
"Beri aku satu ciuman!" Sahut Charles seraya tersenyum jahil, dan mendengar itu membuat Sharon terperangah.
"Jangan bergurau denganku!"
"Apa aku terlihat tengah bergurau?"
"Jika begitu kau pasti tengah sakit." Sharon mendekatkan tubuhnya seraya menyentuh dahi Charles menggunakan punggung tangannya. "Berada di luar kota beberapa hari, apa yang sudah terjadi, dan kau lakukan disana? Sehingga kau menjadi seperti ini?" Lanjutnya seraya menggelengkan kepalanya.
"Apa aku terlihat tengah sakit?" Kini, Charles menarik lengan Sharon, hingga membuat gadis itu jatuh ke dalam pangkuannya. "Cepat berikan padaku!" Sambungnya lagi, dan wajah Sharon kembali memerah ketika wajah mereka hampir tidak memiliki jarak.
Wajahnya mulai memanas. Tidak melakukan permintaannya, Sharon lekas memeluknya, dan menyandarkan dagunya pada bahu pria tersebut. Hal itu ia lakukan untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bak tomat yang siap di petik.
"Aku tidak bisa melakukan itu." Gumamnya, dan Charles lekas mencium pipi gadis tersebut. Hal itu membuat Sharon menatapnya lekat.
"Itu sudah cukup untukku." Balasnya dengan nada yang begitu lembut. "Lalu, mau sampai kapan kau duduk di pangkuanku?" Godanya, dan tentu saja Sharon langsung berlalu dari sana.
Tidak sanggup menatapnya, dengan cepat ia pergi dari ruangan itu. Semakin hari, perlakuan Charles semakin membuat jantungnya berdebar begitu cepat, hingga tak jarang ia selalu menghindar darinya hanya untuk menyembunyikan itu dari Charles.
•••
Hari semakin siang. Baik Charles, Sharon maupun Key pun sudah berada di salah satu cafe untuk bertemu dengan client. Pertemuan kali ini tidak begitu resmi, karena mereka hanya ingin bersantai bersama, dan hal itu sungguh membuat Sharon sedikit bosan.
Pembicaraan mereka sungguh tidak di mengerti olehnya. Mereka bukan hanya membicarakan bisnis, namun membicarakan banyak hal yang di luar pekerjaan. Sudah hampir dua jam mereka membicarakan hal yang tidak begitu penting, dan ingin rasanya Sharon pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Maaf tuan Evans, dengan berat hati aku harus segera pergi. Karena aku ada rapat satu jam lagi." Sahut Charles dengan sebuah senyumannya.
"Ah begitu rupanya. Baiklah tidak apa-apa, terima kasih karena sudah menyempatkan untuk minum bersama denganku, terima kasih juga untuk nona Hwang.
"A-ah itu bukan masalah tuan Evans."
"Baiklah kami permisi." Ucap Charles yang lekas meninggalkan tempat itu.
"Jika tahu seperti ini, lebih aku tidak perlu ikut sejak awal." Dengusnya kesal ketika Charles telah pergi meninggalkannya.
Dalam perjalanan, Sharon terus memandangi Charles dengan seksama, entah kenapa sebuah senyuman terus terukir di bibir Charles pada saat itu, dan hal itu semakin mengundang tanya dalam benak Sharon.
"Bukankah kita tidak memiliki rapat lagi hari ini? Kenapa kau berbohong padanya?" Gumam Sharon yang masih menatapi pria di sisinya.
"Memang benar aku membohonginya. Tapi, aku lakukan itu demi dirimu. Bukankah kau sangat bosan berlama-lama di tempat itu? Karena itu aku terpaksa membohonginya agar bisa pergi bersama denganmu."
"Tapi, tidak dengan meninggalkan Key di jalan juga 'kan? Apa itu tidak terlalu kejam?" Gerutunya, dan penuturannya itu mampu mengundang tawa kecil dari Charles.
"Kau tenang saja, aku sudah memberikan ganti untuknya. Lagi pula aku ingin menghabiskan waktu denganmu siang ini, yang mana belum tentu kita mampu melakukannya lagi." Charles mengacak-ngacak puncak kepala Sharon.
"Kata-katamu itu, kenapa rasanya seolah-olah kau akan pergi meninggalkanku, ya?"
Kali ini, penuturan Sharon membuatnya diam tak bergeming. Ia menarik kembali tangannya, dan mencoba untuk tersenyum kecil. Dia tak bisa memberikan jawabannya sekarang, dan dia masih belum siap untuk mengungkapkannya.
Berada dalam salah satu restaurant, keduanya memesan beberapa makanan. Hingga tak lama kemudian, Sharon menerima dua pesan sekaligus dari orang yang berbeda, namun dengan isi yang hampir sama.
Sebuah senyuman terukir di bibirnya, dan Charles yang merasa penasaran pun langsung menarik ponsel miliknya. Ia terkejut ketika melihat isi pesan tersebut, namun dia pun sedikit terkekeh setelahnya.
"Akhirnya dia berani menyatakan perasaannya pada Alice." Tutur Charles yang masih terkekeh. "Dan satu pesan lagi dari..." Lanjutnya yang masih merasa penasaran.
"Dia adalah Natasha Aurora. Dia gadis yang baik, dan jika kalian bertemu, mungkin kalian bisa berteman baik. Dia memiliki beberapa kesamaan denganmu, Sharon." -Kent
"Tampaknya dia belum bisa melupakanmu. Aku harap dia tidak menjadikan gadis itu sebagai pelampiasan." Gerutu Charles.
"Tidak akan. Justru sebaliknya, gadis itu yang akan membantunya agar bisa melupakanku." Sahutnya seraya tersenyum, dan masih memandangi foto Natasha yang di kirimkan oleh Kent melalui pesannya.
Bersambung ...