My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 124



"Tentu saja. Karena hadiah yang ku inginkan akan berada di sini untuk beberapa waktu." Charles mengusap perut rata Sharon.


Mengerti akan ucapannya membuat wajah Sharon merah merona, ia bahkan tak berani untuk menatap Charles kala itu. Sedangkan Charles hanya tersenyum lembut ke arahnya, lalu ia menggerakkan jari telunjuknya ke arah dagu Sharon agar wanita di hadapannya dapat menatapnya.


Dengan begitu, Charles langsung mendekatkan wajahnya ke arah Sharon. Deru nafas Charles semakin terasa di kulit wajah Sharon, hingga hal tersebut membuatnya memejamkan matanya.


Tidak peduli dengan yang ia ucapkan sebelumnya, melihat Sharon tak memberontak, ia menyimpulkan bahwa wanita di hadapannya memberikan izin untuknya berbuat lebih.


•••


Matahari pagi telah kembali, sinarnya pun telah masuk ke kamar Sharon, dan Charles melalui celah-celah yang ada di villanya. Secara perlahan, Sharon membuka matanya, ketika mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya semalam membuat wajahnya kembali memerah, hingga ia pun menarik selimutnya agar menutupi wajahnya.


Kemudian, ia begitu terkejut ketika sebuah tangan kembali melingkar di tubuhnya, dengan pelan ia menurunkan selimut itu dari wajahnya, dan yah dia melupakan satu hal, ia lupa jika Charles masih berada di sisinya.


"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa sejak tadi tidak bisa diam? Kau menginginkannya lagi?" Celetuk Charles dengan mata yang masih terpejam, dan mendengar itu membuat Sharon memunggunginya.


Sungguh, ia masih merasa malu padanya. Bahkan wajahnya semakin merah merekah, namun terlihat jelas jika ia begitu bahagia. Charles membuka matanya, dan kembali mendekatkan tubuhnya ke arah Sharon, ia memeluknya, lalu mencium kepala wanitanya.


"Aku mencintaimu, Sharon, dan perasaanku tidak akan pernah berubah sampai kapan pun itu." Gumamnya, dan Sharon langsung membalikkan tubuhnya serta membenamkan wajahnya pada dada bidang Charles, dengan begitu pria tersebut tidak akan mampu melihat wajahnya.


"Begitu pun denganku. Tidak pernah terbayangkan olehku jika kau sampai meninggalkanku."


"Aku tidak akan melakukan hal itu padamu, bahkan tidak terbesit sedikit pun niat untukku meninggalkanmu. Kau adalah duniaku, jadi bagaimana mungkin aku bisa pergi?" Seru Charles yang mengeratkan pelukannya.


Sejak tadi ponsel Charles terus berdering, dan hal itu membuatnya begitu kesal. Hal itu sungguh merusak suasana paginya, kemudian ia menyambarnya tanpa membalikkan tubuhnya. Sedangkan Sharon, tampaknya ia kembali terlelap dalam dekapan suaminya.


"Kak, aku telah kembali ke Zurich sejak kemarin." Serunya dengan begitu lantamg.


"Bodoh! Apa kau menelfonku sepagi ini hanya untuk mengatakan itu? Kau tahu? Kau sungguh mengganggu pagiku, Charlie!" Rutuk Charles dengan nada kesalnya, dan hal tersebut membuat Sharon kembali terbangun hingga menatapnya.


"Siapa yang menghubungimu? Kenapa kau begitu kesal?" Imbuh Sharon.


"Pantas saja kau begitu marah, ternyata kau tengah bersamanya? Sangat nyaman bukan menghabiskan waktu sepanjang hari bersama dengan seseorang yang kau cintai." Ejek Charlie.


"Berisik! Jika tidak ada lagi yang kau ucapkan, aku akan matikan sekarang juga!" Ujar Charles yang terdengar ketus.


"Hanya untuk mengatakan hal itu, bukankah kau bisa mengirimiku pesan singkat? Baiklah, aku akan datang, sekarang akan aku tutup. Sampai jumpa!" Seperti yang di katakan olehnya, Charles langsung mematikannya secara sepihak. Sedangkan Charlie terkekeh menanggapi sikap kakaknya.


Tidak memperdulikan kekesalan Charles, lagi-lagi Sharon terlelap dengan pulas, dan hal itu membuat Charles menyunggingkan senyumnya. Lalu, ia mengusap puncak kepala Sharon seraya mencium lembut keningnya. Setelah itu, ia memutuskan untuk bangun.


Seusainya ia membersihkan tubuhnya, ia keluar dari kamarnya untuk mencari sarapan. Untunglah hari itu adalah hari liburnya, dengan begitu ia bisa bersantai ria di rumah. Raeya menyiapkan segelas kopi serta rosti, dan Charles menyantapnya.


Ketika hendak berjalan ke arah ruang tengah, Raeya, dan Erina menahan langkah kakinya. Hal itu tentu saja membuat Charles kembali membalikkan tubuhnya, agar mampu melihat keduanya.


"Tuan, aku ingin mengundurkan diri." Gumam Erina to the point.


"Apa yang terjadi? Kenapa begitu mendadak?" Tutur Charles.


"Adikku ingin mencari pengalaman lain di luar tuan, lagi pula disini sudah ada aku, dan bibi Rey yang mengurus villa ini." Sambar Raeya yang mencoba meyakinkan Charles.


"Baiklah jika memang itu keputusanmu. Lagi pula kau masih muda, dan sudah sepantasnya kau mencari pengalaman yang lebih dari ini. Katakan saja padaku jika kau hendak meninggalkan villa ini." Ucap Charles dengan sebuah senyuman khasnya.


"Terima kasih, tuan." Sahut Raeya, dan Erina bersamaan.


Setelah itu, Charles segera menuju ruang tengah untuk menonton acara tv. Hal itu sungguh membosankan, dan bingung akan melakukan apa, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Melihat Sharon yang masih terlelap, ia hanya duduk di tepi ranjang seraya memainkan beberapa game yang berada dalam ponselnya. Namun, hal itu juga tampak membosankan, lalu ia kembali menyimpannya, dan menurutnya ada yang menarik untuk ia mainkan.


Jari telunjuknya memainkan pipi Sharon, mencolek-coleknya, dan sesekali ia mencubitnya ketika merasa gemas. Merasakan hal tersebut tentu saja membuat Sharon membuka matanya karena merasa kesakitan, namun Charles hanya terkekeh menanggapinya.


"Maafkan aku, aku sungguh bosan." Gerutu Charles.


"Baiklah, jika begitu aku akan pergi mandi. Sebelum itu, balikkan tubuhmu atau tutup kedua matamu!" Pintanya, dan hal itu sungguh tidak di gubris oleh Charles. "Kenapa kau diam saja? Tidakkah kau mendengarku?" Ucapnya lagi.


"Memang apalagi yang ingin kau tutupi dariku? Apa yang harusnya tidak ku lihat, aku sudah melihatnya. Apa kau lupa?" Charles kembali menyeringai, dan lagi-lagi Sharon merasa sangat malu ketika harus mendengarnya.


Bersambung ...