My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 40



30 menit sudah mereka disana dengan kebungkaman. Charles begitu gugup untuk mengatakan semuanya, dan Sharon bingung harus mulai dari mana. Kecanggungan ini pertama kalinya mereka rasakan.


"Haruskah kau meminta bantuan ayahmu hanya untuk bicara denganku?" Sharon mencoba membuka pembicaraan seraya memainkan bibir gelas yang berada di hadapannya.


"Bukan seperti, tapi terima kasih karena telah menolong ayahku tempo hari. Apa kepalamu masih sakit?"


"Sudah sedikit baikkan. Jadi, apa yang ingin kau jelaskan padaku? Kenapa kau membohongiku?"


"Maaf. Aku melakukan semua sandiwara itu bukan karena ingin mempermainkanmu, tidak sama sekali. Kau ingat saat awal-awal kedatanganku di kantor? Aku menggunakan pakaian seperti hari ini, kemeja, jas lengkap dengan dasi, dan kau justru mentertawakanku."


"Apa yang ingin kau lakukan dengan pakaian seperti itu? Apa dengan berpakaian seperti ini, orang-orang akan menganggapmu sebagai orang besar?" Ungkapnya yang masih menahan tawa. "Sudah cepat ganti pakaianmu! Di loker masih tersisa pakaian untukmu." (Eps 4)


Sharon mencoba mengingat kembali, dan benar, pada saat itu dirinya memang telah mentertawakannya.


"Kemudian kau mengatakan padaku, jika kau tidak menyukai orang besar seperti kami. Karena ingin mengenalmu, aku menyembunyikan identitasku. Jika kau sampai tahu mengenai identitasku, aku takut kau tidak akan mau berteman denganku pada saat itu. Jadi, maafkan aku."


Mendengar semua penjelasan Charles membuat Sharon meremas ujung cardigan yang tengah ia kenakan saat ini. Wajahnya masih tertunduk saat itu, ia belum berani untuk menatap wajahnya.


"Seharusnya aku lah yang meminta maaf padamu. Karena keegoisanku, karena fikiran burukku, karena aku hubungan kita hancur. Beberapa hari yang lalu, Alice memintaku untuk meminta maaf padamu, dan memintaku untuk memberimu kesempatan. Namun, ketika aku ingin mengatakannya, saat di lobby, kau, dan Maisha ..."


"... kami tidak ada hubungan. Dia bahkan sudah meninggalkanku saat ini, ayah juga tidak menyukainya. Lalu, apa kau mau kembali padaku?" Charles menatapnya dengan lekat.


"Aku..." Mendengar potongan suara Sharon sungguh membuat Charles merasa gugup. Jantungnya berdebar ketika menunggu jawaban itu keluar. "... mau." Kalimat terakhir telah di ucapkan, dan Charles langsung bangkit dari tempat duduknya untuk memeluk gadis itu.


"Itu artinya kau juga menerima lamaranku bukan?" Wajah Charles terlihat semakin sumringah.


"Bukankah aku juga sudah mengatakannya padamu nona Hwang? Apa kau melupakannya? Aku sungguh tidak main-main dengan ucapanku tadi. Jadi, apa kau bersedia menerima lamaran putraku?" Bill datang secara tiba-tiba, dan membuat Sharon mendorong pelan tubuh Charles agar melepaskan pelukannya.


"Ayah, kenapa kau kembali? Ayah sungguh merusak momenku bersamanya." Gerutu Charles, dan saat itu juga ia mendapat satu jitakkan dari Sharon.


"Ha Ha Ha. Baiklah jika begitu aku pergi saja. Nak, kau harus segera memberi putraku jawaban."


Bill pergi meninggalkan mereka. Setelah itu, Charles mengajaknya keluar untuk berjalan-jalan santai. Jarak tempat mereka dengan Zurichhorn tidaklah jauh, dan keduanya berjalan ke sana seraya menikmati air sungai yang terlihat begitu damai.


Tangan Charles meraih tangan Sharon, kemudian sebelah tangannya langsung menggenggam lengan Charles. Keduanya merasa bahagia, seakan semua kembali seperti semula.


"Mengenai lamaran tadi, aku ..."


"... hey gadis bodoh, kenapa kau senang sekali menggantungkan setiap ucapanmu itu, hah?" Sambar Charles yang langsung mencubit kedua pipi Sharon. "Cepat katakan! Ingat! Aku hanya ingin mendengar 'iya' dari bibirmu. Karena jika kau sampai menjawab 'tidak' maka aku akan lompat ke sungai."


"Lompat saja jika kau berani." Seru Sharon seraya melepaskan tangan Charles dari kedua pipinya.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan." Kemudian Charles pun hendak memanjat pagar pembatas.


Sebenarnya dalam sekali lompatan tidak masalah untuk Charles, karena pagar tersebut terlihat rendah. Meski begitu, Sharon yang menyaksikan hal tersebut lekas menarik Charles, dan memeluknya.


"Jangan lakukan itu. Aku... aku... menerimanya." Balas Sharon yang berada dalam pelukan pria itu, dan ia langsung menenggelamkan wajahnya dalam pelukan tersebut. Lalu, Charles ingin sekali menatap gadisnya. "Tidak, jangan lakukan itu. Aku malu." Lanjutnya lagi yang disertai tawa kecil dari Charles, dan ia langsung memeluknya erat.


Bersambung ...