
“Karena aku sudah datang, bagaimana jika aku langsung menjelaskannya saja?” Gwen menyeru.
“Sebelum itu, ayo cari tempat untuk menghangatkan tubuhmu dulu.” Charlie langsung mengajaknya untuk meninggalkan tempat tersebut.
Setibanya mereka di salah satu cafe, Charlie langsung memesan 2 cangkir coklat hangat. Sesekali Gwen menyeruputnya, namun Charlie memandangnya tanpa bekedip, dan hal itu membuatnya menghela nafas, kemudian ia meletakkan kembali gelas yang berada dalam genggamannya.
“Saat itu, aku memang benar mengaguminya, dan benar jika aku menyukainya. Aku rasa kau tahu akan hal itu. Tapi, percayalah jika rasa itu bukan perasaan untuk memilikinya.”
“Benarkah? Tapi dari yang ku dengar, kau mengatakan jika kau begitu ingin memilikinya? Charles tidak pernah berkata bohong padaku. Jadi, mana yang harus ku percaya?”
“Yah aku akui jika aku memang mengatakan itu. Kata-kata itu terlontar begitu saja, dan aku melihat bayang-bayangmu di wajahnya. Kalian sungguh mirip, dan aku berharap jika kaulah yang berada di tempat itu. Ketika ku perhatikan kembali, ternyata itu bukanlah dirimu. Percayalah padaku!” Pintanya, dan Charlie menghela nafasnya.
Charlie diam sejenak, dan Gwen hanya pasrah. Apapun keputusan yang di ambil oleh Charlie, dia akan menerimanya. Jika dia tidak ingin meneruskan hubungan tersebut, maka Gwen akan mundur, lagi pula itu memang kesalahannya.
20 menit telah berlalu, dan Charlie masih belum mengatakan apapun padanya. Meski pasrah, tetap saja ada rasa gusar pada diri Gwen. Bagaimana tidak? Hubungan mereka masih belum terbilang lama, pertemuan mereka pun hanya sebuah kebetulan yang sungguh memalukan.
Di siang yang begitu terik. Charlie baru saja tiba di Paris untuk melakukan pertemuan dengan beberapa clientnya. Ketika ia berada di sebuah hotel, ia lekas membuka koper yang ia bawa sejak tadi untuk mengambil pakaian ganti. Saat membukanya, ia begitu terkejut dengan isi koper tersebut.
"Astaga, kenapa isi koperku berubah dengan pakaian wanita?" Gerutunya kebingungan, dan dengan cepat, ia menutupnya kembali.
Charlie begitu depresi, ia berjalan kesana kemari, memikirkan kemana koper miliknya, dan siapa pemilik koper itu? Tidak ada informasi apapun di dalamnya. Menurutnya, dalam koper itu, hanyalah isi yang menyeramkan.
"Bagaimana ini? Di dalam koper itu ada beberapa berkas yang harus di bawa dalam meeting besok." Ungkapnya yang semakin frustasi, karena jika ia tidak membawa berkas tersebut, maka pertemuan akan sulit di selesaikan.
Hingga tak lama kemudian, ada suara ketukan dari pintu kamarnya. Dengan langkah yang lemas ia segera membukakan pintu tersebut, ternyata hanya seorang pelayan hotel, namun wanita itu tidak terlihat seperti apa yang di bayangannya.
"C-Charles A-Austin?" Imbuhnya gelagapan. Wajahnya pun tampak memerah ketika melihatnya.
"Kenapa orang-orang hanya mengenalnya saja? Bukankah aku ini tidak kalah tampan darinya?" Gerutunya pelan. "Maaf nona, kau salah menduga. Charles memang saudaraku, namun aku adalah Charlie Austin. Jika kau datang hanya untuk membuat keributan, aku tidak akan melayanimu." Pungkasnya, dan hendak menutup kembali pintunya.
"Apa kau bilang? Tidak salah memilih? Memang kau siapa? Apa kau begitu mengenal kami? Sehingga dengan mudahnya kau menilai kami." Tuturnya dengan kesal.
"Kami? Aku hanya mengetahui Charles, bukan kau. Aku begitu menyukainya, dia adalah idolaku. Aku kemari untuk mengambil koper milikku, dan ini koper milikmu!"
"Astaga koperku, kau telah kembali? Aku hampir gila karena kehilanganmu." Ungkapnya seraya memeluk koper miliknya.
Melihat sikap Charlie yang berlebihan membuat wanita itu sedikit terkekeh. Dengan cepat, Charlie masuk ke dalam untuk menyimpan koper miliknya.
Hampir 30 menit wanita itu menunggunya, namun Charlie tampak tak kembali keluar. Hingga ia pun menggedor pintu itu lagi, dan Charlie keluar dengan kesal.
"Pria bodoh! Aku datang kemari untuk mengambil koperku, dan kau meninggalkanku di luar tanpa mengembalikannya? Kau fikir, aku datang hanya untuk membawa koper milikmu itu?"
"Ha Ha Ha." Charlie tertawa puas melihat ekspresi wanita di hadapannya, dan ia kembali mengambil apa yang di inginkan olehnya. "Ini milikmu. Isi kopermu sangatlah mengerikan, dan aku sungguh menyesal karena telah membukanya."
"Apa maksudmu? Aku hanya membawa beberapa pakaian, dan..." Wanita itu terdiam sejenak, dan membelalakkan matanya di waktu yang bersamaan. "... underwear milikku. Kau melihatnya, hah?" Tuturnya lagi.
"Itulah barang mengerikan yang ku maksud."
Wajahnya begitu memerah ketika tahu jika Charlie telah melihat isi kopernya. Itu sungguh hal yang memalukan baginya, dan Charlie tampak tersenyum melihat wanita di hadapannya menundukkan kepalanya.
"Terima kasih karena telah membawa kembali koperku. Kau sudah mengetahui namaku, bolehkah aku mengetahui namamu?" Charlie menyodorkan tangannya, dan wanita itu kembali mengangkat kepalanya.
"Gwen. Gwen Raven." Pungkasnya.
Bersambung ...