku, aku..."
"... dengarkan aku! Baik Charles atau ayahku, mereka bukanlah orang seperti itu. Percayalah padaku, jika ayah pasti akan menerimamu."
"Tapi, bagaimana jika memang sebaliknya?"
"Jika ayah berlaku sebaliknya, maka aku siap meninggalkan segalanya untuk menikah denganmu. Apa kau bersedia?" Tutur Charlie, dan Gwen langsung memeluknya seraya menganggukkan kepalanya. "Bersiaplah! Kita akan berangkat besok pagi!" Lanjutnya lagi.
•••
Kebahagiaan tengah di rasakan oleh Nick, dan juga Alice. Pernikahan keduanya sudah hampir dekat, dan persiapan pun terbilang sudah hampir selesai. Sedangkan Charles, ia yang akan menyelenggarakan pernikahan ulangnya dengan Sharon pun hanya tinggal menunggu cincin yang tengah dalam proses pembuatan, dan Charlie sendiri lah yang mendesignnya.
Sore itu, Charles, dan Sharon tengah menikmati waktunya di pantai. Bermain dengan air disana sungguh sangat menyenangkan untuk keduanya, bahkan pakaian yang di kenakan Sharon pun sudah hampir basah kuyup akibat cipratan Charles yang berlebihan.
Merasa kesal dengan perbuatannya, Sharon mencipratinya bertubi, dan Charles begitu terkejut ketika air itu mengenai wajahnya, tepatnya pada bagian dahinya. Wajahnya berubah, dan memandang tajam ke arah Sharon.
Menyadari hal itu, Sharon langsung berpura-pura tidak mengetahuinya, seolah memang tidak terjadi apapun saat itu. Ia bersenang-senang sendiri, namun ketika merasakan pandangan Charles yang semakin tajam, ia pun segera terkekeh seraya menjulurkan lidahnya.
"Aku akan membalasmu!" Charles menyeru, dan Sharon berlari keluar dari air agar mampu menghindarinya. "Aku pasti bisa menangkapmu, lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti!" Teriaknya yang berlari mengejarnya.
"Lakukan saja jika bisa!" Sharon menyeru, dan kembali menjulurkan lidahnya.
Dengan sekuat tenaga Charles mengejarnya, dan Sharon berlari mundur seraya mengejek suaminya yang masih tak mampu menangkapnya. Ketika tengah berlari dengan riang, ia mendengar sebuah rintihan, dan hal itu membuatnya menghentikan langkahnya.
"Tidak! Rasanya sesak sekali, kakiku juga mulai terasa keram!" Rintih Charles, dan Sharon membalikkan tubuhnya ketika melihat Charles terbaring di pasir pantai.
"Bodoh! Cepat bangun! Katakan sesuatu padaku! Penyakitmu tidak kembali 'kan? Buka matamu, Charles!" Titahnya seraya mengguncangkan tubuh Charles berkali-kali. "Charles! Aku bilang cepat buka matamu!" Air matanya sudah menetes ketika Charles tak kunjung membuka matanya.
Saat isakkannya terdengar begitu menyesakkan, air matanya terus menetes tiada henti, Charles membuka matanya, dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Lihat! Aku berhasil menangkapmu bukan?" Bisik Charles seraya terkekeh, dan sadar jika dirinya tengah di kerjai, Sharon segera bangun, dan memukul dada bidang Charles dengan hantaman yang begitu kuat. "Aargh." Rintihnya, namun ia masih mampu menahan itu, dan tetap terkekeh saat mendengar rengekkan Sharon beberapa detik lalu.
"Kau sungguh menyebalkan, Charles! Aku tidak akan memaafkanmu, kau akan menerima pelajaran dariku!" Wajah Sharon di penuhi amarah, dan kini giliran Charles yang berlari menghindarinya.
Kesal dengan sikapnya yang berlari meninggalkannya, Sharon melemparinya dengan sandal yang tengah ia kenakan, namun sayangnya lemparannya itu tidak mengenainya.
"Kakimu itu pendek! Kau tidak akan bisa mencapaiku!" Ejeknya seraya tertawa, dan Sharon semakin murka ketika mendengarnya. Ia juga melempar topi yang ia kenakan.
Lelah tak bisa menangkapnya, Sharon menghentikan langkahnya, dan mengatur nafasnya secara perlahan. Itu sungguh melelahkan untuknya, bahkan nafasnya sungguh tersengal akibat berlari.
"Kepalaku! Charles, a-aku pusing sekali." Gumamnya seraya memegangi kepalanya.
"Benarkah? Sayangnya aku tidak mempercayaimu." Balas Charles seraya terkekeh.
"Kenapa? Kenapa ada 2 Charles?" Pungkasnya lagi.
"Sudahlah tidak perlu melakukan tipuan yang sama sepertiku! Aku tidak akan masuk di lubang yang sudah ku buat sendiri!" Imbuhnya lagi.
Seusai Charles mengatakan semua itu, tubuh Sharon ambruk begitu saja, dan hal tersebut membuat Charles membelalakkan kedua matanya. Tidak berfikir panjang lagi, ia langsung berlari menghampirinya.
"Hey! Aku tahu jika ini hanya sebuah tipuan. Aku sudah disini, sekarang buka matamu!" Serunya dengan nada yang tenang seraya memangku kepala Sharon.
Masih tidak membuka matanya, Charles mulai cemas, dan mengingat ucapan dokter Marvin. Sharon tidak bisa kelelahan terlebih dulu hingga kondisinya benar-benar pulih.
"Aku tidak tahu kau sungguhan atau hanya berpura-pura. Yang jelas, aku ingin kau membuka matamu sekarang! Kau menang, Sharon, dan aku kalah! Jadi, buka matamu, dan kau bebas melakukan apapun padaku!" Ungkapnya lagi, dan Charles mengangkat tubuh Sharon agar dapat memeluknya.
"Sepertinya tadi ada yang mengatakan *'Aku tidak akan masuk di lubang yang sudah ku buat sendiri*.' Tapi, aku rasa orang itu sungguh memasukinya." Gumamnya, dan Charles langsung melepaskan pelukannya agar mampu menatapnya.
"KAU! Sudah ku duga kau akan berpura-pura. A-aku m-mengatakan semua itu hanya ingin memancingmu, d-dan k-kau masuk ke dalam perangkapku." Ucap Charles, dan Sharon menatapnya dengan begitu intens.
"Benarkah begitu?" Balasnya yang menahan tawanya.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lain dengan judul => STORM <=
Thank you💙