My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 72



Masih tak menjawab, Charles langsung menarik pergelangan tangan Sharon untuk membawanya menuju parkiran. Mengikuti keinginannya sungguh membuatnya bertanya-tanya, sebenarnya kemana pria itu akan membawanya?


Hanya membutuhkan waktu 30 menit, mereka pun tiba di tempat yang ingin di tuju oleh Charles. Tempat itu, Sharon sangat tahu mengenai tempat tersebut, dan itu merupakan tempat yang sangat ingin ia kunjungi, kejadian ini sungguh kebetulan.


Kemudian, mereka pun berjalan menaiki gunung tersebut, wajah Sharon pun terlihat begitu sangat ceria, dan Charles sangat puas dengan apa yang di lihatnya. Meski tempat itu begitu indah ketika di lihat dari puncak, tetap saja itu akan sangat melelahkan untuknya.


“Kenapa? Apa kau sudah menyerah?” Sahut Charles seraya melirik ke arah Sharon yang terlihat tengah membungkuk menghela nafasnya.


“Mana mungkin aku menyerah? Kau tahu? Tempat ini adalah tempat yang sangat ingin ku kunjungi, itu artinya aku harus berjuang.” Sharon kembali berdiri tegak meski keringat membasahi keningnya.


“Ucapanmu tidak selaras dengan hatimu.” Charles menyeru, dan langsung menggendong tubuh gadis di sisinya.


"A-apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!"


Mengabaikan ucapannya, Charles tetap menggendongnya, dan membawanya berjalan dengan menaiki anak tangga yang lain. Banyak mata yang menatap mereka, dan Sharon sungguh malu akan hal tersebut, sedangkan Charles tak memperdulikannya sama sekali.


Setibanya di puncak, pria itu menurunkan gadis yang berada dalam gendongannya, dan gadis tersebut langsung berlari ke arah depan, ke arah pagar pembatas disana.


"Ternyata memang benar kata orang, kota Zurich akan lebih indah ketika di lihat dari uetliberg. Tapi..."


"... apa?" Charles langsung memotong ucapan gadis itu. Merasa kesal, Sharon langsung menyikut lengan pria di sisinya.


"Kenapa kau selalu menyela ucapanku yang belum selesai ku utarakan, hah?" Sharon membalikkan tubuhnya seraya menyilangkan kedua tangannya.


"Ha Ha Ha. Maafkan aku, aku hanya ingin cepat mengetahui kekurangannya, dengan begitu bisa memuaskanmu." Gumamnya yang segera mendekapnya dari belakang. "Jadi, apa yang kurang?" Imbuhnya lagi.


"Semua ini pasti akan lebih indah jika di lihat ketika malam hari."


"Jika begitu kita kembali lagi nanti malam."


"Tidak. Jangan hari ini, kita akan kembali lagi lain waktu. Sebaiknya persiapkan tempat yang lain saja. Lagi pula, bukankah waktu kita masih panjang?" Kini Sharon berbalik menatapnya.


"Bukan kita Sharon, tapi hanya kau. Bahkan aku tidak tahu bisa bertahan sampai kapan." Charles membatin dengan rasa khawatirnya, meski begitu ia tetap membagikan senyuman ke arah gadis di hadapannya.


Kemudian, Sharon melangkahkan kakinya ke arah teropong yang ada disana, disana ia dapat menyaksikan betapa besarnya kota yang ia tinggali saat ini.


Hari sudah semakin siang, dan matahari pun sudah sangat terik. Sharon lekas memundurkan langkahnya, dan duduk di sisi Charles, ia menyandarkan kepalanya di bahu Charles seraya mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan wajahnya.


"Panas sekali." Racauannya itu membuat Charles terkekeh seraya menyeka keringat yang ada di dahi Sharon.


"Ayo turun! Kita makan siang dulu, setelah itu kita kunjungi satu tempat terakhir."


"Baiklah." Sahutnya, dan tiba-tiba pria itu langsung membungkukkan tubuhnya. "K-kenapa? Apa lagi yang mau kau lakukan?"


"Menggendongmu, apa lagi?"


"Aku bisa berjalan sendiri, ayo." Dengan cepat Sharon berdiri, dan merangkul lengan Charles.


•••


Setelah makan siang, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Entah kemana lagi Charles akan membawanya pergi, Sharon hanya diam mengikutinya. Merasa sejuk terkena angin di jalan, tanpa sadar matanya pun terpejam perlahan, dan Charles yang menyadari hal tersebut pun langsung menutup atap mobilnya.


Untunglah jalanan sedikit senggang, hingga mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba disana. Meski tidak ramai dalam perjalanan, nyatanya tempat yang mereka kunjungi sangatlah ramai. Lalu, Charles segera membangunkan gadis di sisinya.


"Sekarang kita dimana?" Gumam Sharon dengan nada suara yang sedikit parau.


"Sungai Limmat." Balas Charles yang tengah membuka sabuk pengaman mobilnya. Setelah itu, ia segera keluar, dan membukakan pintu untuk Sharon.


"Tapi, aku masih sedikit mengantuk. Bisakah beri aku waktu 30 menit lagi?" Sharon memiringkan tubuhnya ke arah bangku pengemudi seraya memejamkan kembali matanya.


"Tidak bisa. Waktu kita terbatas."


"Terbatas? Apanya yang terbatas? Aku berjanji hanya 30 menit saja, tidak lebih. Lagi pula dalam 30 menit, letak sungai limmat tidak akan berpindah tempat atau pun mengering bukan?"


"Aku beri kau pilihan. Turun atau ku gendong?"


Bersambung ...