My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 122



“Jika iya memang kenapa? Hm.” Charles segera memalingkan wajahnya bersamaan dengan menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Melihat hal itu membuat Sharon tertawa kecil.


Setelah mendengar tawanya tentu saja Charles langsung kembali menolehnya, dan di waktu yang bersamaan, Sharon langsung membungkam bibirnya. Namun, ketika Charles kembali memalingkan wajanya, tawa Sharon kembali pecah.


Kesal karena di tertawai, Charles segera berdiri, dan berjalan meninggalkannya. Melihatnya pergi bukannya membujuk, justru tawanya semakin menjadi. Namun, ketika menyadari langkah Charles semakin jauh, Sharon langsung berjalan mengikutinya.


Dalam langkahnya, ia masih tampak menahan tawanya. Menyadari jika di ikuti, Charles semakin mempercepat langkahnya, ia bahkan terlihat menghentakkan kakinya di atas pasir tersebut. Karena sudah merasa lelah, dan tak mampu menyamainya, Sharon memutuskan untuk menghentikan langkahnya.


Charles menoleh ke belakang, dan ia semakin kesal saat melihat Sharon sudah tak lagi mengejarnya. Sharon justru terlihat asyik dengan kerang yang berada dalam genggamannya, dan hal tersebut membuat Charles mengacak-ngacak letak rambutnya.


“Kau menyebalkan, aku ini sedang marah. Bukankah seharusnya kau itu mengejarku? Bukankah seharusnya kau merayuku agar tidak marah lagi? Tapi, apa yang kau lakukan? Kau justru bermain dengan kerang itu.” Charles merengut kesal yang entah kapan ia datang, dan Sharon hanya menatapnya. “Kenapa kau diam saja sekarang?”


“Bagaimana aku mau bicara? Jika kau saja tidak memberiku kesempatan untuk membuka suara.” Kini, Sharon menolehkan pandangannya ke arah lain.


“Apa yang kau lihat? Aku ada di hadapanmu, dan kau menoleh ke tempat lain.” Gerutunya seraya memintanya agar kembali menatapnya. “Aku masih marah padamu, cepat rayu aku!” Pintanya lagi.


“Kau? Marah padaku?” Serunya, dan Charles menganggukkan kepalanya pelan. “Kau yakin?” Imbuhnya lagi.


“Yakin, aku sungguh marah, sangat marah.” Imbuhnya lagi, dan kini Sharon menyilangkan kedua tangannya seraya menatapnya.


“Memangnya kau bisa marah padaku?” Mendapat pertanyaan itu tentu saja membuat Charles menganggukkan kepalanya. “Benarkah begitu?” Tuturnya lagi.


“Tidak benar. Aku sungguh tidak bisa marah padamu. Baiklah kau menang, dan aku kalah.” Rengeknya menahan kesal, dan Sharon tersenyum mendengar jawaban darinya, kemudian ia memeluknya. “Aku mencintaimu.” Tutur Charles.


Ketika hari sudah malam, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Seperti biasa, saat hendak memasuki rumah, Sharon merangkul lengan suaminya, seolah memberi penegasan pada pegawai disana, jika Charles adalah miliknya.


Hal tersebut lagi-lagi membuat Charles tersenyum, kemudian ia mengusap puncak kepala wanita yang berada di sisinya tersebut. Namun, tampaknya rumah terasa begitu tenang, saat ini hanya Raeya yang menyambut keduanya, ia mengatakan jika makan malam telah siap di hidangkan.


Keduanya segera menuju ruang makan, dan menikmati makanan disana. Tampak terlihat Erina disana, namun ia terlihat tak seperti biasanya, ia berdiam diri di dapur, menyelesaikan pekerjaan lainnya. Melihat hal tersebut tentu membuat Sharon lega, namun berbeda dengan Raeya, ia tampak khawatir melihat adiknya.


“Apa yang terjadi padamu?” Raeya menyahut, dan hal itu membuat Erina tersentak melihat kedatangannya. “Kau melamun?” Serunya lagi.


“Apa kau yakin dengan keputusanmu?”


“Aku yakin kak, karena jika aku terus berada disini, aku tidak akan bisa mengubur perasaanku. Aku hanya takut tidak bisa menahan diri yang pada akhirnya aku membuat orang lain celaka.”


“Baiklah jika keputusanmu sudah bulat. Aku akan bicarakan ini pada nona Sharon nanti.”


Di waktu yang bersamaan, Charlie sudah tiba di bandara, dia telah kembali di tanah kelahirannya. Seperti yang telah ia rencanakan, ia tidak kembali seorang diri, namun ia bersama dengan seseorang yang tidak lain, dan tidak bukan adalah Gwen.


Kedatangannya ke kota Zurich sungguh membuat Gwen merasa gelisah. Rasa takut, dan tidak percaya dirinya berkecamuk menjadi satu di dalam fikirannya. Perasaan negatifnya terus menjalar, Charlie yang menyadari hal itu pun segera menggenggam erat tangannya, seolah berkata ‘jika semua akan baik-baik saja.’


Tidak menunggu lagi, Charlie segera kembali menuju rumahnya, dan membawa Gwen untuk menemui ayahnya. Meski dirinya merasa yakin bahwa ayahnya akan mampu menerimanya, tetap saja ada terselip rasa khawatir dari dalam dirinya.


Setibanya mereka di kediaman Austin, semua penjaga begitu terpana ketika melihat wanita yang berdiri di sisi Charlie. Mereka juga sangat terkejut ketika melihat tuannya berdampingan dengan seorang wanita cantik, karena bagi mereka, Charlie adalah pembisnis keras, sehingga sangat sulit untuk memiliki hubungan asmara.


"Apakah ayah di rumah?" Tuturnya pada salah satu pelayan rumahnya.


"Tuan Bill berada di ruang bacanya."


"Baiklah, aku akan menemuinya. Sementara itu, siapkan beberapa makanan kecil untuknya. Jangan sampai ada kandungan strawberry, karena dia memiliki alergi terhadap buah itu." Pinta Charlie. "Tunggu di sini, aku akan segera kembali." Lanjutnya lagi seraya menggenggam kedua bahu Gwen.


Charlie berjalan menuju ruang baca milik ayahnya. Jantungnya berdebar tak karuan, kemudian ia berpikir, apakah Charles merasakan hal yang sama sepertinya? Namun, tampaknya tidak, karena keduanya berbeda kisah. Sejak awal, Charles sudah banyak cerita soal Sharon, berbeda dengan dirinya yang benar-benar menyembunyikan hubungannya.


Ketika berada di depan ruangan tersebut, Charlie menelan air liurnya yang kemudian di lanjut memegang knop pintu agar bisa masuk ke dalam. Saat dirinya berada di dalam, secara bersamaan Bill menutup bukunya, dan menatap ke arah putranya.


"Kau sudah kembali? Kenapa tidak memberitahuku?" Bill menyahut. "Ada apa? Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?" Serunya lagi, dan mendengar itu membuat Charlie menenggakkan kepalanya agar mampu menatap ayahnya.


"Bagaimana ayah tahu?" Pungkasnya dengan penuh tanda tanya.


Bersambung ...